PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat (Bank Kalbar) terus memperkuat implementasi Governance, Risk, and Compliance (GRC) sebagai fondasi utama dalam menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan sekaligus meningkatkan daya saing di tengah tantangan era disrupsi digital, Kamis (26/7/2026).
Penerapan GRC di Bank Kalbar kini tidak lagi diposisikan sebatas pemenuhan kewajiban regulasi, melainkan telah bertransformasi menjadi business enabler dalam mendukung pengambilan keputusan bisnis secara terukur dan prudent.
“Secara umum sebagaimana perbankan pada umumnya, Bank Kalbar juga mengadapi berbagai tantangan dan isu strategis yang terus berkembang. Berbagai tantangan strategis, di antaranya berupa percepatan transformasi digital, dinamika regulasi, peningkatan risiko siber, menjaga kualitas aset, serta penguatan tata kelola. Menyikapi hal ini,implementasi GRCsebagai instrument penting, manajemen risiko, dan kepatuhan terus kita perkuat, sebagai bagian dari strategi mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” ungkap Direktur Kepatuhan Bank Kalbar, R.S.M. Al Al Amin, saat presentasi dan wawancara penjurian TOP GRC Awards 2026 di Jakarta, baru-baru ini.
Ia menegaskan pentingnya integrasi fungsi tata kelola untuk memitigasi berbagai dinamika industri perbankan nasional.
“Penerapan GRC menjadi fondasi strategis yang memastikan tata kelola berjalan baik, pengelolaan risiko dilakukan secara terukur, serta kepatuhan terhadap regulasi tetap terjaga. Dengan demikian, pertumbuhan bisnis dapat dapat terus berlangsung secara sehat,” ujarnya didampingi Tim Kepatuhan dan Manajemen Risiko Bank Kalbar.
Sesi penjurian tersebut turut dihadiri oleh Kepala Divisi Kepatuhan Hilyati Dwiana, Kepala Divisi Manajemen Risiko Melannia Erni Irawati, Kepala Bidang Divisi Kepatuhan Faizal, Senior Analis Divisi Manajemen Risiko Achmad Gandi, Kepala Bidang Humas Divisi Corsec Azmi Haqqi, serta Kepala Cabang Bank Kalbar Jakarta.
Sepanjang tahun 2025, implementasi GRC terbukti kokoh menopang kinerja keuangan Perseroan. Bank Kalbar mencatatkan total aset mencapai Rp27,68 triliun, Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp21,11 triliun, penyaluran kredit Rp18,07 triliun, dan laba bersih mencapai Rp511,14 miliar.
Selain itu, Bank Kalbar berhasil mempertahankan Peringkat Komposit Tingkat Kesehatan Bank (TKB) 2 (Sehat) dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 36,97 persen.
Guna memastikan tata kelola berjalan efektif, Bank Kalbar menerapkan Governance Model berbasis Three Lines Model yang membagi peran secara rinci. Unit bisnis bertindak sebagai risk owner (lini pertama), Divisi Manajemen Risiko dan Divisi Kepatuhan sebagai lini kedua, serta Divisi Audit Intern sebagai pengawas independen (lini ketiga). Pengelolaan mencakup delapan jenis risiko perbankan yang seluruhnya berhasil dipertahankan pada kategori Low to Moderate.
“Direksi juga memonitor berbagai Key Risk Indicator setiap bulan, mulai dari kualitas kredit, likuiditas, transaksi operasional hingga keamanan sistem teknologi informasi. Langkah ini dilakukan agar potensi risiko dapat diidentifikasi dan dimitigasi sejak dini,” kata Al Amin.
Dari sisi kepatuhan dan audit, pada 2025 Divisi Audit Intern telah merealisasikan 28 penugasan audit yang mencakup audit umum, audit IT, maupun audit wajib.
Bank Kalbar juga memperkuat pengamanan siber lewat Security by Design serta mengintegrasikan prinsip keberlanjutan (Sustainability by Design) melalui Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB) dan uji ketahanan risiko iklim (Climate Risk Stress Test).
Langkah ini disempurnakan dengan penanaman budaya patuh (Tone at the Top) dan kepemilikan berbagai sertifikasi internasional, seperti ISO 27001 (Keamanan Informasi), ISO 37301:2021 (Manajemen Kepatuhan), ISO 37001:2016 (Anti Penyuapan), registrasi CSIRT BSSN, serta proses sertifikasi ISO 31000:2018 (Manajemen Risiko).
(roska)