Kam, 27/08/26 · 16.20.04
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Atasi Krisis Air Payau, DPRD Pontianak Siap Lobi Komisi V DPR RI Demi Waduk Penepat

Hendrawan
Hendrawan
Kamis, 27 Agustus 2026 · 21:561 menit baca
Atasi Krisis Air Payau, DPRD Pontianak Siap Lobi Komisi V DPR RI Demi Waduk Penepat
Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin memberikan keterangan saat meninjau lokasi penanganan krisis air baku Waduk Penepat. (Dok. Nusantara Post/Hendrawan)

Ketua DPRD Kota Pontianak, Satarudin, bersiap melobi Komisi V DPR RI di Jakarta guna mengamankan intervensi dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) demi menuntaskan proyek strategis Waduk Penepat di Kecamatan Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (27/8/2026).

Langkah politik ini diambil lantaran beban pemenuhan air baku membutuhkan pembangunan infrastruktur berskala besar yang tidak sanggup ditanggung sepenuhnya oleh APBD kota.

Saat ini, perbaikan infrastruktur di Waduk Penepat tengah berjalan menggunakan alokasi dana APBN senilai Rp16,6 miliar melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan I.

“Penyediaan air bersih sesuai undang-undang adalah urusan pemerintah pusat. Nanti Pak Wali Kota akan menyiapkan proposalnya, dan saya bersama beliau akan langsung menghadap Ketua Komisi V DPR RI untuk mengawal penyelesaian Waduk Penepat ini agar penganggarannya berlanjut,” tegas Satarudin saat mendampingi peninjauan di lokasi waduk.

Pekan Raya Pontianak Hadirkan 20 Ribu Pengunjung, Satarudin Dorong Kolaborasi Antar-Lembaga di Tahun Depan
Baca Juga

Pekan Raya Pontianak Hadirkan 20 Ribu Pengunjung, Satarudin Dorong Kolaborasi Antar-Lembaga di Tahun Depan

Krisis air baku akibat tingginya intrusi air laut ini tidak hanya menyulitkan masyarakat, tetapi juga memukul struktur keuangan Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa. Tingkat salinitas air yang ekstrem memaksa perusahaan daerah tersebut menelan kerugian operasional di tengah merosotnya kualitas layanan.

Terkait wacana pemotongan tagihan air atau kompensasi bagi pelanggan yang terdampak air payau, Direktur PDAM Tirta Khatulistiwa, Abdullah, menyatakan hal tersebut belum dapat diputuskan secara terburu-buru.

“Untuk pengurangan tagihan air, kami masih dalam tahap kajian. Hasilnya nanti akan kami rapatkan dengan Dewan Pengawas sebelum dilaporkan ke kepala daerah. Namun yang pasti, dalam kondisi kemarau ini potensi pendapatan kami berkurang, sementara biaya operasional justru bertambah tinggi,” pungkas Abdullah.

(Hendrawan)