Rab, 08/07/26 · 13.00.57
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Logistik

Harga Telur dan Ayam Broiler Anjlok di Tengah Lonjakan Biaya Pakan, Peternak: Lebih Parah dari Zaman Covid

Memei
Memei
Rabu, 8 Juli 2026 · 18:122 menit baca
Harga Telur dan Ayam Broiler Anjlok di Tengah Lonjakan Biaya Pakan, Peternak: Lebih Parah dari Zaman Covid
Peternak mandiri saat ini mengeluhkan minimnya keuntungan akibat harga telur yang anjlok di bawah standar operasional, Selasa (7/7/2026). (Dok. Ditjen Peternakan & Keswan)

Beban berat kini tengah menghimpit para pelaku usaha sektor perunggas (unggas) tanah air. Fenomena anjloknya harga telur ayam ras dan ayam hidup (livebird) di tingkat peternak yang telah berlangsung selama sebulan terakhir, diperparah oleh tren kenaikan harga pakan yang kian melambung tinggi.

Kondisi tidak seimbang antara harga jual yang murah dan biaya produksi yang mahal ini dinilai mengancam keberlangsungan usaha peternakan rakyat.

Rifky Adnando, seorang peternak ayam petelur asal wilayah Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengungkapkan bahwa kemerosotan harga telur ayam ras telah berjalan sejak sebulan lalu. Penurunan ini membuat selisih harga jual di lapangan semakin jauh di bawah angka normal.

“Kalau di tingkat peternak koperasi Rp20.500 tapi saya gak jual segitu, jual Rp21.500. Itu turun jauh, sebelumnya mah telur standarnya Rp26.000, turun jadi Rp21.000 itu sudah sebulan ini,” kata Rifky Selasa (7/7/2026).

Ironisnya, di tengah pelemahan harga telur, Rifky harus menghadapi lonjakan biaya produksi akibat naiknya harga pakan. Kenaikan harga pakan tersebut dipicu langsung oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), mengingat mayoritas bahan baku pakan masih bergantung pada komoditas impor.

harga-telur-ayam-ras-anjlok-skema-serapan-logistik-program-makan-bergizi-gratis.jpg
Stok telur ayam ras melimpah dari peternak mandiri yang didorong untuk diserap sebagai pasokan logistik. (Dok. HO/TNP)

Untuk pakan ayam petelur, harga kini melompat ke angka Rp380.000 per 50 kilogram (kg), dari yang sebelumnya hanya berkisar Rp340.000 per 50 kg. Kenaikan sebesar Rp40.000 tersebut dilaporkan terjadi secara bertahap dalam dua bulan terakhir.

Rifky bahkan mengaku iklim usaha dan penjualan telur ayam ras pada periode bulan ini dirasakan jauh lebih buruk jika dibandingkan dengan masa krisis saat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.

“Sekurangnya ini harga telur murah pakan mahal, gak imbang. Dulu malah Covid gak kayak gini, masih enakan zaman Covid [penjualannya]. Ini lebih parah dari Covid,” keluhnya.

Kondisi yang tidak kalah memprihatinkan juga dirasakan oleh Dadang, seorang peternak ayam pedaging (broiler) yang beroperasi di wilayah yang sama, Gunung Sindur.

Dadang memaparkan bahwa harga ayam hidup di tingkat peternak terjun bebas ke bawah rata-rata setelah mengalami tren penurunan dalam satu bulan terakhir.

“Harga sekarang ayam hidup Rp17.000 ukuran 0,8 sampai sekilo, sebelumnya di antara angka Rp23.000 hingga Rp24.000, sudah sebulan ini,” jelas Ajat.

Dampak dari anjloknya harga ayam potong tersebut secara otomatis membuat omzet pemasukan usahanya menyusut drastis hingga menyentuh angka 50 persen.

Di waktu yang bersamaan, harga pakan untuk ayam jenis broiler juga ikut terkerek naik dari harga semula Rp430.000 menjadi Rp460.000 per kemasan 50 kg.

Hingga saat ini, para peternak mandiri di daerah berharap ada langkah intervensi dari pemerintah untuk menstabilkan harga jual di tingkat hilir dan mengendalikan laju harga bahan baku pakan di tingkat hulu demi menyelamatkan industri perunggas rakyat.

(Memei)