Pemerintah Iran secara resmi menjatuhkan ultimatum berisi tiga syarat mutlak kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui mediator Qatar pada Minggu (20/9/2026), sebagai jalan keluar diplomasi untuk mengakhiri perang antara kedua negara.
Di tengah upaya perundingan ini, Teheran menegaskan kesiapan militernya untuk memperluas target serangan ke armada laut dan aset komersial AS di Timur Tengah jika tawaran tersebut ditolak.
Manuver diplomasi ini dikonfirmasi langsung oleh Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei.
Ia menyatakan bahwa Teheran menuntut penghentian operasi militer secara komprehensif, pencabutan pembekuan aset finansial, hingga pembukaan blokade maritim yang selama ini mencekik ekonomi Iran.
Baca Juga Iran Tutup Kembali Selat Hormuz Hanya Beberapa Jam Setelah Dibuka, Tuding AS Ingkari Janji
“Kami tetap berhubungan dengan mediator Qatar, yang telah menyampaikan syarat-syarat kami kepada Washington dengan tujuan mengakhiri perang. Kami menunggu jawaban Presiden Donald Trump,” kata Rezaei, mengutip Al Jazeera, Minggu (20/9/2026).
Rezaei menyatakan bahwa Iran memberikan syarat berupa penghentian peperangan di semua front, pembebasan dana milik mereka yang dibekukan, serta penghentian blokade jalur laut.
“Syarat kami adalah mengakhiri perang di semua front, membebaskan dana kami yang dibekukan, dan mengakhiri blokade laut.” ujarnya.
Alih-alih melunak pascaserangan mematikan AS dan Israel akhir Februari lalu yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Iran justru menaikkan daya tawarnya.
Baca Juga Armada Nyamuk Iran Sita Dua Kapal di Selat Hormuz Usai Trump Umumkan Gencatan Senjata
Rezaei menggarisbawahi bahwa AS secara strategis berkepentingan untuk menerima syarat ini, seraya menepis ancaman balasan dari Washington.
“Ini adalah kepentingan Washington untuk menerima persyaratan ini. Ancaman Trump tidak akan mencapai hasil apa pun. Kami siap menghadapi perang yang menentukan,” tegasnya menantang.
Jika negosiasi yang difasilitasi Qatar dan Pakistan ini berujung buntu, militer Iran mengklaim telah mengubah taktik tempurnya. Teheran kini mengunci armada laut AS yang beroperasi di wilayah Teluk Oman hingga Laut Arab.
Rezaei bahkan mengungkap bahwa pihaknya baru saja melakukan uji coba rudal antikapal berhulu ledak mutakhir di dekat pangkalan maupun kapal induk AS.
Eskalasi peperangan ke depan tidak lagi hanya menyasar instalasi militer semata.
Rezaei memperingatkan bahwa infrastruktur ekonomi, kepentingan komersial, hingga perusahaan-perusahaan AS yang beroperasi secara lokal akan menjadi target sah jika agresi berlanjut.
Baca Juga Pria Bersenjata Serbu Gala Media, Trump Dievakuasi dari Panggung
Menepis anggapan bahwa konflik mereda menjelang perundingan, Rezaei bersikap realistis mengenai situasi di lapangan dan menjanjikan adanya akselerasi menuju penyelesaian.
“Dalam arti praktis, perang masih berlangsung, Kami bekerja berdasarkan strategi baru untuk mengakhiri perang ini sesegera mungkin.” ungkapnya.
Dari kacamata Washington, tuntutan Iran ini ditanggapi dengan skeptisisme tajam.
Mantan Direktur Urusan Semenanjung Arab Pentagon, David Des Roches, menilai pemerintahan Trump kemungkinan besar belum memandang tawaran tersebut sebagai itikad perundingan yang berimbang.
“Sekilas, mungkin tidak serius; mereka akan melihatnya sebagai penyerahan diri,” kata Roches.
Kendati demikian, Roches menyoroti adanya anomali strategis dari sikap Teheran yang justru menjadi sinyal kompromi terselubung.
Ia menganalisis bahwa Iran diam-diam telah menanggalkan tuntutan ganti rugi (reparasi) perang yang sebelumnya selalu menjadi harga mati dalam setiap tuntutan diplomatik mereka pascakonflik Februari lalu.
Baca Juga Diplomasi Buntu, Trump Batalkan Kunjungan Utusan AS ke Pakistan
“Hal pertama yang Anda perhatikan adalah dia telah menghapus tuntutan reparasi, yang sebelumnya pernah diajukan oleh Iran,” pungkas Roches.
(Hendrawan)