Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Titik Panas Turun Signifikan, BPBD Kalbar Tetap Perpanjang Status Tanggap Darurat Karhutla

Hendrawan
Hendrawan
Senin, 5 Oktober 2026 · 20:275 menit baca
Titik Panas Turun Signifikan, BPBD Kalbar Tetap Perpanjang Status Tanggap Darurat Karhutla
BPBD Kalbar laporkan titik panas karhutla turun drastis tersisa 24 titik di Ketapang; Plt Kepala BPBD Ridwan perpanjang status tanggap darurat 14 hari ke depan. (Dok. HO/TNP)

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Barat menunjukkan tren penurunan signifikan dengan sisa 24 titik panas berkategori kepercayaan tinggi, Senin, (5/10/2026).

Meskipun sebaran titik api menyusut drastis, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat memutuskan tetap memperpanjang masa status tanggap darurat bencana karhutla selama 14 hari ke depan sebagai langkah kesiapsiagaan di lapangan.

Data rekaman pemantauan satelit BMKG per 4 Oktober 2026 pukul 23.59 WIB tersebut dipaparkan langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat, Ridwan, di kantornya. Konsentrasi sebaran sisa titik api dijabarkan dalam penjelasannya.

“Berdasarkan data yang kami terima dari BMKG, kondisi karhutla di Kalbar sudah mengalami penurunan yang sangat signifikan. Sampai dengan update terakhir, terdapat 24 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi dan sebagian besar berada di Kabupaten Ketapang,” jelas Ridwan, Senin, (5/10/2026).

Pemprov Kalbar Perpanjang Status Tanggap Darurat, Ketua DPRD Ketapang Sibuk Pertanyakan Alokasi Bantuan Pusat 40 Miliar
Baca Juga

Pemprov Kalbar Perpanjang Status Tanggap Darurat, Ketua DPRD Ketapang Sibuk Pertanyakan Alokasi Bantuan Pusat 40 Miliar

Keberhasilan menekan sebaran api dinilai merupakan hasil sinergi operasi terpadu bersama jajaran TNI, Polri, Manggala Agni, dan pemerintah kabupaten/kota. Capaian pengendalian karhutla diuraikan dalam pemaparannya.

“Secara keseluruhan, kondisi karhutla di Kalbar sudah semakin membaik dan terkendali. Bahkan pada minggu lalu, kita sempat berada pada kondisi nol titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi,” ungkapnya.

Peringatan tegas tetap diserukan kepada korporasi maupun masyarakat agar tidak memanfaatkan perbaikan situasi untuk membuka areal tanam baru dengan cara membakar. Larangan pembakaran lahan ditekankan dalam keterangannya.

“Kami tetap mengimbau masyarakat maupun pihak perusahaan agar tidak melakukan pembakaran. Jangan sampai kerja keras kita selama ini, ketika kondisi sudah sangat baik, kembali lagi ke kondisi seperti sebelumnya,” tegasnya.

Angin Selatan Bawa Kiriman Asap Lintas Wilayah, Kualitas Udara Pontianak dan Kubu Raya Memburuk
Baca Juga

Angin Selatan Bawa Kiriman Asap Lintas Wilayah, Kualitas Udara Pontianak dan Kubu Raya Memburuk

Terkait gangguan transportasi udara, jarak pandang di Kabupaten Ketapang sempat merosot hingga 600 meter pada pagi hari sebelum berangsur pulih, sementara Kota Pontianak mencatatkan jarak pandang 1,5 kilometer yang membaik setelah pukul 07.00 WIB tanpa menghambat jadwal terbang. Kelancaran lalu lintas penerbangan diulas dalam penjelasannya.

“Untuk Kota Pontianak, tadi pagi jarak pandang sekitar 1,5 kilometer. Namun, setelah pukul 07.00 WIB kondisinya mulai membaik dan beberapa penerbangan yang sebelumnya dijadwalkan sekitar pukul 06.20 WIB sudah dapat melakukan take-off sebelum pukul 07.00 WIB,” jelasnya.

