Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Selatan

Sungai Tabanio Menyusut Akibat Kemarau, Pasokan Air Bersih Bajuin Terancam Berhenti

Roska Putra
Roska Putra
Senin, 7 September 2026 · 11:142 menit baca
Sungai Tabanio Menyusut Akibat Kemarau, Pasokan Air Bersih Bajuin Terancam Berhenti
Debit Sungai Tabanio menyusut drastis akibat kemarau, pasokan air bersih SPAM IKK Bajuin di Kabupaten Tanah Laut terancam dihentikan total. (Dok. Ist)

Pasokan air bersih bagi masyarakat di Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanah Laut, berada dalam ancaman serius menyusul penurunan debit air Sungai Tabanio yang menjadi sumber air baku utama instalasi pengolahan, Minggu, (6/9/2026).

Penyusutan volume air permukaan tersebut dipicu kemarau panjang tahun 2026 yang mengakibatkan penurunan drastis pada tangkapan air dan tinggi muka air sungai.

Potensi penghentian operasional Sistem Penyediaan Air Minum Ibu Kota Kecamatan (SPAM IKK) Bajuin apabila hujan tidak kunjung turun dipaparkan oleh Direktur PT Air Minum Berkah Banua (AMBB), Eko Sugiharto.

Armada Terbatas dan Waktu Isi 3 Jam, PDAM Pontianak Ungkap Kendala Distribusi Air Bersih
Baca Juga

Armada Terbatas dan Waktu Isi 3 Jam, PDAM Pontianak Ungkap Kendala Distribusi Air Bersih

“Pada akhir bulan Juli 2026, PT AMBB menyampaikan apabila kemarau berlanjut sampai sekitar akhir September tanpa hujan yang berarti, terdapat risiko operasional SPAM IKK Bajuin harus dihentikan karena debit Sungai Tabanio terus menurun,” katanya, Minggu, (6/9/2026).

Fasilitas pengolahan air bersih tersebut tercatat memiliki kapasitas desain produksi normal mencapai 40 liter per detik, namun kapasitas tersebut kini terancam tidak dapat dimaksimalkan akibat terbatasnya daya sedot pipa hisap (intake).

Korelasi langsung antara penurunan debit aliran sungai dengan kemerosotan kapasitas produksi air minum diuraikan lebih lanjut dalam keterangannya.

“Ketika debit sungai turun, tidak seluruh kapasitas tersebut dapat dipertahankan karena kemampuan pengambilan air baku dari sungai ikut berkurang. Dengan demikian, semakin panjang musim kemarau, semakin besar risiko penurunan produksi,” jelasnya.

Mantan Gubernur Kalsel Rudy Ariffin Tutup Usia pada Umur 73 Tahun
Baca Juga

Mantan Gubernur Kalsel Rudy Ariffin Tutup Usia pada Umur 73 Tahun

Selain defisit kuantitas air baku, kondisi musim kemarau turut memicu penurunan kualitas air baku secara tajam akibat lonjakan partikel lumpur dan kekeruhan di aliran sungai.

Beban pemrosesan air minum yang kian berat akibat tingginya angka turbiditas dijelaskan secara mendalam oleh pihak pengelola.

“Ini berarti beban pengolahan air baku juga meningkat,” ungkapnya.

Data teknis pengujian laboratorium pada akhir Juli 2026 mendapati tingkat kekeruhan Sungai Tabanio melonjak tajam menyentuh angka 1.000 Nephelometric Turbidity Unit (NTU), sedangkan kolam penampung embung di sekitar lokasi instalasi mencatatkan tingkat kekeruhan di kisaran 300 hingga 500 NTU, sehingga membutuhkan penanganan kimiawi dan filtrasi yang lebih intensif sebelum didistribusikan ke pelanggan.

(Roska)