Prof. Gusti Hardiansyah saat menyampaikan materi mengenai transisi energi dan emisi di Kalbar. (Dok. Nusantara Post)
Aula S2 Magister Manajemen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura (Untan) dipadati mahasiswa dalam kegiatan ILO Youth Network Workshop bertema “Powering the Future: Challenges and Job Opportunities in the Energy Transition Era”, Kamis (24/9/2026).
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi International Labour Organization (ILO) Indonesia dengan Universitas Tanjungpura.
Workshop dibuka secara resmi oleh Dekan FISIP Untan, Dr. Herlan, dan dipandu oleh Dr. Erdi selaku moderator. Mahasiswa yang hadir berasal dari berbagai latar belakang program studi.
Dalam sambutannya, Dr. Herlan menyampaikan pandangan ilmiah yang menegaskan bahwa transisi struktural ketenagakerjaan menuntut adaptasi mendalam dari generasi muda.
Ia menguraikan secara argumentatif bagaimana pergeseran lanskap ekonomi global saat ini menuntut kesiapan kapasitas intelektual yang tidak boleh terjebak dalam paradigma masa lalu.
“Dunia kerja yang akan dihadapi mahasiswa saat ini berbeda jauh dibandingkan generasi yang lahir pada era 1970-an dan 1980-an, seiring perubahan teknologi dan struktur ekonomi. Oleh karena itu, generasi muda tidak boleh menghadapi masa depan dengan bekal cara pandang masa lalu yang sudah tidak relevan dengan dinamika transformasi global saat ini,” ujar Herlan dalam sambutannya.
Guru Besar Universitas Tanjungpura sekaligus Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Kalimantan Barat, Prof. Gusti Hardiansyah, menjadi salah satu narasumber dalam sesi tersebut.
Ia menyoroti bahwa transisi hijau di Kalimantan Barat tidak cukup dibicarakan hanya melalui isu pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), panel surya, atau kendaraan listrik, mengingat karakter wilayah Kalbar yang bertumpu pada hutan, gambut, sungai, dan masyarakat yang hidup dari bentang alam.
Ia memaparkan data dari Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK) Kalimantan Barat yang menunjukkan sekitar 77,7 persen proyeksi emisi business as usual (BAU) kumulatif periode 2011-2030 berasal dari sektor kehutanan dan lahan gambut.
Menurutnya, hal ini berimplikasi pada jenis lapangan kerja hijau (green jobs) yang relevan bagi anak muda Kalbar ke depan, yang tidak terbatas pada teknisi panel surya, tetapi mencakup pula bidang seperti Geographic Information System (GIS), carbon accounting, Measurement, Reporting, and Verification (MRV), restorasi gambut dan hutan, rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS), pengelolaan jasa lingkungan, bioekonomi, pendampingan masyarakat, social safeguard, hingga komunikasi kebijakan.
Para mahasiswa dan narasumber mengikuti sesi pemaparan materi dalam ILO Youth Network Workshop di Untan. (Dok. HO/TNP)
Perwakilan ILO Indonesia, Muce Mochtar, dalam paparannya menyoroti pengalaman di Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan, dua wilayah yang menjadi lokasi program ILO terkait transisi energi dan transformasi ekonomi.
Ia menjelaskan bahwa berkurangnya permintaan batu bara berdampak tidak hanya pada perusahaan tambang, tetapi juga pekerja, operator alat berat, sopir, hingga ekonomi kecil seperti warung makan, kos-kosan, dan usaha laundry yang tumbuh di sekitar aktivitas tambang.
Ia turut menyoroti pentingnya kesiapan sumber daya manusia daerah dalam menyambut investasi teknologi baru, dengan menekankan bahwa investasi tetap bisa masuk ke suatu daerah meski tenaga kerja terampil untuk mengoperasikannya berasal dari daerah lain, apabila daerah tersebut tidak memiliki talenta yang siap.
“Jangan sampai investor datang ke provinsi kita, tetapi talentanya datang dari provinsi lain dan kita hanya menjadi penonton,” ujar Muce.
ILO dalam concept note kegiatan tersebut turut menyebutkan bahwa implementasi Paris Agreement berpotensi menciptakan hingga 24 juta pekerjaan baru secara global pada 2030, seiring langkah Indonesia menuju target Net Zero Emissions pada 2060 atau lebih cepat.
Narasumber lain, Christianus Panjaitan, membahas aspek perlindungan sosial dalam proses transisi energi, mencakup Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP), jaminan pensiun, perlindungan pekerja, hingga pekerja kontrak.
Ia menekankan bahwa pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat perubahan struktur ekonomi memerlukan dukungan lebih dari sekadar anjuran beradaptasi, termasuk konseling, pelatihan, bantuan relokasi, dan pendampingan untuk kembali bekerja sebagaimana praktik yang diterapkan di Jepang.
Sesi diskusi turut diwarnai sejumlah pertanyaan kritis dari mahasiswa, di antaranya soal bagaimana memastikan transisi energi tidak hanya mengurangi pekerjaan lama tetapi juga menciptakan pekerjaan baru yang layak (decent work) dan berkelanjutan, skema pembiayaan jangka panjang JKP, hingga potensi kesenjangan akses teknologi antara kelompok masyarakat yang siap dan yang belum siap menghadapi perubahan.
Mahasiswa dari program studi Ilmu Komunikasi turut mengangkat pentingnya penyampaian isu transisi energi kepada masyarakat awam menggunakan bahasa yang lebih membumi, melalui medium seperti film, video pendek, komik, podcast, dan data story, alih-alih istilah teknis seperti “dekarbonisasi”.
Dalam kesempatan tersebut, Gusti Hardiansyah turut menggagas konsep UNTAN JET Youth Lab, sebuah program bertahap yang tidak memerlukan infrastruktur baru, dengan tiga fase utama: 30 hari pertama untuk mempelajari konsep Just Energy Transition (JET), green jobs, RAD-GRK, dan dasar-dasar MRV; 60 hari berikutnya untuk memetakan persoalan nyata terkait energi, sampah, lahan, gambut, dan karbon; serta 90 hari untuk menghasilkan purwarupa kecil seperti audit energi sederhana, pemetaan karbon, kampanye perubahan perilaku, atau policy memo.
Ia menegaskan bahwa kepemimpinan daerah dalam konteks transisi energi perlu menghubungkan lima aspek sekaligus, yaitu investasi, manusia, keterampilan, perlindungan sosial, dan kebutuhan daerah, agar proses transisi tidak berjalan timpang.
Kegiatan yang berlangsung sepanjang siang hingga sore tersebut ditutup dengan pemberian penghargaan bagi mahasiswa yang aktif berdiskusi, serta sesi foto bersama seluruh peserta dan narasumber.