Kam, 20/08/26 · 05.24.23
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Timur

Karhutla Kaltim Ancam Ruang Hidup Orangutan dan Picu Konflik Warga

Achmad Fatoni
Achmad Fatoni
Kamis, 20 Agustus 2026 · 11:211 menit baca
Karhutla Kaltim Ancam Ruang Hidup Orangutan dan Picu Konflik Warga
Yayasan BOS Kaltim peringatkan karhutla dan alih fungsi hutan persempit ruang hidup orangutan hingga berisiko tingkatkan konflik dengan warga. (Dok. Ist)

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kerusakan bentang alam di Kalimantan Timur mempersempit ruang hidup orangutan hingga meningkatkan potensi konflik antara satwa dilindungi tersebut dengan masyarakat sekitar kawasan hutan, Kamis, (20/8/2026).

Penyempitan kawasan jelajah ini terjadi tidak hanya pada area konservasi milik negara di bawah kementerian terkait, melainkan merambah ke hutan-hutan desa yang dikelola oleh komunitas masyarakat. Karakteristik pergerakan satwa yang tidak terikat batas wilayah administratif dijelaskan oleh Manajer Regional Kaltim Yayasan BOS, Aldrianto Pria Priajati.

“Orangutan tidak mengenal batas provinsi atau batas wilayah administrasi, di mana hutan dianggap bagus untuk hidup dia akan tinggal di situ,” kata Aldrianto, Kamis, (20/8/2026).

Hari Orangutan Sedunia 2026: Untan dan ASRI Ajak Gen Z Kampanye Digital
Baca Juga

Hari Orangutan Sedunia 2026: Untan dan ASRI Ajak Gen Z Kampanye Digital

Fragmentasi bentang alam akibat alih fungsi lahan dinilai kian memperparah kerentanan habitat orangutan, terutama saat bencana kebakaran memusnahkan sumber pakan alami serta tempat berlindung satwa.

Kondisi tersebut memaksa orangutan bermigrasi ke area perkebunan dan permukiman warga, yang kerap memicu salah paham terkait status satwa liar di mata masyarakat. Stigma keliru mengenai keberadaan orangutan di area perambahan manusia disorot lebih lanjut dalam keterangannya.

“Kadang-kadang yang dipersalahkan kebanyakan satwanya, orangutan dianggap mengganggu manusia padahal orangutannya sudah ada terlebih dahulu,” ujarnya.

Pertegas Perlindungan Kawasan Konservasi, BKSDA Kalbar Pasang Papan Imbauan di Mandor
Baca Juga

Pertegas Perlindungan Kawasan Konservasi, BKSDA Kalbar Pasang Papan Imbauan di Mandor

Masyarakat dan pelaku industri diimbau untuk memandang persoalan relokasi alami ini dari kacamata keseimbangan ekologis, seraya memastikan kelestarian hutan bebas dari ancaman pembakaran liar. Prinsip keharmonisan ruang hidup antara aktivitas manusia dan satwa liar ditegaskan sebagai penutup penjelasannya.

“Kita selayaknya bisa hidup berdampingan dengan satwa untuk bisa harmonisasi di dalam alam ini,” katanya.

Pengelolaan kawasan hutan berbasis keberlanjutan diharapkan terus diterapkan oleh seluruh pihak agar keutuhan habitat orangutan terjaga serta risiko perselisihan dengan masyarakat dapat ditekan.

(Tony)