Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Nasional

Masuk Musim Kemarau, BNPB Pantau Sebaran Karhutla dan Krisis Air di Lima Daerah

Rudi Agus Haryanto
Rudi Agus Haryanto
Rabu, 2 September 2026 · 18:541 menit baca
Masuk Musim Kemarau, BNPB Pantau Sebaran Karhutla dan Krisis Air di Lima Daerah
Pusdalops BNPB laporkan situasi bencana nasional per 2 September 2026, fokus tangani karhutla di Bulungan, Enrekang, Parigi Moutong, serta kekeringan di PPU.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta bencana kekeringan melanda sejumlah wilayah di Indonesia selama periode pemantauan 24 jam terakhir, Rabu, (2/9/2026).

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) per Rabu pagi, krisis air bersih menerjang Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, dengan dampak mencakup 456 kepala keluarga di Desa Babulu, Kecamatan Sebakung Jaya. BPBD setempat telah mendistribusikan sebanyak 62.000 liter air bersih guna memenuhi kebutuhan pokok masyarakat.

Pada sektor kebakaran hutan, titik api melahap lahan seluas 55 hektare di Desa Sejau Hilir, Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, dan hingga kini masih dalam tahap penanganan intensif di bawah status siaga darurat yang berlaku hingga 31 Desember 2026.

Hambatan medan berbukit dan semak kering juga menyulitkan pemadaman karhutla seluas tiga hektare di Desa Tanete, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Puluhan Hektare Terbakar di Berbagai Daerah, BNPB Perketat Penanganan Karhutla
Baca Juga

Puluhan Hektare Terbakar di Berbagai Daerah, BNPB Perketat Penanganan Karhutla

Kondisi serupa terjadi di Sulawesi Tengah, di mana kebakaran melahap 3,5 hektare perkebunan warga di Desa Sausu Tambu, Parigi Moutong, dengan kepulan asap yang masih terpantau di area puncak hutan.

Sementara itu, kobaran api di lahan petak 1015 Perum Perhutani Dusun Dampu, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, berhasil dipadamkan sepenuhnya pada Selasa, (1/9/2026), setelah sempat membakar areal seluas tiga hektare.

Menghadapi puncak musim kemarau serta fluktuasi cuaca ekstrem, masyarakat diimbau menghemat cadangan air bersih, menghentikan kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta rutin memantau peringatan dini dari BMKG dan BPBD setempat.

(Rudi)