Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

reCoverweek

Kepulauan Karimata: Menyusuri Mahakarya di Beranda Dua Samudra

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Jumat, 16 Oktober 2026 · 17:1118 menit baca
Kepulauan Karimata: Menyusuri Mahakarya di Beranda Dua Samudra
Kepulauan Karimata tampak dari udara. Kawasan di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, ini ditetapkan sebagai cagar alam yang didominasi perairan. (Dok. YPI)

Bagi kebanyakan warga Kalimantan Barat, nama Karimata mungkin hanya sebatas selat di peta atau cerita tentang pulau terpencil yang menjadi gerbang dua samudra, yakni Samudra Pasifik dan Samudra Hindia sekaligus saksi peradaban maritim Nusantara.

Padahal, di tengah hamparan laut lepas terdapat daratan yang menyembul kokoh dengan benteng kanopi rapat hutan tropis di bawah naungan pohon ulin dan resak memayungi lantai granit berlumut pekat tempat riam serta aliran sungai kecil mengalir, sekaligus rumah bagi flora dan fauna endemik.

Kendati daratannya menyuguhkan jantung rimba Pulau Karimata, denyut nadi tak berhenti sampai di sana; ia merambah jauh ke balik buih tirta samudra pada Cagar Alam Laut Karimata.

Bentang alam yang sarat akan keindahan ini bukanlah alam liar tanpa payung regulasi. Keputusan Menteri Kehutanan No. 10786 Tahun 2025 tanggal 12 November 2025 menetapkan bahwa areal konservasi Kepulauan Karimata mencakup luasan ±190.713,90 ha.

Terancam Karhutla, Orangutan Jantan di Ketapang Dievakuasi Tim Gabungan
Baca Juga

Terancam Karhutla, Orangutan Jantan di Ketapang Dievakuasi Tim Gabungan

Wilayah ini terbagi atas Cagar Alam Laut Karimata seluas ±187.714,95 ha dan Cagar Alam Pulau Karimata seluas ±2.998,95 ha.

Cagar Alam (CA) Karimata membentang pada perairan barat daya Kalimantan Barat dengan koordinat 1°23’14”–1°47’25” LS dan 108°39’05”–109°24’16” BT.

Secara administratif, kawasan CA Karimata terletak di Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara, tepatnya di Desa Padang, Desa Betok Jaya, dan sebagian Dusun Kelawar di Desa Pelapis.

“Karimata ini memang sebagai gugus pulau yang berada di Selat Karimata. Kemudian di sana itu ada suatu lokasi yang dijadikan sebagai kawasan konservasi oleh pemerintah, yaitu Cagar Alam (CA) Karimata, yang pengelolaannya adalah amanah atau mandat bagi kami,” ungkap Azmardi, Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang di bawah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat saat dijumpai Selasa (29/9/2026).

Polresta Pontianak Pikirkan Penyelundupan 593 Kg Sisik dan Kuku Trenggiling
Baca Juga

Polresta Pontianak Pikirkan Penyelundupan 593 Kg Sisik dan Kuku Trenggiling

Karakteristik Cagar Alam Karimata

Di balik lanskapnya yang elok, kawasan Karimata ini menyimpan karakteristik bentang darat dan laut yang unik sekaligus rentan. Data BKSDA Kalimantan Barat memetakan bahwa Pulau Karimata Besar membentang seluas ±16.574,89 ha dengan gradasi topografi dari pesisir dataran rendah hingga puncak perbukitan berketinggian 0–1.030 meter di atas permukaan laut (mdpl), yang sebagian besar statusnya merupakan kawasan hutan lindung.

Peta topografi Pulau Karimata di dalam Cagar Alam Karimata
Peta topografi Cagar Alam Karimata. Pulau Karimata Besar berkontur dari dataran rendah pesisir hingga puncak perbukitan setinggi 1.030 meter di atas permukaan laut. (Sumber: BKSDA Kalbar, 2026)

Kerentanan ekologis pulau ini tampak jelas pada tingkat kecuraman lerengnya. Zona dengan kelerengan terjal di atas 40 persen dikategorikan memiliki sensitivitas ekologis sangat tinggi karena rentan terhadap erosi dan longsor.

