Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Karang Taruna dan HMI Kalbar Salurkan Bantuan Air Bersih Bagi Warga Terdampak Karhutla

Hendrawan
Hendrawan
Senin, 14 September 2026 · 01:331 menit baca
Karang Taruna dan HMI Kalbar Salurkan Bantuan Air Bersih Bagi Warga Terdampak Karhutla
Relawan HMI dan Karang Taruna Kalbar mendistribusikan bantuan air bersih dan logistik kepada warga. (Dok. HO/Nusantara Post)

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kalimantan Barat bersama Pengurus Provinsi Karang Taruna Kalimantan Barat menyalurkan bantuan air bersih, masker, serta logistik kepada masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Mempawah, Minggu (13/9/2026).

Penyaluran bantuan tersebut dilaksanakan di Kabupaten Kubu Raya pada Sabtu (12/9/2026) dan dilanjutkan di Kabupaten Mempawah pada Minggu (13/9/2026).

Aksi sosial ini digelar sebagai bentuk kepedulian cepat atas pekatnya kabut asap dan minimnya akses air bersih layak konsumsi yang melanda warga di wilayah terdampak.

Ketua Umum Badko HMI Kalbar, M. Said Al Kata, menegaskan bahwa krisis air bersih dan dampak karhutla merupakan persoalan ekologis dan sosial serius yang membutuhkan penanganan serta mitigasi berkelanjutan, bukan sekadar penanggulangan musiman.

Bantu Warga Terdampak Kabut Asap, Polda Kalbar Sediakan Layanan Kesehatan Gratis di Kubu Raya
Baca Juga

Bantu Warga Terdampak Kabut Asap, Polda Kalbar Sediakan Layanan Kesehatan Gratis di Kubu Raya

“Krisis air bersih dan dampak karhutla tidak boleh dipandang sebagai persoalan musiman yang selesai ketika hujan turun. Ini adalah persoalan ekologis dan sosial yang membutuhkan keberpihakan serta kerja bersama. HMI harus hadir bukan hanya untuk berbicara tentang rakyat, tetapi juga bergerak bersama rakyat,” ujar M. Said.

Selain memberikan bantuan darurat di lapangan, kolaborasi gerakan pemuda ini juga bertujuan mendesak pemerintah daerah agar merumuskan langkah mitigasi karhutla yang komprehensif serta memperketat evaluasi kebijakan perlindungan lingkungan di Kalimantan Barat.

“Kebaikan harus hadir dalam bentuk tindakan. Namun lebih jauh, solidaritas sosial harus menjadi pintu masuk untuk terus mengkritisi dan mengawal kebijakan lingkungan agar masyarakat tidak terus-menerus menjadi korban dari krisis ekologis,” tegasnya.

(Hendrawan)