Rab, 26/08/26 · 06.54.19
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Budaya

Borneo Metamorfosa 2026 Hidupkan Folklore Kalimantan Lewat Seni Rupa Kontemporer

Hendrawan
Hendrawan
Rabu, 26 Agustus 2026 · 11:552 menit baca
Borneo Metamorfosa 2026 Hidupkan Folklore Kalimantan Lewat Seni Rupa Kontemporer
Puji Rahayu Ketua Panitia Borneo Metamorfosa 2026 memberikan penjelasan mengenai pameran seni rupa di Pontianak. (Dok. Nusantara Post/Hendrawan)

Sebanyak 24 seniman lintas provinsi se-Kalimantan mengubah akar tradisi dan folklore lokal menjadi lebih dari 30 ragam karya seni rupa kontemporer dalam pameran Borneo Metamorfosa 2026 yang digelar di Gedung Wawasan Nusantara, Museum Provinsi Kalimantan Barat, Selasa (25/8/2026).

Mengusung tajuk “Studi Folklore Melalui Ruang Rupa Berkelanjutan”, pameran perjumpaan budaya yang berlangsung hingga 29 Agustus 2026 ini tidak ditujukan untuk sekadar mengulang wujud tradisi masa lalu secara kaku.

Budaya lokal justru dinegosiasikan dengan arus modernitas guna melahirkan karya visual yang segar dan relevan dengan perkembangan zaman.

Para seniman mengeksplorasi memori kolektif tersebut melalui pelbagai medium, mulai dari seni lukis surealis, lukisan digital, karya instalatif, kriya, patung, hingga mahakarya batik tulis dan anyaman yang dipadukan dengan teknik ecoprint.

Satu Peleton Brimob Polri Tiba di Melawi, Perkuat Penanganan Karhutla
Baca Juga

Satu Peleton Brimob Polri Tiba di Melawi, Perkuat Penanganan Karhutla

Ketua Panitia Borneo Metamorfosa 2026, Puji Rahayu, menegaskan bahwa esensi dari pameran ini terletak pada transformasi budaya itu sendiri.

“Borneo Metamorfosa itu bermakna perubahan, yaitu bagaimana inspirasi dari budaya tradisi bertransformasi menuju modernitas. Seniman membaca dan mencari referensi budaya lokal yang mungkin sudah jarang kita lihat, lalu mengungkapkannya ke dalam kebebasan visual dan imajinasi simbolik yang tidak selalu realistik,” jelas Puji.

Pameran kelima yang terselenggara sebagai wujud pemanfaatan Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan ini menghadirkan 16 perupa asal Kalimantan Barat, serta delapan seniman tamu dari Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Utara.

Puji menyoroti bahwa meski pameran ini kerap mengubah subtema di setiap gelarannya seperti pernah mengangkat isu budaya air fondasi karyanya tetap berakar kuat pada tradisi Kalimantan yang divisualkan secara berbeda oleh masing-masing seniman.

Kualitas Udara Pontianak Memburuk, Indeks Pencemaran Tembus Status Sangat Tidak Sehat
Baca Juga

Kualitas Udara Pontianak Memburuk, Indeks Pencemaran Tembus Status Sangat Tidak Sehat

Di sisi lain, sudut pandang mendesak dari perhelatan ini adalah keberpihakan pameran terhadap literasi dan edukasi generasi muda di tengah tantangan lingkungan.

Meskipun cuaca Kota Pontianak saat ini tengah diselimuti kabut asap, ruang pameran indoor ini didesain menjadi oase sekaligus ruang belajar yang aman bagi para pelajar.

“Ini momen penting untuk edukasi anak-anak, terutama pelajar sejak dini. Mengingat cuaca yang berasap, area di dalam ruang pamer ini menjadi tempat yang tepat. Harapannya, pameran yang tidak dipungut biaya ini bisa masuk ke referensi mata pelajaran seni budaya, agar anak-anak tahu bahwa seni rupa itu sangat bervariasi, tidak melulu hanya lukisan,” ungkap seniman perempuan tersebut.

Sebagai bukti nyata komitmen regenerasi, panitia tidak hanya menggandeng kalangan profesional, melainkan turut menyeleksi dan melibatkan langsung empat talenta muda dari jenjang SD hingga SMA untuk memamerkan karya mereka bersama para perupa senior.

Lebih dari sekadar unjuk estetika, Borneo Metamorfosa 2026 membuktikan bahwa keberlanjutan budaya sejatinya dapat terwujud melalui kemampuan menafsirkan kembali tradisi masa lalu untuk menjawab tantangan masa depan.

Selama lima hari penyelenggaraannya, publik tidak hanya disuguhkan pameran visual, tetapi juga diajak merefleksikan kebudayaan lewat agenda sarasehan, bedah karya, serta ruang belajar kolaboratif bersama para seniman.

(Hendrawan)