Sementara itu, pada kelerengan sedang 25–40 persen, vegetasi alami memang masih dapat berkembang dan memiliki stabilitas yang relatif lebih baik, meski tetap rentan bila mendapat tekanan aktivitas manusia.

Adapun area dengan kelerengan landai di bawah 25 persen menjadi bentang yang paling stabil secara ekologis, menopang vegetasi pesisir hingga pemukiman warga.

“Karena pengalaman kami di sana ada beberapa titik yang tidak disentuh manusia pun itu rusak secara alami, apalagi kalau kita rubah struktur alamnya,” ujar Setra Kusumardana, selaku ketua Yayasan WeBe Konservasi Ketapang koordinator menerangkan betapa sensitifnya bentang darat dari Pulau Karimata.

Peta klasifikasi kedalaman laut perairan Cagar Alam Karimata
Perairan Cagar Alam Laut Karimata tergolong dangkal, dengan kedalaman maksimal kurang dari 50 meter. (Sumber: Badan Informasi Geospasial, 2018)

Memasuki wilayah perairannya, CA Karimata tergolong memiliki topografi dangkal dengan kedalaman maksimal kurang dari 50 meter.

Dari Ruang Perencanaan KKP, Laut Harus Menghasilkan Kesejahteraan yang Nyata
Baca Juga

Dari Ruang Perencanaan KKP, Laut Harus Menghasilkan Kesejahteraan yang Nyata

Data Batimetri Nasional (Badan Informasi Geospasial, 2018) memperlihatkan kontur bawah laut yang kontras: perairan sisi utara cenderung lebih curam dengan tubir karang yang menghujam hingga kedalaman 30 meter, sementara bentang selatan jauh lebih landai dan mendatar dengan kedalaman berkisar 10 meter saja.

Perbedaan gradasi kedalaman inilah yang membentuk mozaik terumbu karang unik sekaligus menentukan sebaran biota laut di dalamnya. Komposisi CA Karimata didominasi oleh perairan, sekitar 98,3% sedangkan sisanya 1,7% adalah daratan.

Berdasarkan data Badan Informasi Geospasial (BIG), terdapat 41 pulau yang masuk dalam kawasan CA Karimata. Dari puluhan gugusan tersebut, hanya dua pulau besar yang tercatat berpenghuni, yakni Pulau Karimata dan Pulau Serutu.

Sementara itu, elevasi tertinggi di kawasan ini berada di Pulau Karimata, dengan puncak Gunung Cabang yang menjulang hingga 1.030 meter di atas permukaan laut.

Terdapat dua pulau yang berdekatan secara administratif dengan CA Karimata tapi bukan kawasannya yakni Pulau Maya berada di gugusan pesisir Kayong Utara dan Pulau Penebang sebelah timur gugusan Karimata.

Infografis sebaran status hunian 41 pulau di tiga desa (Betok Jaya, Padang, dan Pelapis), menunjukkan hanya 5 pulau yang berpenghuni dan 36 pulau tidak berpenghuni.

Pada bentang daratan, Pulau Karimata Besar memiliki beberapa jaringan hidrologi alami yakni sungai utama beserta anak sungainya yakni Sungai Betok, Sungai Air, Sungai Belobang, Sungai Tayan, Sungai Raya, dan Sungai Batu Baginda. Air tawar yang mengaliri bentang daratan menjadi suplai air bagi habitat flora maupun fauna darat.

Ditemukan di Arboretum Sylva Untan, Trenggiling Jantan Dievakuasi ke BKSDA Kalbar
Baca Juga

Ditemukan di Arboretum Sylva Untan, Trenggiling Jantan Dievakuasi ke BKSDA Kalbar

Sedangkan Cagar Alam Laut Karimata di pusaran dinamika Laut Jawa dan Paparan Sunda yang bergerak oleh penentuan pergerakan pola pergantian musim.

Pola arus umumnya bergerak dari barat laut (Laut Natuna Utara/Laut Cina Selatan) menuju tenggara (Laut Jawa) dengan kecepatan berkisar antara 0,1 hingga 0,4 meter per detik.

Dinamika arus di perairan sisi barat laut dan utara cenderung lebih kencang (0,2–0,3 m/s), sementara di sisi selatan lajunya melambat hingga sekitar 0,1 m/s akibat terhalang oleh benteng daratan Pulau Karimata serta hamparan laut dangkal.