Kemunculan aroma dan partikel asap di sejumlah kawasan dijelaskan akibat dinamika sirkulasi massa udara regional yang masih berembus ke arah Kalimantan Barat. Arah sirkulasi partikel asap diuraikan dalam paparannya.

“Berdasarkan data yang kami pantau, arah angin saat ini masih bergerak menuju wilayah Kalimantan Barat, termasuk ke Kota Pontianak. Di Kalbar sendiri masih ada sumber kebakaran meskipun jumlahnya tidak besar,” katanya.

Otoritas kebencanaan menegaskan data pergerakan atmosfer tidak merujuk secara khusus pada batas teritorial tertentu. Dinamika sebaran asap lintas pulau dipaparkan dalam keterangannya.

“Kami tidak menyebutkan secara spesifik bahwa kabut asap ini berasal dari satu daerah tertentu. Yang kami sampaikan berdasarkan data adalah arah angin saat ini bergerak dari wilayah selatan menuju utara dan Kalbar sendiri masih memiliki sumber kebakaran, sementara wilayah Kalimantan lainnya juga masih mengalami kondisi serupa,” terangnya.

Hadapi Musim Hujan, Gubernur Kalbar Ria Norsan Ingatkan Ancaman Cuaca Ekstrem
Baca Juga

Hadapi Musim Hujan, Gubernur Kalbar Ria Norsan Ingatkan Ancaman Cuaca Ekstrem

Karakteristik geografis Pontianak yang dilintasi garis khatulistiwa diidentifikasi menyebabkan laju angin berembus lambat sehingga partikel asap bertahan lebih lama. Kondisi sirkulasi di zona ekuator dijabarkan dalam analisisnya.

“Khusus Kota Pontianak yang berada di wilayah ekuator, pergerakan angin memang relatif lebih lambat. Karena itu, kondisi udara dan kabut asap perlu terus kita pantau,” tambahnya.

Keputusan mempertahankan status siaga darurat diambil demi menjaga koordinasi taktis dan alokasi dukungan di lapangan. Penetapan perpanjangan masa kedaruratan disampaikan dalam pernyataannya.

“Untuk status tanggap darurat di Provinsi Kalbar, hari ini masih kami perpanjang selama 14 hari ke depan,” ujarnya.

Dasar pertimbangan administratif tersebut bertumpu pada status kedaruratan yang masih aktif di tiga wilayah tingkat dua, yakni Kayong Utara, Melawi, dan Mempawah. Urgensi kesiagaan daerah dipaparkan dalam keterangannya.

“Ada beberapa kabupaten yang masih berstatus tanggap. Selain itu, faktanya di wilayah Kalbar masih terdapat kebakaran. Karena itu, status tanggap darurat tetap kami pertahankan sebagai bentuk kesiapsiagaan,” ucapnya.

Evaluasi rutin akan terus dilakukan berdasar pada perkembangan data lapangan. Harapan kestabilan kondisi lingkungan diutarakan dalam penjelasannya.

BMKG Rilis Prediksi Musim Hujan Kalbar 2026/2027, Puncak Terjadi Desember Hingga Januari
Baca Juga

BMKG Rilis Prediksi Musim Hujan Kalbar 2026/2027, Puncak Terjadi Desember Hingga Januari

“Kami berharap kondisi semakin membaik dan tidak terjadi peningkatan kembali. Kalau melihat trennya, saat ini memang sudah semakin menurun,” ujarnya.

Operasi pemadaman tetap dibagi menjadi dua lini utama, yakni Satgas Udara dan Satgas Darat. Satuan udara mengoperasikan dua unit helikopter patroli untuk Ketapang, Kayong Utara, Kubu Raya, Landak, Sambas, Singkawang, dan Mempawah, serta armada pengebom air (water bombing) di pangkalan Ketapang dan Sintang. Komitmen operasional regu pemadam ditekankan dalam pernyataannya.

