Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Timur

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Dinsos Kaltim Ajak Masyarakat Hapus Stigma terhadap Penyandang Disabilitas Mental

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Minggu, 11 Oktober 2026 · 19:332 menit baca
Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Dinsos Kaltim Ajak Masyarakat Hapus Stigma terhadap Penyandang Disabilitas Mental
Kepala Dinsos Kaltim Jaya Mualimin dalam peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di UPTD Panti Rehabilitasi Sosial Penyayang Disabilitas Odah Bersama, Sabtu (10/10/2026). (Dok. Pemprov Kaltim)

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Jaya Mualimin mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan jiwa, khususnya bagi penyandang disabilitas mental. Menurut dia, setiap orang berhak memperoleh pelayanan, kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan sosial, dan perlakuan yang baik tanpa stigma maupun diskriminasi.

Ajakan itu disampaikan saat peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di UPTD Panti Rehabilitasi Sosial Penyayang Disabilitas Odah Bersama, Sabtu (10/10/2026).

Jaya menjelaskan bahwa kesehatan jiwa tidak terpisah dari kehidupan sosial. Kondisi sehat, katanya, tidak hanya diukur dari aspek fisik, tetapi juga dari kemampuan seseorang menjalani hidup secara produktif dan bermanfaat bagi diri sendiri maupun lingkungannya.

“Kesehatan mental dan sosial berjalan berdampingan agar seseorang dapat kembali produktif dan bermanfaat bagi lingkungannya,” ujar Jaya.

Pemprov Kaltim Koordinasikan Persiapan Penganugerahan Indeks Kualitas Kebijakan 2026
Baca Juga

Pemprov Kaltim Koordinasikan Persiapan Penganugerahan Indeks Kualitas Kebijakan 2026

Jaya menegaskan penyandang disabilitas mental memiliki hak yang sama dengan masyarakat lain. Karena itu, menurut dia, diperlukan dukungan bersama untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, membuka ruang partisipasi, dan menghilangkan pandangan negatif yang dapat menghambat pemulihan serta reintegrasi sosial.

“Penyandang disabilitas mental punya hak yang sama. Pandangan negatif dari lingkungan justru bisa menghambat pemulihan mereka, jadi kita perlu membangun lingkungan yang inklusif dan membuka ruang partisipasi,” kata Jaya.

Penanganan kesehatan jiwa, menurut Jaya, membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Dinas Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, panti rehabilitasi sosial, dan perguruan tinggi perlu memperkuat koordinasi sesuai peran masing-masing.

Sinergi itu diharapkan mendukung pendampingan berkelanjutan, mulai dari pemulihan kondisi mental hingga membantu penyandang disabilitas mental kembali menjalani kehidupan bermasyarakat secara mandiri.

Kendaraan Terbanyak Se-Kalimantan, Kuota BBM Subsidi Kaltim Hanya Disetujui Separuh Usulan
Baca Juga

Kendaraan Terbanyak Se-Kalimantan, Kuota BBM Subsidi Kaltim Hanya Disetujui Separuh Usulan

“Penanganan kesehatan jiwa tidak bisa dikerjakan satu pihak. Kami mendorong koordinasi yang lebih kuat sesuai peran masing-masing, agar pendampingan berjalan berkelanjutan,” ujar Jaya.

Jaya juga menilai kesehatan mental dan sosial menjadi fondasi untuk mewujudkan generasi yang sehat menuju Indonesia Emas 2045. Menurut dia, hal itu perlu didukung dengan peningkatan kesadaran masyarakat, pencegahan masalah kesehatan, dan penguatan upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika.

“Kesehatan mental dan sosial adalah fondasi bagi generasi yang sehat menuju Indonesia Emas 2045,” kata Jaya.

Melalui momentum ini, Dinsos Kaltim mengajak seluruh unsur masyarakat dan instansi terkait terus meningkatkan kepedulian, memperkuat koordinasi, dan mendampingi penyandang disabilitas mental agar hak mereka terpenuhi.

Kegiatan itu dihadiri Wakil Direktur Poltekkes Kaltim, Wakil Ketua BAZNAS, Sekretaris Dinsos Kaltim, Kepala Bagian Umum dan Sekretaris BNN, serta Ketua IPK Indonesia.

(Dayank Ana)