Sen, 29/06/26 · 08.33.58
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

BMKG Prediksi El Nino Bertahan Hingga 2027, Pemkot Pontianak Perketat Patroli Lahan Gambut

Hendrawan
Hendrawan
Senin, 29 Juni 2026 · 13:382 menit baca
BMKG Prediksi El Nino Bertahan Hingga 2027, Pemkot Pontianak Perketat Patroli Lahan Gambut
BMKG memprediksi fenomena El Nino bertahan hingga awal 2027. Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono instruksikan BPBD perketat patroli karhutla di tiga kecamatan. (Dok. Prokopim Pontianak)

Pemerintah Kota Pontianak memperketat langkah mitigasi menyusul rilis data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi fenomena El Nino akan bertahan hingga awal tahun 2027. Pengawasan intensif difokuskan pada kawasan lahan gambut perkotaan guna mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta risiko gagal panen.

Rencana taktis tersebut dipaparkan Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah serta Sosialisasi Kesiapsiagaan menghadapi Dampak Fenomena El Nino bersama Menteri Dalam Negeri, Senin (29/6/2026).

Puncak Kemarau Diprediksi Lebih Kering
Berdasarkan analisis resmi BMKG, puncak musim kemarau di Indonesia diproyeksikan berlangsung pada Juli hingga September 2026 dengan karakteristik iklim yang lebih kering dan panjang dibanding kondisi normal. BMKG melansir peluang intensitas El Nino mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen. Dampak signifikan di Indonesia diperkirakan terjadi saat fenomena ini berinteraksi dengan periode kemarau hingga pertengahan Oktober.

Wali Kota Pontianak, Edi, menyatakan bahwa fluktuasi cuaca ekstrem ini harus direspons secara cepat karena berkorelasi langsung pada stabilitas sektor pangan dan keamanan wilayah.

Hari Berkabung Daerah, Wali Kota Pontianak Minta Sejarah Peristiwa Mandor Dirawat
Baca Juga

Hari Berkabung Daerah, Wali Kota Pontianak Minta Sejarah Peristiwa Mandor Dirawat

“Ini khusus untuk mengantisipasi El Nino, kemarau, dan kondisi cuaca,” ujar Edi dalam rapat koordinasi tersebut.

Edi menambahkan bahwa ancaman nyata dari siklus ini tidak hanya sebatas kenaikan suhu udara, tetapi juga potensi gangguan rantai pasok agraria akibat kerusakan lahan produksi.

“Perubahan cuaca yang tidak menentu ini bisa menyebabkan gagal panen, kemudian bencana alam. Kalau musim kemarau, pasti panas, dan panas bisa memicu kebakaran lahan,” jelasnya.

Fokus Patroli Tiga Kecamatan Rawan Karhutla
Menyikapi prediksi puncak kemarau yang akan dimulai pada Juli, Pemkot Pontianak menginstruksikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk menaikkan status kesiapsiagaan di level tapak. Skema pengawasan dan posko pemantauan akan dikonsentrasikan penuh pada tiga wilayah kecamatan yang masih menyimpan deposit lahan gambut dalam.

Sasar Swasembada, Lahan Gambut Pontianak Utara Dipertahankan Jadi Sentra Hortikultura
Baca Juga

Sasar Swasembada, Lahan Gambut Pontianak Utara Dipertahankan Jadi Sentra Hortikultura

“Saya minta posko tim BPBD melakukan patroli, terutama di Kecamatan Tenggara, Selatan, dan Utara yang masih ada lahan gambut,” tegas Edi.

Selain patroli fisik, aparat penegak hukum dan instansi terkait juga diperintahkan untuk memasifkan sosialisasi sanksi hukum terkait larangan pembersihan atau pembukaan lahan dengan metode pembakaran (slash and burn). Pengawasan preventif sejak dini dinilai menjadi kunci utama meminimalisasi sebaran titik api (hotspot).

Imbauan Partisipasi Publik
Pemerintah daerah menegaskan bahwa efektivitas penanggulangan dampak El Nino ini memerlukan sinergi dari elemen masyarakat sipil. Warga diimbau untuk tidak melakukan aktivitas pembersihan halaman dengan pembakaran terbuka, menghindari pembuangan puntung rokok sembarangan di area vegetasi kering, serta segera mengoordinasikan temukan indikasi api kepada petugas.

“Tim BPBD sudah siap. Yang penting mitigasi dilakukan dari sekarang,” pungkas Edi.

(Hendrawan)