Peta batimetri kontur dasar laut Cagar Alam Karimata
Peta batimetri Cagar Alam Karimata yang memperlihatkan kontur dasar laut di sekitar gugusan pulau. (Sumber: BKSDA Kalbar, 2026)

Suhu permukaan laut di Kepulauan Karimata dipengaruhi jaraknya dari Pulau Kalimantan. Wilayah perairan barat mencatat suhu 30°C, sementara perairan timur yang lebih dekat daratan utama berada pada rentang 30–30,5°C.

Tingkat salinitas air laut pun bergradasi: perairan barat yang menghadap laut lepas memiliki salinitas tertinggi sebesar 33,3 PSU, zona tengah berkisar 33 PSU, dan kian menurun di bawah 33 PSU ke arah timur akibat pengaruh limpasan air tawar dari muara sungai-sungai besar Kalimantan. 

Geliat Kehidupan di Balik Kilau Granit dan Karang

CA Karimata merangkum bentang alam dalam keberagaman flora dan fauna dari dua tipe ekosistem yakni daratan (terestrial) dan ekosistem bahari (marin).

Selaras pada amanah pengelolaannya, CA Karimata menaungi empat sistem utama yang saling terjalin: hutan pantai yakni hutan yang tumbuh rimbun di tengah Pulau Karimata, mangrove pada pesisir berlumpur, lamun di perairan dangkal, dan hamparan terumbu karang. 

Peta sebaran hutan pantai, mangrove, lamun, dan terumbu karang di Cagar Alam Karimata
Empat sistem ekosistem utama Cagar Alam Karimata: hutan pantai, mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. (Sumber: BKSDA Kalbar, 2026)

Sabuk mangrove pada pesisir penuh lumpur terkonsentrasi di sisi barat pulau, meliputi muara Sungai Betok dan antara Dusun Betok hingga Dusun Kelumpang.

ASPEKSINDO 2025–2030: Konsolidasi Wilayah Pesisir di Tengah Tantangan Iklim dan Ketimpangan Pembangunan
Baca Juga

ASPEKSINDO 2025–2030: Konsolidasi Wilayah Pesisir di Tengah Tantangan Iklim dan Ketimpangan Pembangunan

Vegetasi mangrove inilah yang menjadi kawasan penanaman Bakau terluas dalam CA Karimata, menariknya pagar hijau pada pesisir tak berhenti di garis air asin ia juga menjalar masuk mengikuti aliran Sungai Betok 5 kilometer ke arah daratan.

Namun pada sisi timur pulau Karimata terdapat desas-desus yang tersampai pada indra pendengaran Setra bahwa buaya air asin mulai keluar menuju wilayah perairan di Desa Padang.

“Sekarang lagi heboh juga ada buaya yang keluar ke wilayah perairan di Desa Padang. Nah ini sih bukan hal baru karena ada mangrove bagus di beberapa sudut Pulau Karimata dan itu sebenarnya habitat buaya air asin, semoga keluarnya buaya dari habitat pesisir karena emang pengen jalan-jalan aja, bosen gitu bukan karena mangrove rusak atau karena hal lainnya,” harap Setra saat diwawancarai, Kamis (1/10/2026).

Ekosistem CA Karimata menyuguhkan pesisir juga didominasi oleh tumbuhan lamun (tumbuhan berbunga/angiospermae) juga menjadi pelindung habitat fauna yang hidup di dalamnya seperti berbagai jenis ikan, udang, kepiting, moluska, teripang, bulu  babi, serta menjadi daerah mencari makan bagi penyu hijau dan dugong. 

Jauh sebelum gaung krisis iklim meluas, Kepulauan Karimata telah dipagari mandat suaka sejak medio 1981. Melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan No. 2240/DJ/I/1981 bertanggal 15 Juni 1981, negara meletakkan jangkar perlindungan pertama di beranda dua samudra ini.

Bukan tanpa alasan bentang kepulauan ini disucikan; di perairan dangkalnya yang berpadu dengan padang lamun, perairan ini menjadi suaka aman bagi duyung (Dugong dugon) yang kian langka menyusuri riak Selat Karimata.

