Kam, 11/06/26 · 08.50.54
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Penduduk Tembus 693 Ribu Jiwa, Pemkot Pontianak Soroti Kemacetan hingga Krisis Air Bersih

Hendrawan
Hendrawan
Kamis, 11 Juni 2026 · 14:302 menit baca
Penduduk Tembus 693 Ribu Jiwa, Pemkot Pontianak Soroti Kemacetan hingga Krisis Air Bersih
Wali Kota Edi Rusdi Kamtono membeberkan tantangan Kota Pontianak mulai dari kemacetan parah, pengelolaan limbah, hingga ancaman krisis air akibat kemarau. (Dok. Prokopim Pontianak)

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, memaparkan sejumlah tantangan krusial perkotaan yang dihadapi Kota Pontianak seiring dengan lonjakan jumlah penduduk yang kini telah menyentuh angka sekitar 693 ribu jiwa berdasarkan data e-KTP. Hal tersebut disampaikannya dalam forum diskusi Coffee Morning bersama lintas elemen di Istana Kadriah, Kamis (11/6/2026).

Edi menjelaskan, sebagai ibu kota provinsi sekaligus pusat perdagangan dan pendidikan, Pontianak menghadapi konsekuensi pertumbuhan yang kompleks. Masalah utama yang mendesak saat ini meliputi pengelolaan sampah, degradasi lingkungan, hingga kepadatan lalu lintas akibat jumlah kendaraan yang telah melampaui total populasi penduduk.

 “Kita perlu sinergisitas dan kolaborasi untuk mengatasi persoalan-persoalan yang setiap hari kita hadapi bersama,” ujar Edi Rusdi Kamtono.

Untuk mereduksi dampak tersebut, Pemkot Pontianak mengklaim tengah memprioritaskan peningkatan kualitas infrastruktur makro. Beberapa proyek yang berjalan di antaranya pembangunan jalan lingkungan, jaringan drainase, kelanjutan kawasan waterfront, hingga proyek Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik yang didanai oleh pemerintah pusat.

Pasca-Pengungkapan Kasus Narkotika, Pemandangan Senyap Selimuti Win One Pontianak
Baca Juga

Pasca-Pengungkapan Kasus Narkotika, Pemandangan Senyap Selimuti Win One Pontianak

Namun, beban jalan raya di dalam kota dinilai kian berat akibat tingginya arus distribusi barang yang keluar masuk melalui sektor pelabuhan.

 “Karena itu, diperlukan dukungan berbagai pihak untuk mendorong pengembangan infrastruktur strategis yang dapat mengurangi beban lalu lintas di dalam kota,” papar Edi.

Ancaman Kemarau Panjang dan Intrusi Air Laut

Selain problem infrastruktur, Edi memberikan peringatan dini terkait potensi ancaman musim kemarau panjang yang diproyeksikan melanda wilayah Kalbar mulai Juli hingga September mendatang. Fenomena alam ini berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta intrusi air laut yang dapat merusak kualitas sumber air baku perkotaan.

Puluhan Warga Pontianak Utara Diduga Keracunan Makanan, Pemkot Gratiskan Biaya Pengobatan
Baca Juga

Puluhan Warga Pontianak Utara Diduga Keracunan Makanan, Pemkot Gratiskan Biaya Pengobatan

Kendati dibayangi ancaman lingkungan, Edi memaparkan bahwa indikator pembangunan makro Kota Pontianak masih mencatatkan tren positif.

 “Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Pontianak telah mencapai 80,82, angka kemiskinan berada di kisaran 4 persen, dan pertumbuhan ekonomi tetap berada di atas 5 persen,” kata Edi.

Kesultanan Dorong Musyawarah Redam Konflik Sosial

Sultan Pontianak yang juga merupakan Anggota DPD RI, Syarif Melvin Alkadrie, menyatakan bahwa forum lintas sektoral di istana ini sengaja dibentuk sebagai wadah komunikasi taktis untuk memediasi berbagai masalah sosial dan keamanan.

“Melalui coffee morning ini, kita ingin membangun sinergi antara Kesultanan Pontianak dan pemerintah daerah dalam mengatasi persoalan sosial, penataan lingkungan, infrastruktur, serta menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat,” kata Syarif Melvin Alkadrie.

Syarif Melvin menegaskan bahwa penyelesaian gesekan sosial di tengah masyarakat yang heterogen harus mengedepankan pendekatan musyawarah guna memutus potensi konflik horizontal.

Wali Kota Pontianak Minta Kompetisi Tenis Meja Pelajar Digelar Berkelanjutan
Baca Juga

Wali Kota Pontianak Minta Kompetisi Tenis Meja Pelajar Digelar Berkelanjutan

“Kedekatan antara tokoh masyarakat, tokoh adat, aparat keamanan dan pemerintah menjadi modal penting dalam meredam potensi konflik serta menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Kalimantan Barat,” jelasnya.

Ia juga mengimbau warga kota untuk tetap mempertahankan prinsip persatuan inklusif tanpa memandang latar belakang suku maupun agama, merujuk pada nilai sejarah yang diletakkan oleh pendiri Kota Pontianak, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie.

 “Nilai tersebut tetap relevan dalam menjaga harmoni sosial di Kota Pontianak dan Kalimantan Barat,” pungkas Syarif Melvin.

(Hendrawan)