Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masif melanda kubah gambut di Kalimantan Barat memicu ancaman pelepasan emisi gas rumah kaca hingga mencapai ribuan ton karbon per hektar. Kerusakan ini diperparah oleh hilangnya lapisan gambut akibat praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar serta kelalaian pihak korporasi dalam menjaga tata kelola hidrologis atau kelembaban area konsesi.
Pakar Gambut Fakultas Kehutanan Untan, Dwi Astiani, saat ditemui di Aula Bungur Fahutan Untan memaparkan bahwa hilangnya 10 hingga 20 sentimeter lapisan gambut ekuivalen dengan menguapnya 200 hingga 300 ton karbon.
“Kalau sampai kedalaman satu meter misalnya dia terbakar, tentu akan sangat banyak, bisa 1.000 ton per hektar kehilangannya. Dan itu berdampak kepada pengiriman CO2 ke atmosfer yang menyebabkan pemanasan global,” papar Dwi secara tajam.