Tak hanya merawat sang mamalia laut, denyut perlindungan masa itu juga menjadi payung hidup bagi reptil purba berstatus terancam, mulai dari tuntong (Batagur baska) hingga kura-kura gading (Orlitia borneensis) yang melintasi sunyinya aliran payau dan rimba pulau.

Namun mandat tersebut hanyalah sebuah regulasi tercatat, dalam temuan lapangan BKSDA Kalbar kesulitan menemukan adanya spesies Dugong.

“Kalau dalam mandat pengelolaan 1981 pengelolaan Cagar Alam Karimata ini adalah memang sebagai habitat Dugong. Namun kita akui sulit sekali kita temui Dugong sampai sekarang,” ungkap Azmardi. 

Bupati Mempawah Erlina Terpilih Aklamasi Pimpin ASPEKSINDO, Hilirisasi Kelautan Jadi Agenda Utama 2025–2030
Baca Juga

Bupati Mempawah Erlina Terpilih Aklamasi Pimpin ASPEKSINDO, Hilirisasi Kelautan Jadi Agenda Utama 2025–2030

CA Laut Karimata juga menyuguhkan hamparan karang yang indah dan sangat rentan mengalami kerusakan baik dari aktivitas alam maupun campur tangan manusia.

Terumbu karang di CA Laut Karimata bersalin rupa dari masa ke masa. Dilansir dari catatan kompas.id 2013 Perubahan bermula saat ancaman campur tangan manusia atas aktivitas penggunaan bom oleh oknum nelayan yang tidak bertanggung jawab di sekitar kawasan CA Laut Karimata.

Merapah penjuru terumbu karang di Laut Karimata Setra turut memvisualisasikan bagaimana indera penglihatannya menyaksikan tangkapan bawah permukaan tersebut pada 2016.

“Sepanjang pengetahuan saya, saat saya beraktivitas dalam program bersama BKSDA saat melakukan beberapa kunjungan yang kita lakukan dalam kegiatan 2016. Landscape di bawah laut di sana sangat indah masih banyak terumbu karang warna-warni dan hampir kami temukan di temukan diseluruh laut wilayah laut disekitar pulau-pulau yang ada di Cagar Alam Karimata,” tutur Setra.

Dalam Jurnal Borneo Akcaya 2021 Catatan riset lapangan pada 17–18 Juli 2021 di Pulau Pelapis menyingkap mozaik dasar laut yang timpang.

Di satu petak pengamatan, kondisi terumbu karang tertekan pada kategori rusak sedang dengan tutupan hidup tersisa 42,13 persen.

Namun, hanya terpaut beberapa mil di stasiun lainnya, harapan konservasi terpancar nyata lewat hamparan karang berstatus baik yang mendominasi hingga 62,82 persen. 

Sementara Jurnal yang disusun oleh Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Tanjungpura menyampaikan bahwa Memasuki rentang Juni hingga September 2023, jejak kondisi bawah laut Pulau Pelapis kembali ditelusuri lewat bentangan transek garis (Line Intercept Transect).

Di balik ancaman yang terus mengintai, denyut kehidupan terumbu karang di beberapa ceruk perairan ternyata masih menunjukkan daya lenting yang memikat.

Di titik-titik terlindung seperti kawasan Gosong, Teluk, hingga Teluk Tekek, hamparan karang hidup tercatat mekar antara 57,18 hingga 69,32 persen.

Menyingkap Kisah Negeri Bertuah: Daya Juang Perempuan Pesisir di Tengah Ketimpangan Infrastruktur
Baca Juga

Menyingkap Kisah Negeri Bertuah: Daya Juang Perempuan Pesisir di Tengah Ketimpangan Infrastruktur

Sebuah sinyal ketangguhan alami menempatkan ekosistemnya dalam kategori baik, kendati indeks mortalitas tetap menyisakan catatan kelam akibat tekanan lingkungan yang tak kunjung reda.

Grafik suhu permukaan laut global dan kekuatan ENSO 1985–2025 terkait pemutihan karang
Tren suhu permukaan laut global dan kekuatan El Niño–Southern Oscillation (ENSO) pada 1985–2025 yang dikaitkan dengan peristiwa pemutihan karang global. (Sumber: Spady dkk., 2026)

Dalam tiga dasawarsa terakhir, lautan bumi dihantam empat gelombang pemutihan karang massal global (Global Coral Bleaching Event/GCBE) mulai dari petaka 1998, 2010, 2016, hingga puncaknya pada episode 2023–2024 yang tercatat paling ekstrim.

