Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Utara

BMKG Deteksi Enam Titik Panas di Kaltara, Terbanyak Berada di Nunukan

Achmad Fatoni
Achmad Fatoni
Kamis, 8 Oktober 2026 · 21:071 menit baca
BMKG Deteksi Enam Titik Panas di Kaltara, Terbanyak Berada di Nunukan
BMKG Tarakan deteksi enam titik panas kategori sedang di Kaltara pada Rabu, (7/10/2026); Kabupaten Nunukan catat sebaran terbanyak dengan empat titik api. (Dok. BMKG)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tarakan mendeteksi kemunculan enam titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan sedang yang tersebar di wilayah Provinsi Kalimantan Utara, Rabu, (7/10/2026).

Peningkatan sebaran titik api tersebut terpantau berdasarkan hasil observasi satelit cuaca yang mencakup pemantauan berkala sejak Selasa (6/10/2026) pukul 00.00 hingga 23.59 WIB.

Berdasarkan data spasial pemantauan, Kabupaten Nunukan mencatatkan titik konsentrasi api terbanyak dengan jumlah empat titik panas yang seluruhnya berstatus tingkat kepercayaan sedang. Sementara itu, Kabupaten Bulungan mengonfirmasi dua titik panas pada kategori yang sama.

Untuk wilayah Kota Tarakan, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Tana Tidung, instrumen satelit BMKG mencatat nihil titik panas atau berada pada posisi nol untuk kategori rendah, sedang, maupun tinggi.

Antisipasi Sebaran Asap, Gubernur Kalbar Pantau Pergerakan Arah Angin Lewat SiPongi
Baca Juga

Antisipasi Sebaran Asap, Gubernur Kalbar Pantau Pergerakan Arah Angin Lewat SiPongi

Mekanisme pelacakan indikasi kebakaran lahan tersebut dipaparkan langsung oleh pihak BMKG Stasiun Meteorologi Tarakan. Teknologi pendeteksian anomali suhu bumi diuraikan dalam keterangannya.

“Deteksi hotspot dilakukan menggunakan sensor VIIRS dan MODIS yang terdapat pada satelit polar, di antaranya NOAA-20, S-NPP, Terra dan Aqua. Sensor tersebut mendeteksi anomali suhu panas pada permukaan bumi dibandingkan dengan wilayah di sekitarnya sebagai gambaran lokasi yang mengalami kebakaran hutan,” jelas BMKG Stasiun Meteorologi Tarakan, Rabu, (7/10/2026).

Kendala teknis observasi penginderaan jauh turut dijabarkan dalam laporan pemantauannya. Keterbatasan pemindaian satelit dipaparkan dalam penjelasannya.

“Observasi titik panas dilakukan pada siang dan malam hari untuk masing-masing satelit. Namun, BMKG mencatat wilayah yang tertutup awan atau berada pada blank zone dapat menyebabkan titik panas di lokasi tersebut tidak terdeteksi,” tambahnya.

Masuki Musim Penghujan, Pemprov Kalbar Petakan 559 Desa Rawan Bencana Hidrometeorologi
Baca Juga

Masuki Musim Penghujan, Pemprov Kalbar Petakan 559 Desa Rawan Bencana Hidrometeorologi

Publikasi data berkala ini ditujukan sebagai peringatan dini bagi instansi penanggulangan bencana daerah dan aparat penegak hukum guna mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terbuka di wilayah perbatasan Kalimantan Utara.

(Tony)