Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Gaya Hidup

Art Exhibition ‘BurNeo: Rupa Tanah Terbakar’ Soroti Krisis Karhutla di Khira Brew

Hendrawan
Hendrawan
Senin, 5 Oktober 2026 · 06:153 menit baca
Art Exhibition ‘BurNeo: Rupa Tanah Terbakar’ Soroti Krisis Karhutla di Khira Brew
Studio Kosong gelar pameran seni “BurNeo: Rupa Tanah yang Terbakar” di Khira Brew Pontianak; tampilkan material asli lahan karhutla dan kritik kepedulian warga kota. (Dok. Hendrawan/Nusantara Post)

Kolektif seni Studio Kosong menggelar Art Exhibiton bertajuk “BurNeo: Rupa Tanah yang Terbakar” di Khira Brew, Jalan Karimata, yang berlangsung pada 4 hingga 10 Oktober 2026. Pergelaran ini hadir sebagai bentuk respons tajam sekaligus kritik sosial terhadap krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dinilai makin jauh dari kepedulian masyarakat urban.

Inisiator kegiatan sekaligus anggota Studio Kosong, Wege, menyampaikan bahwa pameran ini digagas untuk memantik refleksi publik. Ia menilai masyarakat kota sering kali menganggap bencana ekologis di hutan sekadar isu berita harian yang lalu-lalang di layar ponsel.

“Ini jadi refleksi bagi kita sih kayaknya, sebagai masyarakat urban yang harusnya hutan itu bukan sekadar bahan scroll-an kita tiap pagi. Hutan itu bukan berita, tapi rasanya kehidupan kita sama kehidupan yang ada di sana itu harusnya sih berkaitan sih,” ujar Wege.

Pameran yang dihelat selama sepekan ini menyajikan lebih dari 20 karya seni rupa kolektif yang terbuka untuk diperjualbelikan. Selain pameran visual, Studio Kosong turut menggandeng komunitas lokal dengan menghadirkan kelas pembuatan zine mandiri dari PTK Zine, cetak pin interaktif oleh District 06, pop-up piercing dari Afterfriend Pierce, serta deretan pertunjukan seni.

Leonardo DiCaprio Soroti Karhutla di Kalimantan dan Sumatera Yang Terus Memburuk
Baca Juga

Leonardo DiCaprio Soroti Karhutla di Kalimantan dan Sumatera Yang Terus Memburuk

Di antara puluhan karya yang dipajang, instalasi seni bertajuk “Mengenang Jasad Ibu” karya kurator seni Yazka dan Reny menjadi salah satu sorotan utama. Instalasi ini menyajikan material riil yang diambil langsung dari tempat kejadian perkara (TKP) lahan bekas kebakaran tanpa rekayasa bentuk.

Yazka menjelaskan bahwa seluruh elemen fisik dalam instalasi tersebut membawa jejak otentik dari kerusakan hutan. 

“Jadi tanah yang ada di sini, ranting-ranting ini kami ambil langsung dari lahan bekas lokasi kejadiannya. Situ ada korek, itu kami dapat langsung di TKP,” ungkap Yazka.

Reny menambahkan bahwa penggunaan benang merah dalam karya ini sengaja dihadirkan sebagai penanda keterikatan langsung antara peradaban manusia dan kehancuran alam. Selain itu, mereka membakar dupa di area pameran guna menyebarkan aroma khas yang dapat dengan cepat memikat perhatian pengunjung. 

Hadiri Tabligh Akbar Bersama UAS, Gubernur Ria Norsan Ajak Warga Perkuat Persatuan dan Jaga Lingkungan
Baca Juga

Hadiri Tabligh Akbar Bersama UAS, Gubernur Ria Norsan Ajak Warga Perkuat Persatuan dan Jaga Lingkungan

“Kita ambilnya nggak yang memang direkayasa. Hanya saja itu benang merahnya aja yang kami gambarin sebagai kayak koneksi. Ya, koneksi,” jelas Reny.

Lebih lanjut, Yazka menyoroti cara pandang masyarakat yang kerap mengabaikan peran vital pahlawan ekologis seperti pepohonan.

“Kita sering mengenang apa itu pahlawan dalam sosok manusia gitu. Tapi kita nggak pernah nyadar gitu kalau pahlawan itu bisa berbentuk makhluk hidup lain gitu. Pohon contohnya. Pohon nggak pernah salah gitu. Nggak pernah salah, nggak pernah berbuat jahat sama orang lain, dia cuma diam di tempat tapi haknya dibakar,” tutur Yazka.

Melalui pameran ini, para seniman menyuarakan pesan mendesak agar praktik pembakaran hutan segera dihentikan secara permanen. Wege menegaskan bahwa dampak buruk karhutla dirasakan langsung oleh masyarakat sipil yang harus bertahan di tengah ancaman kabut asap. 

“Kalau harapannya sih pastinya kasus-kasus hutan yang dibakar ini berhenti, karena kami sesak dengan asapnya,” kata Wege.

Pesan tersebut ditegaskan kembali oleh Yazka dan Reny sebagai imbauan moral bagi publik agar tidak menunda kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Honor Relawan Karhutla Palangkaraya Belum Dibayar Wako Fairid Sebut Anggaran Dari Pusat Minim
Baca Juga

Honor Relawan Karhutla Palangkaraya Belum Dibayar Wako Fairid Sebut Anggaran Dari Pusat Minim

“Jangan nunggu pohon terakhir ada, baru kita peduli dengan apa itu hutan,” tegas Yazka. 

Reny pun menutup pameran dengan imbauan agar masyarakat menelisik akar masalah bencana ekologis secara menyeluruh. 

“Kalau aku lebih ke ini sih, jangan cuma ngerasa dampaknya, coba lihat dari dasarnya dulu.” ujar Reny.

(Hendrawan)