Rekaman fluktuasi suhu permukaan laut harian memperlihatkan lonjakan panas global yang kian sering menembus garis batas bahaya, bahkan rata-rata suhu fase netral terkini telah melampaui puncak pemanasan 1998. Gelombang panas samudra ini menyusup nyata ke perairan Cagar Alam Karimata.

Namun berkorelasi dengan data BKSDA Kalbar yang menunjukkan bahwa kawasan ini berada di lingkungan perairan dangkal neritik yang sudah bersuhu 30°C ke atas, benteng karang Karimata sejatinya hidup di ujung batas toleransi biologisnya: anomali panas global sedikit saja sudah lebih dari cukup untuk memanggang polip karang dan memicu pemutihan massal di surga bawah laut terluar ini.

Terumbu karang berwarna-warni di perairan Cagar Alam Laut Karimata
Potret terumbu karang di dalam Cagar Alam Laut Karimata. Hamparan karang di kawasan ini rentan terhadap kerusakan akibat alam maupun aktivitas manusia. (Foto: Eko Wahyudi/@blue_ransel)

Menjala Asa di Selat Sunyi: Detak Hidup Tuan Rumah Sejati 

Di antara asinnya perairan dan sunyinya daratan pulau, corak warga Karimata mengayam kehidupan, meski akses internet masih terbata-bata dijangkau oleh mereka.

Gelombang laut boleh jadi menyerap sebagian besar tenaga kaum lelaki dan perempuan pesisir sebagai nelayan, namun kehadiran ruang kelas dan puskesmas pembantu memunculkan lentera pengabdian tersendiri. 

“Karena memang kepulauan ya mata pencarian masyarakat tentu nelayan. Kemudian ada sedikit yang bertani, kemudian karena ada fasilitas pemerintah lainnya, di sana ada yang guru, ada juga yang petugas kesehatan,” jelas Azmardi.

Anak-anak warga Kepulauan Karimata
Anak-anak di Kepulauan Karimata. Warga setempat sudah tinggal di kepulauan ini jauh sebelum kawasan ditetapkan sebagai cagar alam. (Dok. Jumadi)

Di tengah kerentanan ekologis akibat dinamika alam maupun aktivitas manusia, tumpuan hidup warga setempat diatur lewat pembagian wilayah tangkap yang khas CA Karimata.

“Kalau masyarakat disana ada juga nelayan kecil, biasa dikenal nelayan pesisir yakni ibu-ibu yang mencari hasil laut di sekitar pulau pakai perahu kecil, pakai sampan sedangkan nelayan yang berlayar lebih jauh menggunakan kapal ke tengah laut adalah bapak-bapak. Kemudian hasil laut mereka kebanyakan dijual ke Bangka Belitung,” ujar Setra, menceritakan pengalamannya menyingkap kehidupan masyarakat di sana.

Putra daerah yang lahir dan besar di Pelapis menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat pesisir CA Karimata, denyut harian yang mereka rawat hingga kepekaan akan batas konservasi dan nadi muara rezeki pada bahari yang mereka patuhi.

Hari Bumi 2026: Menanam Asa Serta Catatan Ketimpangan Akses Pesisir Kuala Karang
Baca Juga

Hari Bumi 2026: Menanam Asa Serta Catatan Ketimpangan Akses Pesisir Kuala Karang

“Kalau ditanya soal kehidupan di sekitar Cagar Alam Karimata, ya suasananya khas masyarakat kepulauan. Kita hidup berdampingan langsung dengan alam, baik laut maupun darat. Sebagai wilayah penyangga, di satu sisi kita bersyukur karena lautnya kaya dan hasil ikan melimpah buat kebutuhan sehari-hari. Tapi disisi lain, kita juga harus sadar diri dan taat sama aturan karena wilayah kita ini berdampingan langsung dengan kawasan konservasi yang dijaga ketat,” tutur Jumadi Gading Selasa, (6/10/2026).

Kehidupan warga pesisir di Kepulauan Karimata
Warga hidup berdampingan dengan alam di sekitar Cagar Alam Karimata, dengan laut sebagai sumber penghidupan utama. (Dok. Jumadi)

Keindahan terus bertahan dari masa ke masa disampaikan juga olehnya, namun kemolekan yang rentan tersebut semakin diperketat sekat regulasi sejak dilabeli sebagai kawasan konservasi.

