Rab, 29/07/26 · 09.28.41
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Timur

Populasi Pesut Mahakam Menyisa 62 Ekor, Krisis Ekologi Ancam Satwa Endemik Kaltim

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Rabu, 29 Juli 2026 · 13:501 menit baca
Populasi Pesut Mahakam Menyisa 62 Ekor, Krisis Ekologi Ancam Satwa Endemik Kaltim
Populasi pesut Mahakam di Kalimantan Timur kini tersisa 62 ekor. Krisis ekologi, jaring rengge, dan lalu lintas kapal industri ancam keberlangsungan satwa endemik. (Dok. Ist)

Populasi pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) di Kalimantan Timur berada dalam kondisi kritis akibat ancaman krisis ekologi dan degradasi habitat perairan sungai.

Data Kementerian Lingkungan Hidup mencatat jumlah mamalia air tawar endemik tersebut kini hanya tersisa 62 ekor di sepanjang perairan Sungai Mahakam.

Tingginya angka kematian mamalia langka ini dipicu oleh aktivitas penangkapan ikan menggunakan jaring rengge, lalu lintas kapal ponton batu bara, hingga pencemaran perairan akibat aktivitas industri.

“Masyarakat Kutai percaya dengan kisah dulu, memang mamalia ini dianggap keramat. Jadi warga di Hulu Sungai Mahakam juga menjaga mereka,” ujar mantan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim Sunandar Trigunajasa, Rabu, (29/7/2026).

Harganas ke-33, Pemerintah Tekankan Pentingnya Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak
Baca Juga

Harganas ke-33, Pemerintah Tekankan Pentingnya Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak

Pencegahan kepunahan dilakukan melalui penetapan status perlindungan penuh berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 dan status critically endangered oleh IUCN.

“Secara umum, kondisi kesehatannya cukup baik yang terlihat dari kantung pernapasannya yang bergerak aktif. Namun, bagian mata sebelah kanan sudah rusak atau bulbus oculi tidak ada, meski respons mata kirinya masih tajam. Saat ini satwa masih dalam tahap observasi dan selama proses rehabilitasi akan kita pantau lebih lanjut,” kata dokter hewan Sealife Indonesia Maulid Dio Suhendro saat menjelaskan pola rehabilitasi satwa langka air tawar.

Tekanan kebisingan suara kapal dan pendangkalan sungai terus ditekan melalui pengawasan ketat alat tangkap nelayan guna memulihkan populasi mamalia sungai tersebut.

(Dayank Ana)