Jum, 31/07/26 · 09.06.54
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Kualitas Udara Pontianak Membaik ke Level Sedang, PM2.5 Masih Mendominasi

Hendrawan
Hendrawan
Kamis, 30 Juli 2026 · 12:221 menit baca
Kualitas Udara Pontianak Membaik ke Level Sedang, PM2.5 Masih Mendominasi
Arus lalu lintas kendaraan di jalan protokol Kota Pontianak saat pemantauan kualitas udara. (Dok. Diskominfo Pontianak)

Kualitas udara di wilayah Pontianak Tenggara, Kota Pontianak, perlahan membaik dan kembali masuk pada kategori ‘Sedang’ berdasarkan pembaruan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang tercatat di angka 70 pada pukul 09.00 WIB, Kamis (30/7/2026).

Capaian tersebut menunjukkan penurunan signifikan dari tingkat ‘Tidak Sehat’ pada hari sebelumnya. Kendati demikian, partikel debu halus Particulate Matter 2.5 (PM2.5) masih bertahan sebagai polutan yang paling mendominasi ruang napas warga.

Di tengah musim rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), fluktuasi polusi udara di Pontianak tergolong dinamis dan dapat berubah dengan cepat. Kondisi cuaca pagi ini terpantau terik dengan suhu udara mencapai 30 derajat Celsius dan tingkat kelembapan 80 persen.

Dominasi PM2.5 Melonjak, Kualitas Udara Pontianak Resmi Masuk Zona ‘Tidak Sehat’
Baca Juga

Dominasi PM2.5 Melonjak, Kualitas Udara Pontianak Resmi Masuk Zona ‘Tidak Sehat’

Selain PM2.5 yang berada di angka 70, indikator polutan lainnya terpantau berada di batas aman. Parameter Sulfur Dioksida (SO2) tercatat di angka 56 (Sedang), sedangkan indikator PM10 (32), Nitrogen Dioksida (11), dan Karbon Monoksida (3) berada stabil di zona hijau atau kategori ‘Baik’.

Seiring melandainya angka ISPU, otoritas pemantau lingkungan memastikan bahwa kondisi udara pagi ini aman untuk aktivitas masyarakat di luar ruangan.

“Tingkat kualitas udara masih dapat diterima pada Kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan,” tulis rilis keterangan resmi yang tertera pada dasbor pemantauan aplikasi ISPUnet.

Meskipun demikian, status ‘Sedang’ belum sepenuhnya menjamin udara Pontianak terbebas dari ancaman kabut asap lantaran sangat bergantung pada pergerakan arah angin.

Mengingat karakter PM2.5 yang mikroskopis dan tidak kasatmata, masyarakat khususnya kelompok rentan seperti lansia dan penderita asma diimbau untuk tidak hanya mengandalkan pantauan visual, melainkan rutin mengecek indikator kualitas udara secara real-time melalui aplikasi digital.

(Hendrawan)