Jum, 31/07/26 · 12.56.54
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Pontianak Berada Dalam Status ‘Sedang’ Polusi PM2.5 Merayap Naik ke Angka 85 Pagi Ini

Hendrawan
Hendrawan
Jumat, 31 Juli 2026 · 08:262 menit baca
Pontianak Berada Dalam Status ‘Sedang’ Polusi PM2.5 Merayap Naik ke Angka 85 Pagi Ini
Kualitas udara di Pontianak Tenggara merangkak naik ke angka 85 ISPU (kategori Sedang) akibat lonjakan PM2.5. Warga diimbau pantau data real-time. (Dok. Nusantara Post)

Kualitas udara di wilayah Pontianak Tenggara, Kota Pontianak, kembali merangkak naik menyentuh angka 85 pada Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dengan kategori ‘Sedang’ pada Jumat (31/7/2026) pukul 08.00 WIB. Eskalasi polutan mikroskopis Particulate Matter 2.5 (PM2.5) di pagi hari ini menjadi alarm bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum usai.

Berdasarkan pemantauan data real-time melalui sistem ISPUnet pagi ini, tren polusi menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan sore hari sebelumnya yang sempat melandai di angka 65. PM2.5 secara konsisten masih menduduki posisi sebagai parameter paling kritis yang mencemari atmosfer perkotaan.

Selain PM2.5, peningkatan juga terlihat pada parameter Particulate Matter 10 (PM10) yang kini menyentuh batas ambang sedang di angka 50, disusul Sulfur Dioksida (SO2) di angka 57. Sementara itu, parameter gas lainnya seperti Karbon Monoksida (4), Ozon (3), dan Nitrogen Dioksida (11) masih tertahan kokoh di zona hijau atau kategori ‘Baik’.

Peningkatan angka pencemaran ini beriringan dengan kondisi cuaca pagi yang terpantau cukup hangat. Suhu udara tercatat mencapai 30 derajat Celcius dengan tingkat kelembapan 80 persen dan tekanan udara 1.009 mBar.

Merayap Naik ke Angka 92, Udara Pontianak Sore Ini Nyaris Sentuh Ambang ‘Tidak Sehat’ 
Baca Juga

Merayap Naik ke Angka 92, Udara Pontianak Sore Ini Nyaris Sentuh Ambang ‘Tidak Sehat’ 

Kondisi langit pagi yang tampak cerah ini bukan jaminan bahwa udara telah bersih dari partikel beracun, melainkan kerap menyimpan polutan tak kasatmata sisa pembakaran yang terbawa oleh angin malam. Meski angka ISPU merangkak naik, sistem peringatan dini otoritas lingkungan hidup memastikan bahwa kualitas udara saat ini belum memasuki fase darurat kesehatan.

“Tingkat kualitas udara masih dapat diterima pada kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan,” tulis keterangan resmi yang dirilis melalui dasbor aplikasi ISPUnet pada Jumat (31/7) pagi.

Kendati status udara dinyatakan ‘masih dapat diterima’, hal ini tidak boleh diartikan sebagai tanda bagi warga untuk bebas beraktivitas tanpa perlindungan, melainkan sebuah peringatan transisi. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita asma tetap berada dalam bayang-bayang risiko.

Dinamika udara yang sangat fluktuatif ini menegaskan pentingnya akses teknologi dalam mitigasi bencana. Masyarakat didorong untuk aktif memeriksa indikator udara secara seketika (real-time) lewat layar ponsel pintar masing-masing. Dengan memantau pergerakan data dari menit ke menit melalui aplikasi, warga dapat mengambil keputusan cepat secara mandiri seperti kapan harus memakai masker saat keluar rumah sebelum kabut asap benar-benar menebal dan membahayakan saluran pernapasan.

(Hendrawan)