BNPB rilis pemutakhiran situasi bencana nasional 2 Oktober 2026; tangani karhutla di Maluku dan Jawa Tengah, kekeringan air di Kendal, serta angin kencang di Nias. (Dok. BPBD Kabupaten Nias)
Laporan data akumulasi per Kamis (1/10/2026) hingga Jumat (2/10/2026) tersebut mencatat kejadian kebakaran vegetasi melanda sejumlah provinsi di luar Jawa dan Pulau Jawa.
Di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, kobaran api membakar sekitar 40 hektare vegetasi kering di Desa Saalas dan Desa Silohan sejak Selasa (29/9/2026) sebelum akhirnya dipadamkan oleh tim gabungan BPBD.
Di Maluku Utara, kebakaran vegetasi seluas sembilan hektare melanda kawasan pohon bambu dan sagu di Desa Kayasa dan Desa Gosale, Kota Tidore Kepulauan, pada Kamis (1/10/2026) pukul 14.30 WIT, di mana operasi pemadaman titik api masih terus berlangsung.
Sementara itu di Pulau Jawa, rentetan karhutla membakar satu hektare rumpun bambu dan lahan jati di Lasem, Kabupaten Rembang; empat hektare serasah di kawasan hutan Giriwono dan Selogiri, Kabupaten Wonogiri; serta dua hektare lahan jagung di Karangrejo, Kabupaten Grobogan, yang seluruhnya berhasil dipadamkan oleh jajaran BPBD setempat.
Selain kebakaran lahan, krisis air bersih akibat kemarau panjang berdampak langsung pada permukiman warga.
Kekeringan sumur di Desa Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat, memaksa pendistribusian 8.000 liter air bagi 80 kepala keluarga.
(Dok. BPBD Kabupaten Kendal)
Kondisi serupa melanda Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, yang berdampak pada 1.327 kepala keluarga atau 4.242 jiwa di Kecamatan Singorojo dan Ringinarum, dengan total pasokan bantuan air bersih yang telah disalurkan mencapai 900.000 liter.
Pada sektor cuaca ekstrem lainnya, terjangan angin kencang di Desa Hiligeho Sogawu, Kabupaten Nias, Sumatera Utara, pada Selasa (29/9/2026) merusak sembilan unit rumah serta sejumlah perahu nelayan milik sembilan kepala keluarga.
Guna mengendalikan sebaran titik api pada skala yang lebih luas, BNPB bersama tim terpadu terus mengintensifkan operasi darat, operasi udara, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan pada Dasarian I Oktober 2026 (1–10 Oktober 2026) di sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan masih berada pada kategori rendah hingga menengah.
Menyikapi kondisi atmosfer tersebut, masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan, menghemat penggunaan air bersih, serta segera melaporkan kemunculan titik api kepada otoritas kebencanaan daerah demi mencegah perluasan kebakaran.