Beban berat kini tengah menghimpit para pelaku usaha sektor perunggas (unggas) tanah air. Fenomena anjloknya harga telur ayam ras dan ayam hidup (livebird) di tingkat peternak yang telah berlangsung selama sebulan terakhir, diperparah oleh tren kenaikan harga pakan yang kian melambung tinggi.
Kondisi tidak seimbang antara harga jual yang murah dan biaya produksi yang mahal ini dinilai mengancam keberlangsungan usaha peternakan rakyat.
Rifky Adnando, seorang peternak ayam petelur asal wilayah Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengungkapkan bahwa kemerosotan harga telur ayam ras telah berjalan sejak sebulan lalu. Penurunan ini membuat selisih harga jual di lapangan semakin jauh di bawah angka normal.
“Kalau di tingkat peternak koperasi Rp20.500 tapi saya gak jual segitu, jual Rp21.500. Itu turun jauh, sebelumnya mah telur standarnya Rp26.000, turun jadi Rp21.000 itu sudah sebulan ini,” kata Rifky Selasa (7/7/2026).


