Tragedi hilangnya jurnalis saat meliput erupsi Gunung Krakatau dan tenggelamnya Kapal Virgo memantik solidaritas lebih dari 700 warga Parit Bugis Darat, Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat pada Kamis (24/9/2026). Merespons duka ganda tersebut, warga menggelar doa bersama yang dirangkai dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk empati akar rumput atas krisis kemanusiaan yang tengah terjadi.
Kegiatan religius ini tidak sekadar menjadi rutinitas keagamaan di pelataran kampung, melainkan menjelma sebagai panggung solidaritas kemanusiaan lintas profesi. Tragedi yang menimpa insan pers di lapangan serta nyawa yang hilang di laut akibat insiden Kapal Virgo menjadi duka kolektif masyarakat Kalimantan Barat.
Ketua Panitia sekaligus jurnalis Kalimantan Barat, Samsul Hardi, menegaskan bahwa inisiatif doa bersama ini lahir dari empati mendalam rekan seprofesi. Insiden hilangnya jurnalis di Krakatau menjadi pengingat keras atas tingginya risiko keselamatan dalam kerja-kerja jurnalistik yang kerap luput dari perhatian publik.
“Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas kami, khususnya rekan-rekan jurnalis, terhadap sesama jurnalis yang hilang kontak serta para korban kapal tenggelam. Kami berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan,” ujar Samsul.
Dari unsur pemerintahan desa, Kepala Desa Kuala Dua, Haji Abas, turut menyuarakan belasungkawa atas musibah tersebut. Secara kritis, ia tidak hanya menyoroti duka para keluarga korban jiwa, tetapi juga mendesak agar ikhtiar pencarian tidak dihentikan begitu saja bagi korban yang hingga kini masih berstatus hilang. Abas menilai, peringatan Maulid Nabi ini menjadi momentum vital bagi warga desa untuk memperkuat kebersamaan dan kepedulian sosial di tengah rentetan bencana.
Solidaritas lintas batas juga terlihat dengan hadirnya pendakwah asal Malaysia, Syech Faizal Ilahi bin Habeburahman. Bertindak sebagai pemimpin doa, ia mengajak ratusan jemaah untuk meneladani empati Rasulullah SAW. Melalui lantunan sholawat, Syech Faizal memanjatkan permohonan agar para korban meninggal mendapat tempat terbaik, keluarga diberikan ketabahan ekstra, dan operasi pencarian segera membuahkan hasil bagi korban hilang.
Keterlibatan aktif warga setempat membuktikan bahwa rasa kemanusiaan tidak tersekat oleh batas geografis musibah. Usman, warga Kuala Dua yang memandu acara, melihat tingginya antusiasme jemaah sebagai indikator bahwa empati masyarakat Parit Bugis masih sangat kuat.
Menurut Usman, meski peringatan ini berpusat di lingkungan perkampungan, esensi dari kepedulian terhadap para korban tenggelam dan jurnalis hilang tetap tersampaikan dengan lantang. Kegiatan ini sekaligus menjadi pesan dari akar rumput di Kubu Raya bahwa di tengah berbagai musibah yang melanda, kekuatan gotong royong dan doa kolektif adalah fondasi terkuat yang dimiliki masyarakat untuk bertahan dan saling menguatkan.
(Hendrawan)