Koalisi Rimpang Borneo bersama warga Desa Kuala Karang menanam 500 bibit mangrove di pesisir desa sebagai upaya mitigasi abrasi dalam rangkaian peringatan Hari Bumi 2026, Minggu (26/4/2026). (Dok. Fatoni/Nusantara Post)
Rinai gerimis menemani perjalanan menuju pesisir Kuala Karang, Kabupaten Kubu Raya. Lokasi yang menjadi tujuan dari aksi nyata perayaan Hari Bumi 2026 di Kalimantan Barat ini ditempuh beberapa jam melalui jalur darat. Binar matahari pagi masih setia bersembunyi di balik awan hujan kala tim menapaki jalan bebatuan, setapak kebun sawit, hingga patahan aspal yang masih tersisa di rute jalan, Sabtu (25/4/2026).
Setibanya disana, aroma pekat ikan asin produk olahan tradisional masyarakat setempat menyapa indera penciuman jurnalis Nusantara Post beserta rombongan Mapalase-Kalimantan Barat, menyatakan bahwa langkah kami telah mendarat pada jantung permukiman yang berbatasan dengan laut lepas.
Beberapa warga tengah bersila di teras rumah, air mukanya berubah kala sudut mata mereka menjumpai rombongan sepeda motor kami, senyumnya merekah sempurna kala roda motor kami menjejaki jalanan kecil menggantung dari tanah yang sudah mulai dihiasi lubang-lubang.
Pada teras rumah di jam berikutnya setelah menelusuri desa ini kami pun terlibat dalam cengkrama dengan penduduk desa. Lia salah seorang warga yang menceritakan bahwa dirinya pernah terperosok dalam lubang jalan bertepatan saat listrik mati.
“Ini masuk dalam lubang, malam (api) kan mati kita ndak liat tu perasaan kita kan bagus jak jalannya tu, sekali tiba-tiba masuk dalam lubang tu,” ceritanya membuka percakapan teras rumah disore itu.
Nui warga yang lainnya turut dalam perbincangan ini, ia memperagakan bagaimana Lia saat terperosok dalam lubang di jalanan desa mereka. “Aduh jatuh aku katanya, apa Lia? Kata kami, sekali nengok mak berdarah tu,” ujar Nui menirukan ucapan Lia.
Perempuan paruh baya itu mengeluhkan bagaimana usia mulai mempengaruhi jarak pandang terlebih saat harus melewati jalan yang didominasi lubang. “Mate kite ni kalau dah malam, kite dah tue manalah yang dipijak sana lah yang kena,” keluh Nui.
Lia turut mengungkapkan bahwa tak masalah meski jalan yang mereka miliki masih dipenuhi lubang asalkan listrik tetap menyala, agar dia dan penduduk lain dapat berjalan-jalan dengan aman tanpa menerawang dengan cahaya seadanya bahkan saat dilingkupi kegelapan sekalipun.
“Kalau (api) hidup sih nda pedulilah mau lubangnya banyak, kalau apinya mati nih, kadang kalau pas tidur dah gelap dah kilometer kletek kletek mati hidup mati hidup, ujung-ujungnya matikan kilometer, takut rusak. Kita ni mau berusak itu kita ni orang tak punya duit, itupun dapat bantuan serta dengan rumah, kalau kita mau bebeli semua gimana cari duit, kita ni orang yang tak mampu, makan jak kita susah apalagi mau bikin rumah yang bagus, nak beli kilometer, kita ni orang yang tak mampu,” sambung Lia.
Dalam sela obrolan sore itu tak hanya berbincang mengenai infrastruktur jalan yang rusak namun bayangan abrasi yang menghantam rumah medio Januari 2019 serta sekolah dasar sekitar tiga tahun lalu masih membekas dalam ingatan masyarakat setempat. Nui menyampaikan bagaimana trauma yang belum pulih pasca kejadian.
“Kita lihat tu kenyataan dah dipandang, tebayang-bayang masih ada terus, capek nyuci kalau dah surut, lantai kita ni nda nampak penuh lumpur ikutan, cepat sih surut. Kita ni tempat rawan dah,” jelas Nui.
Meskipun lebih aman daripada rumah lain yang benar-benar berada di pemukiman saat hujan dan angin ribut datang mobilitas serta aktivitas melaut maupun mencari penghasilan dari sungai sekitar pemukiman tetap terganggu dan cukup menyulitkan warga.
“Kalau kita ni kata orang jauh dari jauh gak ke darat maseh, kalau orang dekat pantai susah. Disini sih kata orang emang bagus tapi kalau dah musim hujan, musim banjir angin ribut mau keluar kemana pun nda bisa mau cari kepiting, cari tengkuyung nda bisa jadi diam jaklah di rumah, jadi nda ada penghasilanlah dalam rumah jak sejuk apalagi mau turun ke bawah (sungai) buat nyari,” keluh Lia.
Keesokan paginya kala cahaya fajar menyapa dari ufuk timur, menerangi tangan-tangan yang mulai mengeruk lumpur sembari menanam satu persatu bibit mangrove.
500 bibitmangrove juga melewati perjalanan panjang bersama kami untuk ditanam di Desa Kuala Karang, dengan sejuta harapan memperlambat abrasi dan lumpur tak lagi menerobos hingga ke teras rumah Nui serta warga lainnya, hingga tak melahirkan trauma baru yang membekas di kemudian hari.