“Untuk penanganan karhutla, kami tetap membagi kekuatan menjadi dua, yaitu Satgas Udara dan Satgas Darat. Keduanya terus bekerja dan tidak akan kami kendurkan sampai kondisi benar-benar aman,” tegasnya.

Tindakan penyiraman dari udara dipadukan dengan pemantauan titik rawan di wilayah perhuluan. Kesiapan armada helikopter dirinci dalam pemaparannya.

“Untuk wilayah Ketapang, kami masih melakukan patroli sekaligus water bombing apabila ditemukan titik yang membutuhkan penanganan. Begitu juga di Sintang dan sekitarnya, termasuk wilayah Melawi,” jelasnya.

Di darat, tim gabungan berfokus melakukan verifikasi lapangan (ground check) dan penyemprotan pendinginan pada lapisan tanah gambut. Kerja sama lintas instansi dijelaskan dalam pemaparannya.

“Kami berkolaborasi dengan BPBD kabupaten/kota, Manggala Agni, Polda, Kodam dan pihak terkait lainnya. Tim di lapangan terus melakukan ground check, pemadaman dan pendinginan,” ungkapnya.

Di samping menangani karhutla, BPBD Kalbar mulai menyiapkan langkah antisipasi dini terhadap ancaman bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, tanah longsor, dan puting beliung menyusul proyeksi peningkatan curah hujan dari BMKG mulai pertengahan Oktober.

Banjir Rob Intai Pesisir Kalsel dan Kaltara, BMKG Minta Warga dan Pelaku Pelayaran Waspada
Baca Juga

Banjir Rob Intai Pesisir Kalsel dan Kaltara, BMKG Minta Warga dan Pelaku Pelayaran Waspada

Peralihan fokus menuju mitigasi musim hujan diuraikan dalam keterangannya.

“Kita tidak hanya fokus pada karhutla. Berdasarkan informasi BMKG, mulai pertengahan Oktober kita akan menghadapi curah hujan yang cukup tinggi dan puncak hujan diperkirakan mulai terjadi pada periode berikutnya,” kata Ridwan.

Kesiapsiagaan menghadapi peralihan musim ditekankan dalam penjelasannya.

“Karena itu, kita mulai melakukan antisipasi secara dini. Potensi banjir, tanah longsor maupun puting beliung harus kita siapkan penanganannya sejak sekarang,” ujarnya.

Potensi awan hujan di Sambas, Kapuas Hulu, Sanggau, dan Sintang turut dimanfaatkan untuk mendukung efektivitas Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Optimalisasi penyemaian awan buatan dipaparkan dalam keterangannya.

“Kami berharap potensi pertumbuhan awan yang cukup baik ini dapat mendukung pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC), terutama di Kabupaten Ketapang, sehingga wilayah yang masih memiliki titik panas dapat mengalami hujan dan pembasahan,” jelasnya.

Keseriusan penanganan di lapangan dipastikan terus berlanjut tanpa menurunkan kewaspadaan. Jaminan komitmen pemerintah diutarakan dalam pernyataannya.

“Kami ingin memastikan masyarakat bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bersama seluruh pihak terkait tetap serius menangani karhutla. Kondisinya memang semakin membaik, tetapi bukan berarti kita boleh lengah,” pungkasnya.

Ajakan menjaga kelestarian ruang hidup ditegaskan sebagai penutup seluruh rangkaian arahan.

Rampungkan Misi Udara Karhutla di Kalimantan, Jepang Tarik Tiga Helikopter Chinook
Baca Juga

Rampungkan Misi Udara Karhutla di Kalimantan, Jepang Tarik Tiga Helikopter Chinook

“Mari bersama-sama menjaga Kalimantan Barat. Jangan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Kondisi yang sudah semakin baik ini harus kita pertahankan,” tutupnya.

(Hendrawan)