Pergantian pucuk pimpinan Badan Komunikasi Pemerintah (BAKOM) dari M. Qodari kepada Syahganda Nainggolan pada Jumat (2/10/2026) dilaporkan belum mampu meredam gelombang sentimen negatif masyarakat di ruang digital, Minggu, (4/10/2026).
Berdasarkan analisis Big Data yang dirilis lembaga Deep Intelligence Research (DIR) untuk kurun waktu 30 September hingga 3 Oktober 2026, resistensi publik masih berakar kuat pada persoalan integritas, alokasi anggaran, struktur kabinet yang gemuk, hingga tudingan lembaga tersebut sebagai instrumen pengendali narasi.
Dari total 8.622 konten media sosial yang dihimpun selama periode analisis, sebanyak 53 persen percakapan bernada negatif, 9,1 persen bersentimen positif, dan sisanya tergolong netral. Sementara itu di media massa arus utama, peta sentimen bergerak lebih berimbang dengan torehan positif 39,1 persen, negatif 36,2 persen, dan netral 24,6 persen.
Perlunya pembenahan menyeluruh terhadap pola komunikasi lembaga negara tersebut diutarakan langsung oleh Direktur Komunikasi Deep Intelligence Research, Neni Nur Hayati.
Tuntutan perubahan gaya penyampaian pesan ditekankan dalam keterangannya.
“Pergantian pejabat belum cukup jika tidak diikuti perubahan pola dan gaya komunikasi,” kata Neni, Minggu, (4/10/2026).
Tekanan paling masif di media sosial terpantau pada tudingan BAKOM sebagai alat kontrol narasi atau kelompok pendengung (buzzer) pemerintah yang mencapai 96 persen negatif, isu politik bagi-bagi jabatan sebesar 83,6 persen negatif, serta sorotan pemborosan anggaran dan kabinet gemuk sebesar 83 persen negatif.
Tantangan kepemimpinan baru dalam memulihkan kredibilitas lembaga di hadapan masyarakat diuraikan dalam penjelasannya.
“Pak Kepala BAKOM yang baru punya tantangan yang tidak mudah, yakni membangun trust publik bahwa komunikasi yang disampaikan adalah komunikasi yang tulus, jujur, dan disertai data dan bukti yang kredibel tentang kerja-kerja pemerintahan Prabowo. Pak Syahganda harus banyak turun ke bawah, dengan bahasa masyarakat bawah, dan mengedepankan empati rakyat. Tidak cukup hanya mengandalkan rilis-rilis berita saja,” tutur Neni.
Kesenjangan persepsi tampak cukup mencolok antara media massa arus utama yang memberi ruang apresiasi terhadap gagasan dialog dua arah, berbanding terbalik dengan linimasa jejaring sosial yang didominasi emosi kemarahan sebesar 12,3 persen, ekspresi jijik 11,5 persen, serta kepercayaan (trust) yang hanya tersisa 0,26 persen.
Sentimen miring warganet juga dipicu isu pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan algoritma sebesar 57 persen negatif, beredarnya isu surat kaleng serta anggaran belanja iklan Rp60 miliar sebesar 63,4 persen negatif, hingga polemik mundurnya Deputi II menyangkut sorotan gaya hidup mewah sebesar 66,5 persen negatif.
Pentingnya pemulihan kepercayaan masyarakat disuarakan dalam pandangannya.
“Trust ini yang harus diperbesar dan ditumbuhkan oleh komunikasi BAKOM dibawah Kepala BAKOM yang baru,” tambah Neni.
Guna memperbaiki citra kelembagaan, kepemimpinan baru BAKOM disarankan mengadopsi pendekatan komunikasi dua arah (two-way communication), transparan terhadap penggunaan anggaran belanja negara, serta responsif menanggapi kritik etika tanpa terkesan bersikap superior.