“Pesan yang ingin saya sampaikan pada penanaman kali ini adalah menjaga atau memperlambat dari abrasi, walaupun kita tau bahwa abrasi pasti terjadi. Tapi dengan adanya penanaman ini diharapkan bisa memperlambat abrasi di kemudian hari. Kami menanam di belakang pemecah ombak hingga saat, saat tanaman ini berkembang pemerintah melakukan penambahan untuk pemecahan ombak agar abrasi yang terjadi tidak terlalu besar,” ujar Satria Ramadhan Ketua Mapala Enggang Gading IAIN Pontianak yang turut tergabung dalam Koalisi Rimpang Borneo, Minggu, (26/4/2026).
Akses perjalanan kembali ia singgung, melihat potensi yang sebenarnya ada di Desa Kuala Karang. Meski memiliki dua jalur yang dapat dilewati yakni jalur darat dan air, namun jalur darat yang rusak dan sempit menolak keras untuk dilewati kendaraan beroda empat.
“Untuk akses jalan kesini kan kita melalui darat ya dan tidak bisa pakai mobil kita harus menggunakan sepeda motor, bisa juga menggunakan kelotok namun ya lumayan juga kan, jadi untuk aksesnya mungkin kedepannya di desa Kuala Karang ini kalau kami lihat ini bisa menjadi potensi bahwa ini bisa dijadikan tempat wisata ini bisa dijadikan pertumbuhan ekonomi masyarakat atau pemerintah, jadi jalannya itu bisa diperbaiki untuk menuju akses kesini,” harap Satria.
Apresiasi diberikan oleh pihak desa kepada agenda yang terselenggara di desa ini. Ia juga berharap dengan giat aksi ini terlaksana orang-orang dapat mengetahui bagaimana kondisi desa sebenarnya serta pemangku kepentingan melihat bagaimana desa ini bertahan meski pemecah ombak yang tertanam di pesisir depan kantor desa masih belum terasa maksimal.
“Kami dari pihak desa mengapresiasi sekali atas kegiatan ini, semoga ini bukan menjadi akhir yang akan dilakukan teman-teman Mapala se- Kalbar dan organisasi yang ada di Pontianak, Harapan kami ini bisa menjadi media informasi untuk menyampaikan keadaan desa seperti ini. Diharapkan juga kepada pemerintah baik di tingkat kabupaten, provinsi, ataupun nasional kiranya dapat memperhatikan keadaan desa kami, Desa Kuala Karang mengalami abrasi yang cukup parah sehingga sejauh ini benteng-benteng yang dibuat untuk menahan abrasi masih kita rasa belum maksimal. Tapi kita sudah lumayan bersyukur untuk dapat menghambat laju gelombang yang mengenai pemukiman warga di Desa Kuala Karang,” ujar Henderi selaku Kasi Kesejahteraan desa Kuala Karang setelah penanaman mangrove selesai.
Aksi penanaman mangrove hanyalah salah satu gerakan mitigasiteguran alam berupa abrasi kehidupan pesisir Kuala Karang, efisiensi anggaran kembali menjadi bayang-bayang persoalan krusial lainnya.
Pemotongan anggaran desa menjadi kendala dari belum terbangunnya akses jalan yang lebih layak bagi masyarakat setempat. Henderi mengaku bahwa anggaran yang difokuskan pada perbaikan jalan bergeser dan dialokasikan untuk program Koperasi Merah Putih.
Akses jalan terputus di Desa Kuala Karang, Kabupaten Kubu Raya, yang menjadi keluhan utama warga dan belum diperbaiki akibat pemotongan anggaran desa yang dialihkan untuk program Koperasi Merah Putih, April 2026. (Dok. Fatoni/Nusantara Post)
“Kalau kita melihat jalan di internal desa kita, kita berusaha lebih baik dari tahun ke tahun gitukan, namun di tahun 2026 ada pemotongan anggaran, dialokasikan untuk Koperasi Merah Putih, sudah ada beberapa jalan yang diprioritaskan tapi kita pending sementara. Sebenarnya Koperasi Merah Putih memang nantinya akan berdampak ke perbaikan ekonomi masyarakat desa tapi kita harus berpikir sistem yang harus memotong anggaran desa hingga kami harus berpikir ekstra, “ jelasnya.
Meskipun memiliki dua jalur memasuki Desa Kuala Karang, Henderi mengatakan masyarakat desa tetap memilih menempuh jalur darat daripada jalur laut meski jalan memprihatinkan.
“Paling sering karena sekarang sudah enaknya pakai sepeda motor. Walaupun kondisi jalannya memprihatinkan masyarakat lebih senang pakai motor. Presentasinya itu bisa 80% sampai 90% dari masyarakat desa kita menggunakan akses sepeda motor,” terang Henderi menutup pembicaraan kami.
Nadi pesisir Kuala Karang terus berdenyut di tengah tantangan geografis serta ketimpangan akses kesejahteraan masyarakat setempat.
Perjalanan ini merupakan rangkaian lanjutan dari mimbar bebas ala mahasiswa, diskusi dan nonton bareng (nobar)video plastik Senin, (20/4/2026).