“Kalau ingatan saya dari dulu sampai sekarang, kalau keindahan dan kekayaan alam Karimata sih Alhamdulillah masih tetap terjaga, hutannya asri, terumbu karangnya juga masih bagus. Cuma, perubahannya sekarang lebih terasa di aturan dan pengawasannya. Kalau dulu kan kita bebas mau ke mana saja atau memanfaatkan apa saja tanpa ada batas yang ketat. Sekarang karena sudah ditetapkan jadi kawasan konservasi, pengawasannya dari instansi seperti BKSDA jauh lebih ketat, ada zonasi yang jelas, jadi tidak bisa sembarangan lagi,” jelas Jumadi.

Jauh sebelum dipayungi mandat regulasi yang dijaga ketat hari ini, bentang Cagar Alam Karimata sesungguhnya telah dihidupi oleh tuan rumah sejati yang menorehkan jejak peradaban melintasi rentang waktu panjang.

“Keberadaan masyarakat di Karimata sudah lebih dulu sebelum berdirinya pemerintahan pun, dikenal juga dengan daerah penghasil ikan di Indonesia. Jadi masyarakat di sana memang sudah duluan dibanding penetapan Cagar Alam Karimata,” ujar Azmardi.

Sebagai salah satu perkampungan penyangga CA Karimata, masyarakat Pelapis menggantungkan hidup dari laut, meski meraup rezeki dari bahari mereka juga orang-orang yang hidup pada kawasan yang bersinggungan dengan kawasan yang dipayungi regulasi.

“Masyarakat kita di perkampungan penyangga seperti di Pelapis dan sekitarnya ini sebagian besar ya menggantungkan hidup dari laut, mayoritas jadi nelayan. Hidup kami sangat bergantung pada kondisi cuaca dan ombak di laut karena akses ke pulau kan memang lewat jalur perairan. Peran kita sebagai masyarakat penyangga ini penting sekali, selain mencari nafkah, kita juga jadi garda terdepan yang paling dekat dan bersinggungan langsung dengan kawasan konservasi itu,” sambung Jumadi.

Pola penataan ruang dan strategi pemulihan ekosistem di kawasan suaka ini dijalankan melalui pembagian blok perlindungan yang membiarkan alam memulihkan dirinya sendiri, sebuah pendekatan tata kelola yang diterangkan oleh Azmardi.

“Pemulihan ekosistem bisa kita lakukan, tapi kawasan CA cenderung kita biarkan secara alami oleh alam. Hal ini kita kelola dengan sistem blok namanya. Nah bloknya ini hanya ada dua, yaitu blok perlindungan dan blok lainnya. Blok perlindungan ini ada dua, blok perlindungan darat dan blok perlindungan bahari,” terangnya.

Keutuhan ekosistem laut Karimata dirawat melalui batas-batas tangkap yang menahan laju eksploitasi berlebih, sebuah keseimbangan tradisi yang disaksikan langsung oleh Setra 

“Nelayan yang kita kenal di sana membangun blok tradisional untuk beraktivitas menangkap ikan yang tidak over kapasitas,”begitu pula Setra menjawab teknik penangkapan ikan di kawasan CA Karimata.

Meniti Titik Temu: Kompromi Regulasi di Batas Suaka 

Selaras dengan arah kebijakan pemerintah dalam menatap masa depan kawasan pesisir, Ketua Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (ASPEKSINDO), Erlina, mulai merumuskan peta jalan strategis untuk menyingkap pesona dan potensi tersembunyi Kepulauan Karimata ke panggung yang lebih luas. 

“Visi saya adalah menjadikan wilayah pesisir dan kepulauan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi biru yang maju, inklusif, dan berkelanjutan. ASPEKSINDO memiliki dua agenda utama yang ingin kita perkuat, yaitu hilirisasi ekonomi kelautan dan pengembangan ekonomi biru berkelanjutan,” ungkapnya saat diwawancarai Selasa, (13/10/2026).

Sebagai kepulauan Barat Indonesia yang menyuguhkan potensi bahari, Erlina tak ingin masyarakat menjadi penonton kekayaan laut yang ada.

