Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Internasional

Sempat Tertunda, Proyek Replika Kapal Pesiar Titanic II Ditargetkan Berlayar pada 2027

Achmad Fatoni
Achmad Fatoni
Selasa, 6 Oktober 2026 · 14:201 menit baca
Sempat Tertunda, Proyek Replika Kapal Pesiar Titanic II Ditargetkan Berlayar pada 2027
Proyek kapal pesiar Titanic II milik Clive Palmer kembali digulirkan; Blue Star Line targetkan pelayaran perdana Southampton-New York berlayar pada 2027. (Dok. Ist)

Proyek pembangunan kapal pesiar replika Titanic II kembali digulirkan oleh miliarder asal Australia, Clive Palmer, melalui perusahaannya Blue Star Line, dengan mematok target pelayaran perdana pada 2027 mendatang. Rencana pembuatan kapal yang terinspirasi dari tragedi pelayaran Samudra Atlantik 1912 tersebut dirancang mengusung kemiripan visual dan interior dengan pendahulunya, namun sepenuhnya ditopang sistem navigasi maritim dan standar keselamatan abad ke-21.

Gagasan pembuatan replika kapal legendaris ini pertama kali diumumkan pada 2012 dan sempat diluncurkan ulang pada 2018 sebelum terhenti akibat kendala teknis serta pandemi global. Berdasarkan lini masa terbaru, tahapan konstruksi fisik dijadwalkan mulai berjalan pada kuartal pertama 2025, sementara pelayaran rute bersejarah Southampton menuju New York diproyeksikan berlangsung pada 2027.

Meski demikian, tenggat waktu operasional tersebut masih berstatus proyeksi kerja mengingat tahapan tender pemilihan galangan kapal pembangun, skema pendanaan, hingga pemenuhan sertifikasi kelaikan laut internasional masih dalam proses penyelesaian.

Secara dimensi teknis, Titanic II dirancang memiliki panjang sekitar 269 meter dan lebar 32,2 meter. Struktur badan kapal terbagi dalam sembilan dek yang memuat 835 kabin dengan daya tampung mencapai 2.345 penumpang serta mengadopsi sistem pembagian kelas kabin klasik sebagaimana kapal orisinalnya.

Buka RAC IX INSA, Wawako Bahasan Minta Hambatan Logistik dan Pelayaran Dibahas Terbuka
Baca Juga

Buka RAC IX INSA, Wawako Bahasan Minta Hambatan Logistik dan Pelayaran Dibahas Terbuka

Modernisasi menyeluruh difokuskan pada perangkat radar deteksi gunung es, telekomunikasi satelit, stabilitas lambung ganda, serta ketersediaan sekoci penolong berkapasitas penuh demi menghindari terulangnya petaka tenggelamnya kapal pada April 1912.

Pihak pengembang menegaskan kapal ini disiapkan bukan sekadar monumen berjalan atau museum terapung, melainkan moda transportasi laut komersial berkapasitas ribuan jiwa yang tunduk pada seluruh regulasi maritim modern.

(Tony)