Sel, 30/06/26 · 12.07.54
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Internasional

Kemunculan Kucing Colo-Colo di Chile Dorong Percepatan Konservasi Habitat

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Selasa, 30 Juni 2026 · 17:212 menit baca
Kemunculan Kucing Colo-Colo di Chile Dorong Percepatan Konservasi Habitat
Penampakan kucing liar langka colo-colo di alam bebas Chile memicu percepatan konservasi habitat. Aliansi satwa perketat pengawasan dari ancaman industri tambang. (Dok. Folktheuticc/via Instagram)

Kemunculan spesies kucing liar langka jenis colo-colo (Leopardus colocola) di alam bebas Chile baru-baru ini menarik perhatian publik dan komunitas ilmiah internasional. Penampakan predator kecil yang dikenal sangat pemalu ini menjadi momentum krusial bagi pelestarian ekosistem dataran tinggi Amerika Selatan yang kian terfragmentasi oleh aktivitas industri dan ekspansi urbanisasi.

Colo-colo merupakan kucing liar berukuran kecil yang habitatnya tersebar dari pegunungan Andes hingga padang rumput terbuka. Kemampuan kamuflase yang tinggi melalui pola bulu bergaris dan berbintik membuat hewan ini sangat mudah luput dari pengamatan manusia dan jarang muncul di habitat aslinya.

“Penampakan seperti ini sangat jarang terjadi, sehingga menjadi perhatian besar bagi pecinta satwa liar,” ungkap sejumlah laporan pengamat satwa liar di lapangan.

Ancaman Industri dan Satwa yang Terfragmentasi
Kondisi ekologis di kawasan tersebut kian menantang karena wilayah jelajah colo-colo beririsan dengan habitat kucing Andes (Leopardus jacobita), salah satu kucing paling langka di dunia yang berstatus Terancam Punah dalam Daftar Merah IUCN. Populasi globalnya diperkirakan hanya tersisa sekitar 2.177 individu dewasa dan terus mengalami tren penurunan.

Gagal Penuhi Target Kerja, Seluruh Anggota Kabinet Guinea Ekuatorial Mengundurkan Diri
Baca Juga

Gagal Penuhi Target Kerja, Seluruh Anggota Kabinet Guinea Ekuatorial Mengundurkan Diri

Spesies-spesies ini menghadapi tekanan berat akibat penambangan skala besar untuk komoditas litium, emas, serta ekstraksi minyak dan gas (fracking). Selain kerusakan ekosistem rawa dan lahan gambut dataran tinggi (bofedales), kucing-kucing ini menghadapi ancaman kematian langsung akibat konflik dengan peternak lokal, serangan anjing peliharaan, serta kecelakaan lalu lintas di jaringan jalan industri. Perubahan iklim juga memperparah kondisi dengan menggeser batas aman habitat mereka ke wilayah yang lebih tinggi.

Mobilisasi Jaringan Konservasi Komunal
Merespons ancaman tersebut, Aliansi Kucing Andes (Andean Cat Alliance/AGA) bersama lembaga mitra internasional mengintensifkan gerakan perlindungan berbasis komunitas di sejumlah wilayah Chile. Upaya ini mencakup pendekatan edukasi budaya serta pelatihan taktis bagi warga lokal.

Perwakilan tim konservasi, Rodrigo Villalobos, memaparkan bahwa pihaknya telah merampungkan agenda penyadaran ekologis melalui program seni di wilayah Coquimbo dan Santiago guna menjembatani kesenjangan informasi mengenai keberadaan kucing liar dilindungi tersebut di tingkat tapak.

AS dan Iran Resmi Teken MOU Damai, Sepakat Akhiri Perang dan Buka Selat Hormuz
Baca Juga

AS dan Iran Resmi Teken MOU Damai, Sepakat Akhiri Perang dan Buka Selat Hormuz

“Kami menyelesaikan mural pertama yang berkaitan dengan kucing Pampas di sebuah sekolah lokal di wilayah tersebut (Coquimbo) dan negara (Chili). Kami bangga memberi tahu Anda bahwa kami bekerja selama 1 minggu dengan anak-anak setempat untuk mengembangkan kesadaran konservasi kucing liar. Kucing Pampas secara lokal disebut Colo-Colo, dan juga merupakan nama tim sepak bola paling terkenal di negara ini. Sayangnya, kesadaran terkait kucing ini masih kurang dipahami. Oleh karena itu, ini adalah misi kami di seluruh negeri,” kata Rodrigo Villalobos dalam laporan tertulisnya.

Di wilayah ibu kota Santiago, organisasi penyelemat satwa membentuk kelompok sukarelawan bernama “Guardianes del Gato Andino” (Penjaga Kucing Andes). Melalui kolaborasi bersama akademisi dari Universidad de Santiago seperti pakar ekologi Darío Moreira, kelompok ini dilatih menggunakan teknik ekologi dan deteksi satwa di lapangan. Program tersebut diproyeksikan berkembang menjadi sertifikasi resmi guna mendorong sektor pariwisata ekologis berbasis pelestarian lingkungan.

Jaringan konservasi global, termasuk Wildlife Conservation Network yang didukung oleh peneliti seperti Jim Sanderson dan Lilian Villalba, memastikan seluruh penyaluran donasi internasional dialokasikan langsung untuk operasional pemantauan perangkap kamera dan mitigasi konflik satwa di alam liar.

(Dayank Ana)