Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Budaya

Buka Pagelaran Kesenian Daerah di Pontianak, Bahasan Dorong Format Festival Berbasis Prestasi

Achmad Fatoni
Achmad Fatoni
Kamis, 1 Oktober 2026 · 08:282 menit baca
Buka Pagelaran Kesenian Daerah di Pontianak, Bahasan Dorong Format Festival Berbasis Prestasi
Wawako Pontianak Bahasan buka Pagelaran Kesenian Daerah 2026 di Rumah Melayu; dorong format festival seni berbasis kompetisi masuk agenda Hari Jadi Kota. (Dok. Prokopim Pontianak)

Pemerintah Kota Pontianak mendorong penyelenggaraan Pagelaran Kesenian Daerah (PKD) ke depan dikembangkan ke dalam format kompetisi dan festival berjenjang demi menumbuhkan motivasi prestasi pelajar di bidang seni budaya warisan leluhur.

Ajang tahunan yang berlangsung pada Rabu (30/9/2026) di Rumah Melayu Kalimantan Barat tersebut diikuti oleh delegasi dari 12 sekolah dan sembilan sanggar seni di wilayah Kota Pontianak sebagai wadah pembentukan karakter budi pekerti serta penguatan kemandirian generasi muda.

Fungsi strategis pendidikan seni terhadap pembangunan kepribadian peserta didik dipaparkan oleh Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, saat membuka agenda kegiatan tersebut. Manfaat pelestarian tradisi lokal diuraikan dalam keterangannya.

Luruskan Wacana IKN, Bupati Kukar Tegaskan Erau Adat Kutai Tetap Digelar di Tenggarong
Baca Juga

Luruskan Wacana IKN, Bupati Kukar Tegaskan Erau Adat Kutai Tetap Digelar di Tenggarong

“Melalui pagelaran kesenian daerah ini, berbagai potensi seni dan budaya yang ada di Kota Pontianak dapat digali dan dilestarikan, sekaligus diapresiasi oleh anak didik sebagai media pembentukan karakter,” ujarnya ketika membuka kegiatan di Rumah Melayu Kalbar, Rabu, (30/9/2026).

Tanggung jawab penjagaan kebudayaan daerah dinilai membutuhkan sinergi berkelanjutan dari unsur birokrasi, institusi pendidikan formal, pengelola sanggar swasta, hingga masyarakat umum agar generasi muda terhindar dari pergaulan negatif di luar sekolah. Penyediaan panggung penyaluran kreativitas siswa ditekankan dalam penjelasannya.

“Dengan adanya ruang seperti ini, siswa memiliki tempat untuk berkarya, menyalurkan minat, dan menunjukkan kemampuan mereka,” ujarnya.

Kendati mengapresiasi penampilan para delegasi, evaluasi pelaksanaan disoroti agar perhelatan serupa tidak hanya berhenti pada sebatas panggung pertunjukan rutin tanpa tolok ukur capaian prestasi. Rencana integrasi unsur kompetisi demi mendongkrak kebanggaan siswa dipaparkan dalam keterangannya.

Buka RAC IX INSA, Wawako Bahasan Minta Hambatan Logistik dan Pelayaran Dibahas Terbuka
Baca Juga

Buka RAC IX INSA, Wawako Bahasan Minta Hambatan Logistik dan Pelayaran Dibahas Terbuka

“Kalau hanya tampil tanpa ada prestasi yang bisa diraih, motivasinya tentu kurang. Tahun depan harus dicari solusi agar ada festival atau perlombaan sehingga anak-anak punya prestasi yang bisa dibanggakan,” jelasnya.

Pengembangan skala panggung kesenian diusulkan untuk dilebur masuk ke dalam agenda perayaan Hari Jadi Kota Pontianak mendatang, diiringi komitmen intervensi alokasi pendanaan daerah guna menjamin keberlanjutan program pelestarian adat. Kekhawatiran terhadap kepunahan budaya akibat minimnya kehadiran negara dibeberkan dalam penjelasannya.

“Kehadiran pemerintah dalam menjaga kesenian dan kebudayaan daerah memang sudah menjadi keharusan. Kalau tidak kita rawat, saya khawatir ke depan bisa saja budaya daerah ini semakin hilang,” katanya.

Optimalisasi pagelaran seni tradisional ini diarahkan tidak sekadar menjadi tameng pertahanan nilai budaya lokal, melainkan juga wadah pencetakan talenta baru generasi muda yang kompetitif. Target pelestarian tradisi dan kemunculan bakat pelajar dirangkum sebagai penutup sambutannya.

“Harapannya, budaya tetap hidup, generasi muda semakin mencintainya, dan dari sini juga lahir prestasi-prestasi baru,” pungkasnya.

(Tony)