Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghanguskan sekitar 1.263 hektare area di Kalimantan Selatan dan memicu kepungan kabut asap tebal dengan kategori mutu udara sangat tidak sehat, Kamis, (3/9/2026).
Konsentrasi polutan partikulat PM2.5 di wilayah Banjarbaru menyentuh angka 164,9 µg/m³, dengan sebaran kobaran api terparah terkonsentrasi di ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor, Hutan Lindung Liang Anggang, serta area Pengayuan seluas 900 hektare di perbatasan Kabupaten Tanah Laut.
Eskalasi titik panas serta tingkat bahaya pencemaran udara di wilayah Kalimantan dipaparkan oleh Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan.
“Kualitas udara di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat menembus level berbahaya akibat asap kebakaran hutan dan lahan,” ujar Berton SP Panjaitan, Selasa, (1/9/2026).
Baca JugaDampak Karhutla di Kalsel, Warga Sebut Suasana Mirip Film Silent Hill
Pemberian penghormatan negara kepada relawan pemadam kebakaran, Akhmad Rijani, yang gugur saat bertugas memadamkan titik api di Palangka Raya diuraikan dalam keterangannya.
“Kami menyampaikan dulu belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada relawan pemadam karhutla yang wafat dalam misi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan yang ada di Kalimantan,” tutur Berton.
Apresiasi terhadap pengorbanan personel di garis depan penanggulangan api ditegaskan kembali dalam pernyataan penutupnya.
“Terima kasih atas keberanian dan pengabdian yang dipertaruhkan hingga akhir,” kata Berton.
Baca JugaKoalisi Sipil Desak RSPO Bertanggung Jawab atas Karhutla

Dampak pekatnya kabut asap memaksa sejumlah sekolah meliburkan aktivitas tatap muka, sebagaimana diungkapkan oleh guru bantu TK Al Hidayah Banjarbaru, Rizma Nur Fatimah (19), terkait penyesuaian jadwal belajar.
“Dari pagi sampai jam setengah sebelas baru reda kabutnya,” ujar Rizma Nur Fatimah, Kamis, (3/9/2026).
Parahnya jarak pandang di lingkungan sekolah saat kabut asap mencapai konsentrasi tertinggi digambarkan dalam kesaksiannya.
“Kakak berdiri, melihat kaki aja nggak bisa. Nggak bisa sama sekali,” kata Rizma.
Penyebaran gangguan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang menjangkiti peserta didik beserta para orang tua di kawasan permukiman dibeberkan dalam penjelasannya.
Baca JugaCegah Kebakaran Susulan, Dishut Kalsel Tetap Sisir Hutan Lindung Liang Anggang Meski Diguyur Hujan
“Orang tuanya juga kena. Banyak yang ISPA juga,” ujarnya.
Siklus tahunan kebakaran lahan yang terus berulang setiap musim kemarau diakui oleh pengajar tersebut dengan rasa pasrah.
“Sudah setiap tahun kami kayak ini, jadi ya pasrah aja sudah,” katanya.
Peningkatan intensitas hembusan angin yang mempercepat penyebaran kabut asap tahun ini dinilai jauh lebih berat dibanding periode sebelumnya.
“Lebih parah. Anginnya juga lebih kencang tahun ini,” tambahnya.
Kondisi serupa dialami Misbah (23), warga Desa Pengayuan, yang menerangkan bahwa anak balitanya sempat diliburkan dari sekolah selama 10 hari akibat pekatnya asap pagi.
“Jam sembilan tuh masih tebal,” kata Misbah.
Baca JugaSatpam Bank di Tanah Bumbu Gelapkan Rp 1,2 Miliar Dana Nasabah Lewat 58 Kali Transaksi
Letak pemukiman yang berdekatan dengan titik kebakaran lahan gambut musiman dipaparkan dalam keterangannya.
“Setiap tahun kalau musim kemarau pasti selalu kebakaran di sini,” ujarnya.
Rentang waktu kabut asap pekat yang menyelimuti jalanan hingga menjelang siang hari dirincikan lebih lanjut.
“Kalau jam enaman tuh masih kelihatan, sekitar jam tujuhan tuh asapnya makin tebal, sampai jam sembilan tuh masih tebal. Sampai tengah hari baru kelihatan lagi jalan,” katanya.
Gejala klinis berupa batuk, demam, dan infeksi tenggorokan yang sempat diderita anaknya dipaparkan dalam penuturannya.
“Sempat semalam tuh batuk-an, radang sakit, batuk, sempat ingusan,” katanya.
Kekhawatiran mendalam terhadap kerentanan anak-anak di sekitar area kebakaran diutarakan oleh orang tua tersebut.
“Takutan-nya kalau kedampakan ke anak-anak di sekitar sini,” ujarnya.
Baca JugaGedung Induk Museum Lambung Mangkurat Ditutup Dua Bulan untuk Revitalisasi Rp1,8 Miliar
Rasa jengkel masyarakat terhadap karhutla yang terus berulang tanpa solusi tuntas disampaikan sebagai penutup keluhannya.
“Marah itu jujur ada marah, cuma sudah biasa menghadapi ini. Bagi kami, setiap kemarau pasti ada kebakaran,” pungkasnya.
Selain krisis kesehatan di Banjarbaru, dampak fatal kabut asap juga dilaporkan di Puruk Cahu, Murung Raya, Kalimantan Tengah, menyusul meninggalnya seorang anak berusia 11 tahun dengan riwayat asma dan ginjal setelah terpapar asap tebal, di mana tetangga korban, Lulus, menyatakan kondisi anak tersebut memburuk drastis sejak kabut menyelimuti kota dan memicu lebih dari 700 warga lainnya berobat akibat gejala ISPA.
(Hendrawan)