Sebanyak 3.734 warga di Provinsi Kalimantan Tengah dilaporkan terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang periode 17 hingga 23 Agustus 2026 akibat paparan kabut asap pekat yang dipicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Rabu (26/8/2026).
Tingginya intensitas kabut asap membuat 50 pasien di antaranya harus menjalani perawatan rawat inap di sejumlah fasilitas kesehatan.
Data Pengelola Program Krisis Kesehatan/Bencana Dinas Kesehatan Kalteng mencatat Kota Palangka Raya menjadi wilayah terdampak terparah dengan menyumbang 695 kasus.
Disusul kemudian oleh Kabupaten Kotawaringin Timur dengan 435 kasus, Kotawaringin Barat 427 kasus, Barito Timur 369 kasus, serta Barito Selatan 318 kasus. Sementara itu, angka penderita terendah tercatat di Kabupaten Sukamara dengan 45 kasus.
Meski jumlah kasus pada pekan ketiga Agustus ini terhitung melandai dibanding pekan sebelumnya yang sempat mencapai 3.874 kasus, ancaman kesehatan masyarakat belum mereda.
Pemantauan Indeks Kualitas Udara (AQI) per 23 Agustus 2026 mengonfirmasi tingkat pencemaran udara berada pada kondisi mengkhawatirkan. Wilayah Kabupaten Gunung Mas, Murung Raya, dan Katingan masuk dalam kategori sangat tidak sehat dengan skor AQI masing-masing menyentuh 227, 211, dan 205.
Memburuknya kualitas udara memicu lonjakan kebutuhan logistik medis mendesak, seperti masker anak dan dewasa, vitamin, obat-obatan ISPA, hingga pasokan oksigen medis yang distribusinya dilaporkan belum merata ke seluruh pelosok daerah.
Di sisi lain, pergerakan tim satgas pemadam di lapangan terus diuji oleh kemunculan titik api yang menyebar di berbagai lokasi. Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalteng, Ahmad Toyib, menyampaikan bahwa pemantauan hingga Rabu (26/8/2026) pukul 10.00 WIB mencatat 30 kejadian fire spot, termasuk 5 kejadian lanjutan, dengan total luasan lahan terbakar mencapai 43,53 hektar.
“Dari keseluruhan kejadian tersebut, sebanyak 21 titik berhasil dipadamkan, sementara 14 titik lainnya masih dalam proses pemadaman,” beber Ahmad Toyib saat memberikan keterangan mengenai kondisi pemadaman di lapangan.
Pemerintah daerah bersama satgas penanggulangan bencana kini memfokuskan pemadaman pada titik-titik api aktif guna mencegah perluasan area terbakar sekaligus meminimalisasi pembentukan kabut asap baru yang mengancam kesehatan masyarakat.
(Hendrawan)