Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Lingkungan

Gagal Panen Padi di Sambas Dipicu Kekeringan Ekstrem, Petani Keluhkan Lambatnya Bantuan Pemerintah

Hendrawan
Hendrawan
Jumat, 4 September 2026 · 13:222 menit baca
Gagal Panen Padi di Sambas Dipicu Kekeringan Ekstrem, Petani Keluhkan Lambatnya Bantuan Pemerintah
Petani di Desa Mak Tangguk, Tebas, Sambas alami gagal panen padi masal akibat kekeringan ekstrem dan ketiadaan irigasi, desak pemda turun tangan atasi krisis. (Dok. Warga)

Beberapa petani di Desa Mak Tangguk, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, terpaksa menghadapi ancaman krisis ekonomi menyusul kegagalan panen padi secara masal pada musim kemarau tahun ini. Bencana ekologi di sektor pertanian ini tidak hanya dipicu oleh cuaca panas ekstrem semata, melainkan diperparah oleh minimnya infrastruktur pengairan dan dinilai absennya langkah mitigasi dari pemerintah daerah setempat.

Kondisi lahan persawahan yang mengering kerontang seolah menjadi bukti nyata dari kelalaian antisipasi instansi terkait. Alih-alih mendapatkan intervensi cepat atau bantuan sarana air bersih untuk irigasi darurat, para petani justru dibiarkan berjuang sendiri mencari jalan keluar.

Andri, salah satu warga Desa Mak Tangguk, secara terbuka mengkritik lambannya respons pemangku kebijakan. Ia menilai kerugian besar yang ditanggung petani tidak terlepas dari minimnya kehadiran negara di tingkat bawah saat krisis melanda.

“Seperti yang kita lihat, cuaca belakangan ini cukup panas dan belum turunnya hujan menjadi penyebab utama gagal panen. Penyebab kedua, masih kurangnya pantauan atau bantuan dari pemerintah desa ataupun Dinas Pertanian Kabupaten Sambas terkait upaya untuk mengatasi apabila terjadi musim kemarau yang panjang,” ungkap Andri saat memberikan keterangan pada Kamis (4/9/2026).

Masuk Musim Kemarau, BNPB Pantau Sebaran Karhutla dan Krisis Air di Lima Daerah
Baca Juga

Masuk Musim Kemarau, BNPB Pantau Sebaran Karhutla dan Krisis Air di Lima Daerah

Ketiadaan sumber air alternatif di area persawahan membuat padi yang menjadi urat nadi perekonomian desa mati sebelum dipanen. Kegagalan ini tidak sekadar merusak siklus tanam, melainkan langsung memukul telak dapur-dapur warga. Kini, masyarakat dipaksa memutar otak mencari mata pencaharian alternatif demi menyambung hidup sehari-hari.

“Dampak yang dialami oleh masyarakat sangat signifikan, terutama pada sektor ekonomi karena masih banyak yang bergantung pada hasil panen padi. Dengan dampaknya gagal panen ini, masyarakat Desa Mak Tangguk harus mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan,” jelas Andri.

Tragedi gagal panen musim ini dituntut menjadi tamparan keras sekaligus bahan evaluasi total bagi Pemerintah Kabupaten Sambas. Para petani mendesak agar pemerintah tidak lagi bersikap pasif dan baru bertindak ketika bencana sudah di depan mata.

Asrama Haji Pontianak Disiapkan untuk Menginap 180 Personel Militer Jepang Tangani Karhutla
Baca Juga

Asrama Haji Pontianak Disiapkan untuk Menginap 180 Personel Militer Jepang Tangani Karhutla

Kinerja Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Dinas Pertanian kini dituntut untuk lebih proaktif membangun sistem pertanian yang tahan terhadap anomali iklim, bukan sekadar memberikan janji saat masa tanam tiba.

“Harapannya ke depan, pemerintah desa, PPL, maupun Dinas Pertanian lebih memperhatikan masyarakat, karena padi merupakan kebutuhan pokok. Perlu perhatian yang signifikan agar ke depannya bila terjadi panas berkepanjangan, masyarakat bisa tetap menghasilkan panen yang memuaskan,” tegasnya.

(Hendrawan)