Sel, 16/06/26 · 12.12.13
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

BNPB Catat Tren Bencana Hidrometeorologi di Sejumlah Wilayah per Juni 2026

Hendrawan
Hendrawan
Selasa, 16 Juni 2026 · 17:202 menit baca
BNPB Catat Tren Bencana Hidrometeorologi di Sejumlah Wilayah per Juni 2026
Rangkuman data BNPB per 16 Juni 2026 mencatat kekeringan melanda Bekasi dan Klaten, banjir di Murung Raya Kalteng, serta karhutla 19 hektare di Labuan Bajo. (Dok. BNPB)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum fluktuasi kejadian bencana hidrometeorologi basah dan kering yang melanda sejumlah wilayah Indonesia dalam periode pemantauan 15–16 Juni 2026. Data terbaru menunjukkan terjadinya polarisasi bencana berupa krisis kekeringan di Pulau Jawa, banjir di Kalimantan, serta insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Nusa Tenggara Timur.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengonfirmasi bahwa fenomena kekeringan akibat ketiadaan curah hujan selama satu bulan terakhir mulai berdampak pada pasokan air bersih masyarakat di klaster wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, kekeringan melanda Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, yang menyebabkan 296 kepala keluarga (KK) atau sekitar 800 jiwa mengalami kelangkaan air bersih. Kondisi serupa terjadi di Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, di mana 393 KK atau 1.445 jiwa di tiga desa Kendalsari, Tegalmulyo, dan Tlogowatu mengalami hambatan serupa.

“Merespons fenomena tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi telah mendistribusikan air bersih kepada warga yang terdampak. Kebutuhan air bersih masyarakat terdampak telah mulai terpenuhi dan akan terus dilakukan hingga menjangkau seluruh wilayah yang membutuhkan,” kata Abdul Muhari dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (16/6/2026).

Gempa Darat Magnitudo 6,7 Guncang Sulawesi Tengah
Baca Juga

Gempa Darat Magnitudo 6,7 Guncang Sulawesi Tengah

Mengenai situasi di Jawa Tengah, ia menambahkan,

“Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah berkoordinasi dengan pemerintah desa serta melakukan pendistribusian air bersih kepada warga terdampak,” imbuhnya.

Banjir di Kalimantan Tegal dan Karhutla di Labuan Bajo
Kontras dengan situasi di Jawa, bencana hidrometeorologi basah berupa banjir melanda Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Luapan air merendam pemukiman di Desa Kalasin (Kecamatan Uut Murung), Kelurahan Beriwit dan Desa Bahitom (Kecamatan Murung), Desa Muara Joloi II (Kecamatan Seribu Riam), serta Kelurahan Tumbang Lahung (Kecamatan Permata Intan).

BNPB Rilis Penanganan Longsor Temanggung dan Angin Kencang di Sidrap
Baca Juga

BNPB Rilis Penanganan Longsor Temanggung dan Angin Kencang di Sidrap

Insiden tersebut berdampak pada 44 KK atau 278 jiwa, dengan 36 jiwa di antaranya terpaksa mengungsi ke tempat aman. “Pendataan dan penanganan banjir masih terus dilakukan oleh BPBD setempat bersama instansi terkait di lapangan. Kondisi banjir dilaporkan berangsur surut,” papar Abdul Muhari.

Sementara itu, dari sektor karhutla, tim gabungan berhasil mengendalikan kebakaran lahan seluas 19 hektare di kawasan perbukitan Bukit Silvia, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, yang terjadi sejak Kamis (11/6/2026). Kebakaran tersebut diduga dipicu cuaca panas ekstrem dan vegetasi rumput kering.

Imbauan Mitigasi Sektoral
Merespons potensi bencana yang dipengaruhi anomali cuaca ini, otoritas kebencanaan nasional meminta pemerintah daerah memperkuat kesiapsiagaan operasional sesuai dengan kerentanan geografis masing-masing.

“Masyarakat di daerah rawan kekeringan diharapkan menggunakan air secara bijak serta segera melaporkan apabila mengalami kesulitan memperoleh akses air bersih agar dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah. Di sisi lain, masyarakat yang berada di wilayah rawan banjir diminta tetap waspada terhadap kemungkinan hujan dengan intensitas tinggi yang dapat memicu genangan maupun luapan sungai,” imbau Abdul Muhari.

BNPB juga meminta publik untuk terus memperbarui perkembangan dinamika atmosfer atmosferik melalui kanal resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta mematuhi protokol evakuasi taktis yang dikeluarkan oleh BPBD setempat guna meminimalisasi risiko indeks fatalitas.

(Hendrawan)