Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Udara Masuk Kategori Berbahaya, AIMI Kalbar Salurkan Ratusan Masker Khusus Anak

Rudi Agus Haryanto
Rudi Agus Haryanto
Jumat, 4 September 2026 · 10:432 menit baca
Udara Masuk Kategori Berbahaya, AIMI Kalbar Salurkan Ratusan Masker Khusus Anak
AIMI Kalbar bagikan ratusan masker khusus anak di Pontianak dan Kubu Raya menyusul status kualitas udara berbahaya akibat kepungan asap karhutla. (Dok. AIMI Kalbar)

Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Daerah Kalimantan Barat membagikan ratusan masker khusus anak di sejumlah area publik Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya menyusul memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan, Rabu, (2/9/2026).

Pemberian masker pelindung tersebut difokuskan untuk memitigasi paparan kabut asap pekat pada kelompok rentan, terutama bayi dan balita, di tengah peristiwa evakuasi pemukiman yang mulai terancam rembetan api.

Urgensi penyelamatan kelompok ibu dan anak di zona permukiman terdampak diuraikan secara langsung oleh Ketua AIMI Kalbar, Rizky Pontiviana Akbari.

“Kami memahami bahwa situasi ini berat bagi kita semua. Berdasarkan pemberitaan terbaru, dimana terjadi kebakaran lahan yang menyebabkan ibu hamil dan balita di evakuasi karena api sudah masuk ke area permukiman,” ungkap Rizky Pontiviana Akbari, Rabu, (2/9/2026).

Hanguskan 1.263 Hektare Lahan, Kabut Asap Karhutla Kalsel Masuk Level Sangat Tidak Sehat
Baca Juga

Hanguskan 1.263 Hektare Lahan, Kabut Asap Karhutla Kalsel Masuk Level Sangat Tidak Sehat

Penerapan protokol kesehatan ketat diminta untuk kembali digalakkan menyusul status mutu udara di Kota Pontianak yang telah menembus level berbahaya.

“Demi menjaga keluarga kita di rumah, khususnya bayi dan balita, mari kita kembali memperketat protokol kesehatan terkait bencana asap mulai hari ini,” tegas Rizky.

Langkah pembatasan aktivitas fisik anak di luar ruangan dianjurkan demi mengurangi risiko paparan partikel polusi berbahaya yang kian pekat.

“Kami dari AIMI Kalbar mengajak para ibu untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Menjaga bayi dan balita tetap berada di tempat dengan udara yang lebih bersih,” katanya.

Antisipasi Dampak Kabut Asap, Muhammadiyah Kalbar Aktifkan Rumah Oksigen di Pontianak
Baca Juga

Antisipasi Dampak Kabut Asap, Muhammadiyah Kalbar Aktifkan Rumah Oksigen di Pontianak

Upaya sterilisasi udara di lingkungan tempat tinggal turut ditekankan melalui penutupan ventilasi rumah dari kepungan asap luar serta peniadaan polusi asap rokok di dalam ruangan.

Pemenuhan nutrisi dan imunitas bayi melalui pemberian air susu ibu disarankan untuk terus dipertahankan selama masa tanggap darurat bencana.

“Bagi ibu yang masih menyusui bayi tetap lanjutkan pemberian ASI. Serta sang ibu harus cukup makan, minum, dan beristirahat,” ungkapnya.

Peringatan medis mengenai batasan penggunaan masker pada usia bayi ditegaskan guna mencegah terjadinya risiko gagal napas atau asfiksia.

“Nah, ini harus jadi perhatian. Jangan memakaikan masker sembarangan kepada bayi. Kemudian, pantau selalu kondisi pernapasan anak jika anak terserang batuk disertai demam tinggi. Segera cari pertolongan apabila anak mengalami kesulitan bernapas atau tanda bahaya lainnya,” tambahnya.

Asrama Haji Pontianak Disiapkan untuk Menginap 180 Personel Militer Jepang Tangani Karhutla
Baca Juga

Asrama Haji Pontianak Disiapkan untuk Menginap 180 Personel Militer Jepang Tangani Karhutla

Keterbatasan daya jangkau operasional serta harapan pemulihan kualitas lingkungan hidup disampaikan dalam keterangannya.

“Kami sendiri, sudah bergerak meski masih dalam keterbatasan. Karena ibu dan bayi merupakan kelompok rentan semoga apa yang kita ikhtiarkan bisa mendapatkan hasil,” tuturnya.

Eskalasi program edukasi kesehatan bagi keluarga rentan direncanakan meluas ke beberapa kabupaten terdampak kebakaran lahan lainnya.

“Tidak hanya di Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Sanggau juga turut ambil bagian dalam upaya mengedukasi ibu untuk melindungi bayi/balita di wilayahnya,” tutup Rizky.

Aksi pembagian ratusan masker anak tersebut dijadwalkan merambah wilayah Kabupaten Sanggau melalui kolaborasi bersama pengurus cabang setempat guna memperluas perlindungan kesehatan balita dari bahaya infeksi saluran pernapasan akut.

(Rudi)