Bupati Mempawah, DR Hj Erlina, SH, MH resmi dilantik sebagai Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (ASPEKSINDO) periode 2025-2030. Pelantikan dipimpin oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI.
Erlina, Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (ASPEKSINDO) periode 2025-2030. (Dok. Nusantara Post)

Dominasi profesi nelayan pulau juga hendak difokuskan ASPEKSINDO untuk modernisasi sarana perikanan serta keterlibatan berbagai aspek dalam pengenalannya skala nasional.

“Program konkretnya adalah mendorong Kampung Nelayan Merah Putih, modernisasi sarana perikanan, penguatan koperasi nelayan, pengolahan hasil laut, serta peningkatan akses pasar dan konektivitas antarpulau. Khusus Kalimantan Barat, kita ingin Kepulauan Karimata menjadi perhatian nasional melalui penelitian kelautan, promosi potensi bahari, pemberdayaan masyarakat, dan perlindungan keanekaragaman hayati. ASPEKSINDO akan mendorong kerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha agar program pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat kepulauan. Prinsip saya, masyarakat pesisir tidak boleh hanya menjadi penonton dari kekayaan lautnya sendiri,” tuturnya.

Pengembangan investasi kawasan CA Karimata wajib beriringan dengan keseimbangan perlindungan lingkungan. Aspek perkembangan ekonomi dan ekosistem laut.

“Kita tidak boleh mengorbankan ekosistem laut demi keuntungan ekonomi jangka pendek,” ungkapnya, Erlina juga menjelaskan tiga langkah konkret oleh ASPEKSINDO:

  • Pertama, investasi ekonomi biru yang bertanggung jawab, terutama hilirisasi perikanan, pengolahan hasil laut, dan usaha masyarakat di lokasi yang memang diperbolehkan.
  • Kedua, perlindungan dan rehabilitasi ekosistem pesisir, khususnya mangrove, padang lamun, dan terumbu karang, sesuai karakteristik serta kebutuhan masing-masing wilayah.
  • Ketiga, pengembangan ekonomi karbon biru (blue carbon) sebagai peluang pembiayaan konservasi dan sumber manfaat ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.

Harapan baru untuk merawat bentang pesisir sekaligus menopang ekonomi kepulauan pun mulai disuarakan melalui pendekatan karbon biru, sebuah peluang yang digarisbawahi oleh ASPEKSINDO. 

“Ekosistem mangrove dan padang lamun memiliki kemampuan menyerap serta menyimpan karbon. Melalui pendataan ilmiah, pengukuran yang terverifikasi, dan tata kelola yang transparan, potensi ini dapat dikembangkan dalam skema pembiayaan karbon yang sah. Karimata, pengembangannya harus didahului kajian potensi ekologis, kepastian status kawasan, dan kesesuaian regulasi. Bagi kami, ekonomi biru bukan sekadar mengambil keuntungan dari laut, tetapi memastikan laut tetap produktif untuk generasi berikutnya,” tegas Erlina.

Denyut penyelamatan laut dan pemberdayaan masyarakat kepulauan terus digelorakan menyongsong peringatan World’s Ocean Day 2027, sebuah komitmen yang digarisbawahi oleh ASPEKSINDO.

“Kita juga ingin mendorong forum kolaborasi daerah kepulauan untuk mempertemukan kebutuhan daerah dengan program kementerian dan dukungan mitra pembangunan. Kalimantan Barat, termasuk Kepulauan Karimata, memiliki potensi untuk menjadi salah satu lokasi kegiatan edukasi dan aksi konservasi, tentunya melalui koordinasi dengan pihak pengelola kawasan,” sambung Erlina menyudahi wawancara kami.

Posisi strategis Kepulauan Karimata di koridor Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I tak dimungkiri menjadikannya urat nadi pelayaran niaga yang sibuk sejak berabad silam.

Foto udara Kepulauan Karimata yang menjadi bagian Cagar Alam Karimata di Kayong Utara

Namun, padatnya mobilitas kapal kargo dan armada lintas samudera yang membelah perairan dangkal ini menyimpan ancaman laten bagi keberlangsungan terumbu karang serta ruang tangkap nelayan lokal.

