Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Tengah

Terjebak Karhutla di Kotim, Seekor Tenggiling Ditemukan Mati Terpanggang

Roska Putra
Roska Putra
Senin, 7 September 2026 · 10:452 menit baca
Terjebak Karhutla di Kotim, Seekor Tenggiling Ditemukan Mati Terpanggang
Seekor tenggiling ditemukan mati hangus terbakar di rimba Terantang Hilir, Kecamatan Seranau, Kotawaringin Timur akibat kebakaran hutan dan lahan. (Dok. Ist)

Seekor tenggiling ditemukan mati dalam kondisi tubuh hangus terbakar di tengah rimba Desa Terantang Hilir, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Minggu, (6/9/2026).

Bangkai satwa liar yang dilindungi tersebut ditemukan oleh tim relawan Komunitas Pencinta Reptil Sampit pada Sabtu (5/9/2026) setelah menyisir area hutan terbakar selama satu jam perjalanan dari dermaga. Kondisi fisik bangkai satwa yang terkepung kobaran api di pedalaman rimba dipaparkan oleh Anggota Komunitas Pencinta Reptil Sampit, Harie.

“Kami menemukan tenggiling di dalam rimba daerah Terantang Hilir, masuk dari dermaga sekitar satu jam. Kondisinya sudah mati kebakar, terkurung,” kata Harie, Minggu, (6/9/2026).

Penyisiran darurat yang semula bertujuan untuk menyelamatkan satwa liar dari kepungan api karhutla diuraikan lebih lanjut dalam keterangannya.

Meski Terendah di Kalimantan, Luas Karhutla Kaltara Tembus 2.639 Hektare
Baca Juga

Meski Terendah di Kalimantan, Luas Karhutla Kaltara Tembus 2.639 Hektare

“Namun, pencarian pertama justru berujung pada kabar duka. Tenggiling tersebut ditemukan sudah dalam kondisi tidak bernyawa,” kata Harie.

Kawasan hutan di Desa Terantang Hilir selama ini dikenal warga lokal sebagai habitat alami satwa langka pemakan semut tersebut, yang kerap terlihat melintas di sekitar perkebunan. Karakter vegetasi dan keterbiasaan interaksi satwa dengan kawasan sekitar diterangkan oleh tim relawan di lapangan.

“Memang di sana habitat tenggiling. Keterangan warga, tenggiling berkeliaran di kebun mereka,” ujar Harie.

Evakuasi dan tindak lanjut penanganan bangkai satwa tersebut dilaporkan kepada pemerintah setempat guna proses pemakaman. Proses penyerahan bangkai satwa liar tersebut dibenarkan oleh Camat Seranau, Dwi Kushendro.

Zero Karhutla 2027: Jangan Tunggu Asap Datang
Baca Juga

Zero Karhutla 2027: Jangan Tunggu Asap Datang

“Saat ditemukan kondisi sudah mati, bangkai tenggiling tersebut dibawa oleh pencinta reptil,” kata Dwi Kushendro.

Potensi adanya satwa liar lain yang bernasib serupa akibat kebakaran hutan diyakini masih tinggi, meski proses evakuasi terhambat lebatnya vegetasi dan jalur rimba yang terisolasi. Tantangan medan pencarian di tengah luasnya lahan terbakar diakui oleh tim penyelamat.

“Masih ada sepertinya yang lainnya, tapi medan di sana sulit, jauh di dalam rimba masuk-masuk,” tuturnya.

Ancaman kepunahan keanekaragaman hayati dan satwa endemik Kalimantan akibat maraknya karhutla ditegaskan sebagai pengingat kritis bagi kelestarian alam. Dampak destruktif kebakaran terhadap ekosistem hutan ditekankan kembali sebagai penutup pemaparan.

“Bagi para pencinta satwa, temuan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap hektare hutan yang terbakar menyimpan kemungkinan adanya kehidupan yang ikut hilang,” ucap Dwi Kushendro.

(Roska)