Armada nyamuk IRGC kapal cepat bersenjata berukuran kecil yang menjadi andalan Iran di Selat Hormuz tampak merapat ke lambung kapal tanker besar dengan personel yang siap menaiki target, April 2026. (Dok. Ist)
Nusantarapost.news, Timur Tengah – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyita dua kapal asing yang melintas di Selat Hormuz pada Rabu (22/4/2026), menurut laporan kantor berita semiresmi Iran, Tasnim News Agency.
Insiden ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata antara Washington dan Tehran secara tidak terbatas.
Tasnim melaporkan bahwa kedua kapal yang disita tersebut dinilai “beroperasi tanpa izin, berulang kali melanggar regulasi, dan memanipulasi sistem navigasi dengan cara yang membahayakan keselamatan pelayaran.” Kedua kapal kini berada di perairan teritorial Iran.
Yang menarik dari insiden ini adalah cara Iran melaksanakan penyitaan bukan menggunakan kapal perang besar, melainkan dengan armada kapal cepat bersenjata atau yang dikenal luas sebagai “armada nyamuk”(swarm boats).
Penyitaan kedua kapal asing tersebut dilakukan oleh gugus kapal speedboat IRGC yang bergerak cepat, gesit, dan sulit dideteksi radar kapal komersial besar. Strategi armada nyamuk ini sejatinya telah lama menjadi andalan IRGC di perairan Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Puluhan hingga ratusan kapal cepat berukuran kecil dioperasikan secara bersamaan, mengepung target dari berbagai arah sebelum kapal sasaran sempat bereaksi.
Meski tidak sebanding secara teknologi dengan kapal perang konvensional, kecepatan, jumlah, dan kemampuan manuver armada ini menjadikannya ancaman yang sangat nyata di perairan sempit seperti Selat Hormuz yang lebarnya hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempitnya.
Para analis militer menyebut taktik ini sebagai salah satu bentuk perang asimetris paling efektif di lingkungan maritim memungkinkan kekuatan yang lebih kecil untuk merepotkan bahkan melumpuhkan kapal-kapal yang jauh lebih besar dan lebih canggih.
Iran telah mengembangkan dan menyempurnakan doktrin ini selama puluhan tahun sebagai respons atas dominasi angkatan laut konvensional AS di kawasan.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt merespons dengan nada meremehkan dalam wawancara di Fox News, menegaskan bahwa penyitaan tersebut tidak melanggar kesepakatan gencatan senjata sekaligus mengolok kemampuan militer Iran yang tersisa.
“Ini bukan kapal Amerika. Ini bukan kapal Israel. Ini dua kapal internasional. Dan bagi media Amerika yang mencoba melebih-lebihkan ini untuk mendiskreditkan presiden Iran telah jatuh dari memiliki angkatan laut paling mematikan di Timur Tengah menjadi bertindak seperti sekumpulan bajak laut,” tegasnya.
Pernyataan Leavitt secara tidak langsung mengakui bahwa angkatan laut konvensional Iran memang telah sangat terdegradasi akibat serangan AS dan Israel sejak Februari.
Namun ironisnya, justru armada nyamuk inilah yang kini menjadi senjata Iran yang paling efektif dan sulit dinetralkan sepenuhnya bahkan oleh kekuatan militer terbesar sekalipun.
Insiden ini semakin menegaskan betapa pentingnya status Selat Hormuz dalam menentukan jalannya perundingan damai. Jalur pelayaran strategis ini merupakan lintasan bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Lalu lintas di selat tersebut sempat terhenti hampir sepenuhnya dalam beberapa pekan setelah Iran menutup jalur itu menyusul serangan AS dan Israel pada Februari.
Gedung Putih kemudian membalas dengan memberlakukan blokade atas pengiriman Iran di selat tersebut, dan sebuah kesepakatan untuk membuka kembali jalur air itu pun gagal pekan lalu setelah Trump mempertahankan blokade.
Dalam pernyataannya di Truth Social pada Selasa, Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata yang semula dijadwalkan berakhir Rabu ini, namun sekaligus menegaskan bahwa blokade militer AS di Selat Hormuz akan tetap dipertahankan.
“Saya telah mengarahkan Militer kami untuk melanjutkan Blokade dan dalam segala hal lainnya tetap siap siaga, dan karena itu akan memperpanjang Gencatan Senjata hingga proposal mereka disampaikan dan diskusi diselesaikan, dengan cara apa pun,” tulis Trump di Truth Social.
Iran sendiri telah memberi sinyal bahwa pihaknya tidak akan mengirim tim negosiator untuk melanjutkan pembicaraan dengan AS di Pakistan hingga blokade tersebut dicabut.
Dengan armada nyamuk yang masih aktif beroperasi dan blokade AS yang tetap berlaku, nasib perundingan damai kedua negara kini berada di ujung tanduk.