Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Logistik

Gemawan Salurkan 4.000 Liter Air Bersih Bagi Warga Terdampak Krisis Air di Kubu Raya

Hendrawan
Hendrawan
Sabtu, 26 September 2026 · 19:583 menit baca
Gemawan Salurkan 4.000 Liter Air Bersih Bagi Warga Terdampak Krisis Air di Kubu Raya
Warga Desa Punggur membawa jeriken berisi bantuan air bersih yang disalurkan Perkumpulan Gemawan di Kabupaten Kubu Raya. (Dok. Gemawan)

Perkumpulan Gemawan menyalurkan bantuan 4.000 liter air bersih bagi warga terdampak bencana kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Punggur Besar dan Desa Punggur Kecil, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (26/9/26).

Penyaluran air bersih Gunung Peniram sebanyak 2.000 liter per titik tersebut dilaksanakan pada Kamis (24/9/26) dan Jumat (25/9/26).

Bencana ekologi yang melanda kawasan tersebut memicu krisis air bersih setelah habisnya cadangan air hujan dan menyusutnya air parit akibat intrusi air asin. Hujan yang sempat turun di kawasan Punggur Kecil pun tidak dapat dimanfaatkan warga karena tercemar endapan abu sisa karhutla.

Warga Desa Punggur Kecil, Zainab, mengeluhkan kondisi air parit yang sudah terasa asin sehingga berdampak langsung pada aktivitas sanitasi harian.

Karang Taruna dan HMI Kalbar Salurkan Bantuan Air Bersih Bagi Warga Terdampak Karhutla
Baca Juga

Karang Taruna dan HMI Kalbar Salurkan Bantuan Air Bersih Bagi Warga Terdampak Karhutla

“Biasanya kami menggunakan tampungan air hujan untuk nyuci dan masak, tapi kalau sudah habis ya beli galon. Tapi musim sekarang mau beli galon susah. Kalau buat MCK kami pakai air parit depan rumah, itupun airnya sudah asin karena surut jadi mandi badan terasa lengket, kalau buat nyuci piring bahan stainless jadi berkarat,” keluh Zainab.

Kondisi kelangkaan air galon isi ulang juga menghantam ekonomi rumah tangga, lantaran warga terpaksa membeli air minum kemasan bermerek dengan harga yang melonjak.

Ketua Kelompok Generasi Hijau Muda Punggur Kecil, Nazela, menyoroti beban finansial harian masyarakat dan mendesak pemerintah agar menetapkan mitigasi kekeringan sebagai prioritas program.

“Kami biasanya membeli air galon isi ulang, tapi ketersediaan galon jarang dan terbatas, sehingga untuk minum kami biasanya membeli air kemasan bermerek yang tentunya jauh lebih mahal daripada air galon, dalam sehari bisa mengeluarkan kurang lebih 20 ribu hanya untuk air,” ungkap Nazela.

Pelindo Pontianak Salurkan Logistik untuk Relawan Karhutla Muhammadiyah Kalbar
Baca Juga

Pelindo Pontianak Salurkan Logistik untuk Relawan Karhutla Muhammadiyah Kalbar

Ia menyampaikan apresiasinya atas intervensi relawan Gemawan yang dinilai sangat membantu kebutuhan air minum warga selama beberapa hari ke depan.

“Kami sangat merasa terbantu dengan adanya air bersih yang diberikan secara gratis, kami merasa senang karena dalam beberapa hari stok air minum kami aman. Harapan kami agar ada kepedulian pemerintah terhadap ketersediaan air bersih, karena air adalah sumber penghidupan terbesar, ketersediaan air mestinya masuk ke dalam prioritas program pemerintah,” tegasnya.

Sementara itu, di Desa Punggur Besar, Ketua Kelompok Perempuan Maju Bersama, Samunah, menyebut kawasan Parit Sarim kerap luput dari jangkuan bantuan air bersih resmi pemerintah.

“Ada beberapa kali bantuan air bersih masuk ke desa ini, cuma pembagiannya jauh yang tinggal di sekitar sini sering ndak kebagian. Buat minum jadinya kami beli mineral gelas itu pun langka nyarinya,” ujar Samunah.

Ia pun menyambut baik bantuan pasokan air konsumsi gratis dari relawan Gemawan.

“Alhamdulillah senang dengan bantuan air konsumsi ini, karena tampungan air hujan sudah lama habis, mau ngantri galon pun susah, parit depan rumah juga sudah kering jadi airnya asin bahkan buat cuci sayur jak ndak bisa,” tambahnya.

Karhutla Kalbar: Distribusi Peralatan Pemadam Dipercepat sampai ke Petugas Lapangan
Baca Juga

Karhutla Kalbar: Distribusi Peralatan Pemadam Dipercepat sampai ke Petugas Lapangan

Dampak kemarau panjang juga melumpuhkan sektor pertanian desa akibat ketiadaan air irigasi, yang berujung pada tertundanya masa tanam serta naiknya harga bahan pangan lokal.

Anggota Kelompok Perempuan Maju Bersama Desa Punggur Besar, Saniyeh, menceritakan kondisi lahan pertanian warga yang kering total.

“Selama kemarau, pinang tidak berbuah dan tidak ada tanda-tanda berbunga. Kami juga belum bisa menanam padi karena tanah dan parit di sekitar sawah kering total. Cabai dan sayur-mayur mati. Karena tanaman mati, kami harus membeli sayur dengan harga yang melonjak jauh dari biasanya. Semoga hujan bisa segera turun,” harap Saniyeh.

(Hendrawan)