Lembaga swadaya masyarakat Lingkar Pengakar Borneo (Link-AR Borneo) menilai bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang kembali melanda Kalimantan Barat berakar dari masalah ketimpangan penguasaan ruang oleh korporasi skala besar, Rabu, (2/9/2026).
Lonjakan titik panas di Kalbar dilaporkan mencapai 6.526 titik per akhir Agustus berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan, yang turut memicu kualitas udara kategori berbahaya di Pontianak, menewaskan dua warga di Ketapang dan Kubu Raya, serta menyebabkan sebaran kabut asap lintas batas negara menuju Sarawak, Malaysia.
Kritik terhadap arah penegakan hukum dan kebijakan pemerintah yang dinilai belum menyentuh aktor korporasi pemegang izin konsesi disampaikan oleh Direktur Link-AR Borneo, Ahmad Syukri.
“Bencana serupa dalam skala besar telah terjadi berulang sejak 1997-1998, 2015, 2019, dan kini kembali pada 2026, bukti bahwa penanganan selama ini tidak pernah menyentuh akar persoalan,” ujar Ahmad Syukri, Rabu, (2/9/2026).

