Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

BKSDA Perluas Lanskap Konservasi Kalbar Lewat Area Preservasi Aturan Baru

Hendrawan
Hendrawan
Rabu, 30 September 2026 · 22:092 menit baca
BKSDA Perluas Lanskap Konservasi Kalbar Lewat Area Preservasi Aturan Baru
BKSDA Kalbar gagas skema Area Preservasi lintas lanskap berdasarkan UU 32/2024; Kepala Balai Murlan Dameria Pane respons tiga krisis bumi dan iklim. (Dok. Hendrawan/Nusantara Post)

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat merespons krisis iklim dan penyusutan keanekaragaman hayati dengan menginisiasi pembentukan ‘Area Preservasi’ di luar kawasan hutan konservasi konvensional. Langkah strategis ini merujuk pada implementasi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 yang menggeser pendekatan perlindungan dari sekadar berbasis kawasan menjadi pengelolaan multisektor berbasis lanskap terpadu.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menjabarkan bahwa satwa liar dan entitas keanekaragaman hayati tidak hanya berhabitat di dalam Kawasan Suaka Alam (KSA) atau Kawasan Pelestarian Alam (KPA) Aula Bungur Fahutan Untan dan secara hybrid,  Rabu (30/9/2026).. 

“Konsepnya sudah bergeser ke lanskap. Tidak saja yang dilindungi adalah kawasan konservasi atau kawasan hutan, tapi juga area di luar itu,” jelas Murlan. 

Transisi regulasi dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 ke regulasi baru ini menegaskan bahwa tanggung jawab konservasi kini diperluas ke semua pihak, bukan sekadar pemerintah pusat. Murlan menyoroti bahwa urgensi perluasan lanskap ini dipicu oleh tiga krisis bumi yang saling berkaitan secara global maupun lokal, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi. 

Karhutla Gambut Kalbar Picu Krisis Emisi Ribuan Ton Karbon Per Hektare
Baca Juga

Karhutla Gambut Kalbar Picu Krisis Emisi Ribuan Ton Karbon Per Hektare

“Kita sudah merasakan sendiri suhu udara yang semakin panas, pola hujan tidak menentu, frekuensi cuaca yang ekstrem, kekeringan panjang, hingga mencairnya salju abadi di Puncak Jaya di Papua. Nah, ini adalah indikator atau tanda-tanda kita sudah memasuki perubahan iklim,” jabarnya dengan tajam di hadapan para peserta.

Lebih jauh, ia merinci bahwa area preservasi tidak memandang batasan kawasan secara kaku. Implementasinya dapat diterapkan pada Hutan Lindung (HL), Hutan Produksi (HP), maupun Areal Penggunaan Lain (APL). Ekosistem bernilai konservasi tinggi (HCV), taman kehati, sempadan sungai, hutan mangrove, bentang gambut, hingga koridor satwa liar kini dibidik sebagai area preservasi strategis di Kalimantan Barat.

“Tujuannya adalah bagaimana mempertahankan kondisi ekologis untuk mendukung kehidupan dan keberlanjutan ekosistem,” tegas Murlan. 

Ia juga menambahkan bahwa area ini didesain untuk menjadi solusi strategis yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus mempertahankan spesies di habitat alaminya.

Orang Utan Sindi yang Terjebak Karhutla di Kotawaringin Timur di Evakuasi ke Habitat Alami
Baca Juga

Orang Utan Sindi yang Terjebak Karhutla di Kotawaringin Timur di Evakuasi ke Habitat Alami

Gagasan preservasi multisektor ini selaras dengan tujuan utama Seminar Nasional FORTAN (Forestry Tanjungpura Network) yang diselenggarakan oleh Fakultas Kehutanan Untan. Seminar hybrid ini secara khusus dirancang sebagai forum ilmiah untuk merumuskan inovasi teknologi, manajemen cerdas hasil hutan, serta kolaborasi antar lembaga demi menyeimbangkan aspek kelestarian ekologi dengan nilai ekonomi masyarakat.

(Hendrawan)