Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak merilis pembaruan data tingkat salinitas air baku pada Jumat, (24/7/2026). Peningkatan kadar garam akibat intrusi air laut ke Sungai Kapuas tersebut memengaruhi kualitas air bersih yang didistribusikan kepada pelanggan di sejumlah wilayah.
Berdasarkan pemantauan laboratorium melalui sistem SIMPRODIS, Instalasi Pengolahan Air (IPA) Nipah Kuning mencatatkan tingkat salinitas tertinggi dibandingkan instalasi lainnya. Kadar garam di IPA Nipah Kuning tercatat sebesar 1.126 mg/l pada pukul 08.00 WIB, kemudian meningkat menjadi 1.390 mg/l pada pukul 12.30 WIB. Fluktuasi tingkat salinitas juga terjadi pada beberapa instalasi pengolahan air bersih lainnya di Kota Pontianak.
Di IPA Selat Panjang, kadar garam melonjak dari 27 mg/l pada pagi hari menjadi 605 mg/l pada pembaruan siang hari. Sebaliknya, IPA Imam Bonjol (IMBON) mencatatkan penurunan kadar garam dari 116 mg/l pada pukul 08.00 WIB menjadi 74 mg/l pada pukul 12.30 WIB. Sementara itu, kadar salinitas di IPA Parit Mayor (PARMA) relatif stabil di angka 33 mg/l pada pagi hari dan 40 mg/l pada siang hari.
Perumda Tirta Khatulistiwa menyatakan pemantauan kondisi sumber air baku Sungai Kapuas akan terus dilakukan secara berkala guna mengambil penyesuaian langkah operasional. Selama periode fluktuasi salinitas ini, para pelanggan diimbau untuk menghemat penggunaan air serta membatasi pemanfaatan air PDAM hanya untuk kebutuhan MCK (mandi, cuci, kakus) dan tidak mengonsumsinya hingga kondisi kualitas air baku kembali normal.
