Min, 21/06/26 · 09.07.57
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Bahasan Soroti Tumpukan Sampah Liar di Saluran Drainase Jalan Merdeka

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Minggu, 21 Juni 2026 · 12:221 menit baca
Bahasan Soroti Tumpukan Sampah Liar di Saluran Drainase Jalan Merdeka
Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan menyayangkan adanya tumpukan sampah liar di drainase Jalan Merdeka yang berpotensi memicu genangan saat hujan. (Dok. Prokopim Pontianak)

Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan menyoroti masih adanya titik pembuangan sampah liar di sejumlah kawasan kota, salah satunya di sekitar Jalan Merdeka. Penumpukan sampah tersebut dinilai berisiko menghambat aliran air pada sistem drainase dan memicu genangan saat curah hujan tinggi.

“Kita juga terus mengedukasi masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Berdasarkan informasi yang saya terima, di sekitar Jalan Merdeka masih terdapat tumpukan sampah liar, bahkan ada yang dibuang ke saluran drainase,” ujar Bahasan saat memimpin aksi gotong royong kebersihan bersama warga Kecamatan Pontianak Selatan di Jalan Nirbaya, Minggu (21/6/2026).

Bahasan menilai, pembenahan tata kelola kebersihan lingkungan tidak dapat diselesaikan secara sepihak oleh otoritas pemerintah. Diperlukan intervensi dan keterlibatan aktif dari seluruh lapisan masyarakat untuk membangun kesadaran kolektif secara berkelanjutan.

Tiba di Batam, 403 Jemaah Haji Asal Pontianak Bersiap Pulang ke Daerah
Baca Juga

Tiba di Batam, 403 Jemaah Haji Asal Pontianak Bersiap Pulang ke Daerah

“Mudah-mudahan melalui kegiatan gotong royong dan penempatan fasilitas yang memadai, masyarakat dapat semakin teredukasi untuk menjaga kebersihan lingkungan,” katanya.

Sumbatan Saluran Picu Genangan Air
Lebih lanjut, Bahasan menjelaskan bahwa dari evaluasi teknis di lapangan, fenomena genangan air di beberapa sudut kota sering kali dipicu oleh penurunan daya tampung drainase akibat sumbatan sampah domestik dan akumulasi sedimentasi, bukan semata-mata karena faktor alam.

Oleh karena itu, ia mendorong masyarakat untuk memulai langkah preventif dari lingkup rumah tangga sebelum meluas ke lingkungan komunal yang lebih besar. Optimalisasi peran tokoh masyarakat, pemuka agama, serta aparatur kewilayahan dinilai krusial sebagai agen edukasi pola hidup bersih.

“Pemerintah akan terus berupaya melakukan penanganan drainase dan pengelolaan lingkungan. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada kesadaran masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan kota,” pungkas Bahasan.

(Dayank Ana)