Pasangan ganda campuran Tiongkok, Ma Xi Xiang dan Qin Hui Zhi, sukses menyegel gelar juara dalam ajang POLYTRON Pontianak Indonesia Masters Super 100 2026. Kemenangan ini diraih secara dramatis melalui duel sengit rubber match melawan rekan senegaranya, Liao Pin Yi dan Zhang Jia Han, dengan skor 21-9, 20-22, 22-20 di GOR Terpadu Ahmad Yani Pontianak, Minggu (6/9/2026).
Pertandingan pamungkas yang memakan waktu 57 menit tersebut menyajikan pertarungan taktik dan mental tingkat tinggi dengan total 114 poin yang dimainkan. Dominasi Ma dan Qin terlihat dari total perolehan 63 poin berbanding 51 poin milik sang lawan. Meski demikian, titik balik paling krusial terjadi pada match ketiga. Sempat tertinggal pada awal match penentu tersebut, Ma dan Qin berhasil membalikkan keadaan berkat ketenangan selepas interval poin ke-11.
Ma Xi Xiang mengakui bahwa ketegangan sempat menyelimuti permainan mereka di awal match ketiga. Namun, komunikasi dan kepercayaan terhadap rekan menjadi kunci utama untuk keluar dari tekanan.
“Menurut saya, pertama-tama di awal memang masih sedikit gugup. Tetapi setelah masuk ke paruh kedua, di poin ke-11 terakhir, kami percaya pada rekan satu tim, dan bermain lebih lepas. Kami mengerahkan seluruh kemampuan untuk melawan mereka, melepaskan semua beban untuk bertarung, dan akhirnya bisa merebut kemenangan,” ungkap Ma Xi Xiang dalam saat konferensi pers seusai pertandingan.
Kemenangan dalam “Perang Saudara” di partai final ini tidak hanya membuahkan medali emas, tetapi juga kematangan mental. Secara tidak langsung, Ma Xi Xiang menyatakan bahwa keberhasilan menavigasi laga yang sangat berat ini mendongkrak kepercayaan diri pasangan tersebut secara signifikan, sekaligus menjadi panggung latihan mental yang sempurna untuk menghadapi turnamen bergengsi ke depannya.
“Pertandingan ini sangatlah berat, namun di tengah pertandingan yang sulit ini kami bisa mencari cara untuk mengatasi tekanan dan kesulitan. Ini menjadi kesempatan belajar dan latihan yang sangat baik bagi kami,” tambah Ma Xi Xiang menegaskan ketahanan mental mereka.
Di luar aspek teknis lapangan, atmosfer penonton di Pontianak turut memberikan impresi positif bagi ganda campuran muda ini. Qin Hui Zhi secara antusias memuji riuhnya dukungan audiens serta kuatnya budaya bulu tangkis di Indonesia yang membuat mereka tampil lebih bersemangat.
“Pertama-tama tentu sangat senang. Lalu datang ke negara Indonesia ini untuk bertanding, karena atmosfer bulu tangkis di sini sangatlah bagus. Jadi saya juga sangat menikmati pertandingan di sini. Pengalaman bermain di sini sangatlah luar biasa,” tutur Qin Hui Zhi.
Perjalanan Ma dan Qin menuju podium tertinggi juga diwarnai ujian berat lantaran mereka harus menumbangkan tiga wakil tuan rumah secara beruntun sebelum menapak ke final. Terkait hal tersebut, Qin Hui Zhi secara tidak langsung memaparkan bahwa perjumpaan dengan para pasangan Indonesia merupakan pengalaman krusial. Ia menyiratkan bahwa mereka banyak mengadopsi dan mempelajari teknik, adaptasi situasi lapangan, hingga taktik dari perlawanan ulet para pemain Indonesia.
Mentalitas juara yang ditunjukkan oleh Ma dan Qin pada turnamen ini tidak terlepas dari figur-figur raksasa yang menjadi panutan mereka. Saat disinggung mengenai sosok inspirator, Qin Hui Zhi secara spesifik menyebut nama dua pilar ganda campuran andalan Tiongkok, Huang Dongping dan Huang Yaqiong, sebagai role model. Ia berambisi menyerap teknik permainan serta kharisma bertanding kedua seniornya tersebut. Di sisi lain, Ma Xi Xiang dengan mantap menjadikan ganda campuran nomor satu dunia, Zheng Siwei, sebagai sosok panutan utamanya di lapangan.
(Hendrawan)