Menjawab benturan kepentingan antara fungsi jalur pelayaran dan mandat suaka, BKSDA Kalimantan Barat mulai mematangkan tata kelola zonasi bahari, sebuah ikhtiar mitigasi yang ditegaskan langsung oleh Azmardi.

“Jalur perlintasan kapal di Cagar Alam Karimata ini sedang kita atur melalui dokumen perencanaan jangka panjang 2024–2035 yang sudah melewati tahap konsultasi publik di Kayong Utara. Jalur ini akan ditata bersama Dinas Perhubungan dan Dinas Kelautan agar kapal yang melintas tidak merusak terumbu karang maupun mengganggu mata pencarian masyarakat, sehingga kapal yang lewat itu tidak merusak terumbu karang yang ada di wilayah cagar alam karimata ini,” jelas Azmardi terkait jalur perdagangan selat Karimata yang melintas Pulau Karimata. 

Meski berada di luar kewenangan langsung pemerintah daerah, pengawasan perairan Cagar Alam Karimata tetap diikhtiarkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan melalui pelibatan aktif kelompok masyarakat.

Langkah ini diambil sejalan dengan tujuan penetapan suaka berkekhususan ekologis tersebut, yakni menjaga keutuhan ekosistem sekaligus menjamin keberlanjutan biota laut di dalamnya. 

“Tiap kawasan konservasi itu memiliki keunggulan dan potensi sendiri berdasarkan ataupun karakteristik yang dimiliki oleh wilayah tersebut untuk pengelolaan kawasan konservasi. Kita mempunyai tugas dan fungsi disini yakni mengelola dan mengawasi segala aktivitas yang ada di wilayah perairan dan juga secara khusus untuk kawasan konservasi. Meski dari kewenangan bukan kita yang mengelola jadi untuk pengawasan kita adalah memberdayakan masyarakat melalui kelompok pengawasan masyarakat,” ungkap Natalia Karyawati, selaku Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalbar, Selasa (29/9/2026).

Meski terselubung pada payung regulasi, kehidupan masyarakat pesisir CA Karimata secara alami tetap berjalan sebagaimana mestinya sesuai kaidah atas zona-zona yang telah ditetapkan pemangku kebijakan.

“Memang benar kalau wilayah inti Cagar Alam Karimata itu tidak bebas dimasuki sembarang orang atau bebas dipakai buat kegiatan yang merusak, karena dilindungi undang-undang. Tapi bukan berarti kita jadi terisolasi. Untuk aktivitas harian, sosial, dan ekonomi masyarakat lokal, mobilitas tetap berjalan seperti biasa dengan tetap menyesuaikan aturan zonasi yang ada. Kalaupun ada keperluan khusus masuk ke dalam kawasan inti misalnya untuk penelitian atau keperluan resmi biasanya ada prosedur perizinan dan koordinasi dulu dengan pihak BKSDA supaya kelestarian alamnya tetap terjaga tanpa harus mematikan ruang hidup masyarakat tempatan,” sambung Jumadi.

Ketatnya koridor hukum suaka yang menempatkan riset dan perlindungan habitat sebagai mandat utama diselaraskan dengan kenyataan bahwa denyut hidup warga telah ada jauh sebelum regulasi ditegakkan, sebuah kompromi tata kelola ruang gerak pada kawasan.

“Memang kalau untuk masuk ke cagar alam ada regulasi yang cukup ketat memang. Karena kalau Cagar alam itu kan fungsi utamanya sebagai lokasi atau tempat penyelidikan dan penelitian. Kemudian memang bisa ada kegiatan terbatas tapi lebih cenderung pada kegiatan yang berkaitan dengan pembinaan habitat yang berada di kawasan cagar alam. Apakah masyarakat bisa berkegiatan di sana? Karena tadi yang saya sampaikan dari awal masyarakat di cagar alam itu kan sudah duluan dibandingkan umur cagar alam Kalimantan sendiri. Nah, masyarakat tetap bisa berbagai kegiatan namun dia dikelola namanya di dalam blok lainnya tadi. Ada blok khusus untuk bisa pemanfaatan masyarakat beraktifitas. Dengan ketentuan bahwasannya di lokasi tersebut tidak diperkenankan, tidak diperbolehkan melakukan kegiatan yang bisa merubah keutuhan kawasan itu,” tegas Azmardi.

(Dayank Ana Sebalu)