Memasuki pertengahan bulan krusial Agustus, warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat, rupanya masih belum bisa menghirup oksigen yang murni dan sepenuhnya terbebas dari residu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pada Rabu (12/8/2026) pagi, kualitas udara perkotaan tercatat masih tertahan di kategori ‘Sedang’ dengan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) menyentuh angka 74 pada pukul 08.00 WIB. Kondisi ini menegaskan bahwa ancaman kabut asap di wilayah Kalbar belum sepenuhnya usai.
Berdasarkan pemantauan real-time dari stasiun Pontianak Tenggara melalui sistem ISPUnet, partikel debu halus beracun atau Particulate Matter 2.5 (PM2.5) konsisten menjadi parameter paling kritis yang mencemari ruang napas warga. Angka 74 yang bertengger di dasbor pemantauan ini bukan berarti langit Pontianak telah aman total dari kepungan asap karhutla, melainkan menjadi bukti nyata bahwa polutan mikroskopis tersebut masih melayang stabil di lapisan bawah atmosfer.
Faktor cuaca pagi hari turut mengambil peran dalam menjebak polutan ini di area permukiman. Data mencatat suhu udara berada di angka 28 derajat Celcius dengan tingkat kelembapan yang cukup tinggi mencapai 78 persen dan tekanan udara 1.011 mBar. Tingginya persentase kelembapan di pagi hari ini secara alamiah mengikat partikel PM2.5, mencegahnya terurai atau terbawa angin, sehingga sangat mudah terhirup oleh warga yang sedang memulai aktivitas berangkat kerja atau sekolah.
Sementara PM2.5 mendominasi di level 74 (kategori Sedang), parameter pencemar udara lainnya dilaporkan masih mampu bertahan di zona hijau atau kategori ‘Baik’. Rincian data polutan penyerta lainnya meliputi partikulat PM10 di angka 45, Sulfur Dioksida (SO2) di angka 44, Ozon (O3) di angka 14, Karbon Monoksida (CO) di angka 11, dan Nitrogen Dioksida (NO2) di angka 8.
