Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Inovasi

Inovasi Mahasiswa Undip Atasi Biofouling Kapal Tanpa Bahan Kimia di Kontes Kapal Indonesia 2026

Achmad Fatoni
Achmad Fatoni
Selasa, 22 September 2026 · 15:002 menit baca
Inovasi Mahasiswa Undip Atasi Biofouling Kapal Tanpa Bahan Kimia di Kontes Kapal Indonesia 2026
Tim mahasiswa Teknik Perkapalan Undip bersama model kapal andalan mereka di ajang KKI. (Dok. Dikti Saintek)

Lima mahasiswa Teknik Perkapalan Universitas Diponegoro (Undip) yang tergabung dalam tim Ekalawya 1 sukses memaparkan gagasan inovatif dalam ajang Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2026.

Tampil pada kategori Inovasi Desain dan Konstruksi (IDK), mereka mengusung solusi untuk mengatasi permasalahan biofouling atau penempelan biota laut dan teritip pada lambung kapal tanpa menggunakan bahan kimia keras.

Pertumbuhan biofouling pada lambung kapal seringkali dianggap sepele, padahal kondisi tersebut dapat membuat laju kapal menjadi lebih berat, meningkatkan konsumsi bahan bakar, serta menambah emisi buang.

Untuk menjawab tantangan tersebut, ketua tim Ilham Jaya Candra bersama rekan-rekannya memanfaatkan metode pengaturan fluktuasi pH di sekitar lambung kapal melalui lapisan cat konduktif.

Pemkot Pontianak Kenalkan SI PATUH PASAR, Inovasi Digital untuk Transparansi dan Kemudahan Retribusi Pedagang
Baca Juga

Pemkot Pontianak Kenalkan SI PATUH PASAR, Inovasi Digital untuk Transparansi dan Kemudahan Retribusi Pedagang

Berdasarkan penjelasan Ilham, biofilm yang menjadi cikal bakal teritip ternyata tidak mampu bertahan di lingkungan dengan tingkat keasaman yang naik turun.

“Teritip dan biota laut yang menempel di lambung kapal mungkin tampak sepele. Namun, pertumbuhan biofouling tersebut dapat membuat kapal melaju lebih berat, meningkatkan konsumsi bahan bakar, sekaligus menambah emisi,” ujar Ilham menjelaskan latar belakang riset mereka.

Melalui uji laboratorium fisiologi, inovasi prototipe pelat berlapis cat konduktif ini terbukti mampu menekan pertumbuhan biofilm hingga 87 persen.

Metode serupa sebelumnya baru pernah diterapkan di luar negeri untuk struktur apung seperti platform lepas pantai atau pembangkit listrik tenaga gelombang, namun belum pernah diaplikasikan langsung pada lambung kapal.

Dalam proses perjalanannya, tim Ekalawya 1 harus melalui proses riset yang menuntut kolaborasi lintas disiplin ilmu. Sebagai mahasiswa perkapalan, mereka harus belajar mendalam ke Departemen Teknik Elektro untuk memicu fluktuasi pH secara elektris serta mendatangi laboratorium oseanografi untuk mempelajari kultur mikroalga.

Berbagai tantangan mulai dari kontaminasi sampel hingga kekeliruan bahan pengawet sempat mereka hadapi sebelum akhirnya hasil uji laboratorium rampung menjelang tenggat pengumpulan proposal.

Ke depan, Ilham dan tim berharap riset inovatif ini dapat dipatenkan serta menjadi landasan awal bagi pengembangan industri maritim dan perkapalan nasional. Menutup pemaparannya, Ilham juga berpesan agar generasi muda dan rekan-rekan mahasiswa dapat mengambil peran aktif dalam memajukan sektor kemaritiman Indonesia.

(Tony)