Beberapa petani di Desa Mak Tangguk, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, terpaksa menghadapi ancaman krisis ekonomi menyusul kegagalan panen padi secara masal pada musim kemarau tahun ini. Bencana ekologi di sektor pertanian ini tidak hanya dipicu oleh cuaca panas ekstrem semata, melainkan diperparah oleh minimnya infrastruktur pengairan dan dinilai absennya langkah mitigasi dari pemerintah daerah setempat.
Kondisi lahan persawahan yang mengering kerontang seolah menjadi bukti nyata dari kelalaian antisipasi instansi terkait. Alih-alih mendapatkan intervensi cepat atau bantuan sarana air bersih untuk irigasi darurat, para petani justru dibiarkan berjuang sendiri mencari jalan keluar.
Andri, salah satu warga Desa Mak Tangguk, secara terbuka mengkritik lambannya respons pemangku kebijakan. Ia menilai kerugian besar yang ditanggung petani tidak terlepas dari minimnya kehadiran negara di tingkat bawah saat krisis melanda.
“Seperti yang kita lihat, cuaca belakangan ini cukup panas dan belum turunnya hujan menjadi penyebab utama gagal panen. Penyebab kedua, masih kurangnya pantauan atau bantuan dari pemerintah desa ataupun Dinas Pertanian Kabupaten Sambas terkait upaya untuk mengatasi apabila terjadi musim kemarau yang panjang,” ungkap Andri saat memberikan keterangan pada Kamis (4/9/2026).


