Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Tengah

Massa Aliansi Kalteng Melawan Gelar Demo Jilid IV, Desak Penanganan Karhutla Jadi Bencana Nasional

Achmad Fatoni
Achmad Fatoni
Jumat, 23 Oktober 2026 · 20:181 menit baca
Massa Aliansi Kalteng Melawan Gelar Demo Jilid IV, Desak Penanganan Karhutla Jadi Bencana Nasional
Aliansi Kalteng Melawan menggelar demo Jilid IV menuntut penanganan karhutla serius dan mendesak status bencana nasional di Palangka Raya. (Dok. Dirmantio)

Aliansi Kalteng Melawan menggelar aksi unjuk rasa Jilid IV di depan Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, Palangka Raya, Jumat, (23/10/2026). Ratusan pengunjuk rasa mendesak pemerintah daerah agar mengambil langkah konkret dan serius dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta menetapkannya sebagai bencana nasional di tengah pekatnya kepungan kabut asap.

Pernyataan tegas mengenai desakan peningkatan status penanganan bencana darurat tersebut disampaikan oleh Sekretaris Lapangan Aksi, Yuyun Sanjaya.

“Kami meminta Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyatakan sikap bahwa mereka tidak mampu memitigasi bencana ini, sehingga persoalan karhutla dapat diangkat menjadi bencana nasional,” tegas Yuyun.

(Dok. Akhmad)

Tuntutan perlindungan hak-hak masyarakat adat dalam menjalankan tradisi berladang serta desakan untuk mengatasi krisis sosial-ekonomi warga akibat pencemaran udara dipaparkan lebih lanjut oleh Yuyun.

Tinjau Karhutla Pulang Pisau, Kepala BNPB dan Kasad Perkuat Penanganan di Kalteng
Baca Juga

Tinjau Karhutla Pulang Pisau, Kepala BNPB dan Kasad Perkuat Penanganan di Kalteng

“Kami sebagai masyarakat sudah mati-matian menghirup udara kotor. Jangan sampai kami juga harus mati-matian beradaptasi dengan kondisi ekonomi yang semakin menurun. Pemerintah jangan abai terhadap situasi ini,” ujarnya.

Kekecewaan massa pengunjuk rasa semakin memuncak akibat ketidakhadiran Gubernur Kalimantan Tengah untuk menemui langsung para demonstran yang telah berkumpul sejak siang hari. Sikap pemerintah daerah yang dinilai menghindar dari aspirasi warga disoroti secara tajam dalam aksi tersebut.

“Dengan alasan apa pun, sikap tersebut sangat pengecut. Jika tidak ingin bertemu dengan masyarakat, lebih baik turun saja agar kami tidak perlu lagi berusaha menemuinya. Kami akan menggugat,” kata Yuyun.

Aksi unjuk rasa yang dikawal ketat oleh aparat kepolisian tersebut akhirnya berjalan hingga sore hari di tengah kondisi kualitas udara Kota Palangka Raya yang terus memburuk akibat paparan kabut asap.

(Tony)