Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Demokrasi

Aksi September Hitam GMNI IAIN Pontianak: Merawat Ingatan HAM dan Soroti Kabut Asap di Kalbar

Roska Putra
Roska Putra
Jumat, 25 September 2026 · 16:312 menit baca
Aksi September Hitam GMNI IAIN Pontianak: Merawat Ingatan HAM dan Soroti Kabut Asap di Kalbar
Kader GMNI IAIN Pontianak mengepalkan tangan dan membawa poster aksi saat merawat ingatan September Hitam di Gazebo IAIN Pontianak. (Dok. HO/Nusantara Post)

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat IAIN Pontianak menggelar aksi refleksi September Hitam di Gazebo IAIN Pontianak, Kamis (24/9/26).

Aksi yang diisi dengan orasi, pembacaan puisi, dan lagu-lagu perjuangan tersebut digelar untuk merawat ingatan publik terhadap berbagai peristiwa pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) sekaligus menyoroti krisis lingkungan dan sosial di Kalimantan Barat.

Aksi refleksi ini berlandaskan pada catatan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengenai serangkaian peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia yang terjadi sepanjang bulan September, seperti tragedi Semanggi II (1999) dan pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib (2004).

Bagi GMNI IAIN Pontianak, peringatan sejarah tersebut harus terus ditautkan dengan kondisi riil masyarakat hari ini, terutama terkait krisis ekologi berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta bencana kabut asap yang masih mengepung wilayah Kalimantan Barat.

Hadapi Karhutla dan Air Payau, Pemprov Kalbar Dorong Langkah Mitigasi Terpadu
Baca Juga

Hadapi Karhutla dan Air Payau, Pemprov Kalbar Dorong Langkah Mitigasi Terpadu

“Ingatan tentang ketidakadilan akan kehilangan maknanya jika kita memilih diam ketika persoalan serupa terjadi di sekitar kita,” tegas GMNI IAIN Pontianak dalam pernyataan sikapnya.

Persoalan karhutla di Kalimantan Barat sepanjang September 2026 berdampak langsung pada ruang hidup masyarakat. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bahkan sempat memperpanjang Status Tanggap Darurat Bencana Asap akibat karhutla hingga 20 September 2026.

Data Kementerian Kehutanan pada 10 September juga menunjukkan kondisi berasap di Kota Pontianak dengan jarak pandang tersisa sekitar 1,2 kilometer berdasarkan pantauan BMKG.

Dampak bencana asap ini berimbas nyata pada sektor kesehatan. Dinas Kesehatan Kalimantan Barat mencatat sebanyak 165.727 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terjadi sepanjang 1 Januari hingga 22 Agustus 2026 berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).

Buntut Video Bakar Lahan, Diduga Anak Buah Anggota DPRD Mempawah Intimidasi Kader HMI
Baca Juga

Buntut Video Bakar Lahan, Diduga Anak Buah Anggota DPRD Mempawah Intimidasi Kader HMI

Dalam aksi simbolis tersebut, para peserta juga membacakan bait puisi bertajuk Di Hari Kematianku sebagai penegasan pesan perlawanan terhadap ketidakadilan:

“Maka di hari kematianku, kawan Pastikan suaraku datang laut Pastikan jiwaku menjadi bagian dari api Pastikan ruhku menghidupi sajak ini.”

Rangkaian refleksi ditutup dengan melantunkan lagu Di Udara karya Efek Rumah Kaca yang identik dengan pengingat sosok Munir.

Melalui aksi ini, GMNI IAIN Pontianak menegaskan bahwa merawat ingatan adalah landasan untuk mengawal kebebasan berpendapat, memperjuangkan hak masyarakat atas lingkungan yang sehat, serta memastikan suara warga tetap terdengar.

“Rawat ingatan. Kawal keadilan. Jaga persatuan.”

(Roska)