Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Nasional

Hadapi Disrupsi Teknologi dan Korupsi, Forum Generasi Bertutur Soroti Arah Bangsa

Rudi Agus Haryanto
Rudi Agus Haryanto
Sabtu, 5 September 2026 · 13:272 menit baca
Hadapi Disrupsi Teknologi dan Korupsi, Forum Generasi Bertutur Soroti Arah Bangsa
Forum Generasi Indonesia Bertutur soroti ancaman human disruption, state capture corruption, dan banjir informasi hoaks di ruang digital nasional. (Dok. HO/TNP)

Tokoh pers, pegiat antikorupsi, akademisi, dan perwakilan pemerintah membedah tantangan multidimensi mulai dari disrupsi teknologi, kejahatan pembajakan negara (state capture corruption), hingga degradasi ruang publik dalam forum Generasi Indonesia Bertutur di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat, (4/9/2026).

Fenomena ruang publik digital yang dinilai rentan mendegradasi nalar publik menjadi luapan emosi massa dipaparkan oleh Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat.

“Banjir informasi bisa membawa lumpur. Ruang digital dapat dipenuhi hoaks, sensasi, kemarahan, kebencian, berbagai bentuk noisy. Tetapi saya percaya pada akhirnya masyarakat akan mencari air bersih,” kata Komaruddin Hidayat, Jumat, (4/9/2026).

Karakter kecerdasan artifisial yang nirperasaan disoroti lebih lanjut guna mendorong generasi muda menciptakan terobosan substantif di ruang digital.

Menemukan Manusia Indonesia di Tengah Modernitas
Baca Juga

Menemukan Manusia Indonesia di Tengah Modernitas

“Jangan puas menjadi content creator. Jadilah idea creator,” ujarnya.

Persoalan tata kelola kekuasaan diulas dari sisi pembajakan kebijakan oleh mantan Ketua KPK, Abraham Samad, yang menilai penegakan hukum nasional masih rapuh di hadapan kepentingan oligarki.

“Ternyata Indonesia sampai detik ini belum mampu melawan bahkan memberantas korupsi yang sifatnya state capture corruption,” kata Abraham Samad.

Ketiadaan independensi lembaga peradilan dinilai menjadi penghambat mendasar penuntasan kasus-kasus korupsi berskala besar.

Perluas Akses Pasar Daring, Diskominfo Pontianak Dorong UMKM Manfaatkan AI
Baca Juga

Perluas Akses Pasar Daring, Diskominfo Pontianak Dorong UMKM Manfaatkan AI

“Jangan pernah berharap pemberantasan korupsi bisa ditangani oleh aparat penegak hukum yang abuse of power,” ujarnya.

Penguatan ketahanan identitas nasional dari sudut pandang nilai peradaban diuraikan oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, yang menempatkan kebudayaan sebagai fondasi bangsa.

“Budaya ini bukan cost center. Tapi budaya itu adalah investment, investasi,” ujar Fadli Zon.

Pergeseran mendalam pada psikologis dan tingkah laku manusia akibat hegemoni algoritma digital dijelaskan oleh pakar perubahan, Rhenald Kasali.

“Human disruptions adalah suatu keadaan ketika teknologi bukan hanya merubah bisnis, bukan hanya merubah kegiatan-kegiatan, tapi merubah manusianya, aktornya,” kata Rhenald Kasali.

Runtuhnya hegemoni institusi pendidikan formal dalam distribusi ilmu pengetahuan di era konektivitas tanpa batas dibeberkan dalam pandangannya.

Jaring Kreator Lokal, 16 Tim Bersaing Rancang Logo Hari Jadi ke-255 Pontianak
Baca Juga

Jaring Kreator Lokal, 16 Tim Bersaing Rancang Logo Hari Jadi ke-255 Pontianak

“Monopoli pengetahuan bukan lagi berada di tangan kampus atau di sekolah. Sekarang pengetahuan ada di mana-mana,” ujar Rhenald.

Konsolidasi nalar publik, penataan sistem peradilan pidana, serta kesadaran literasi kritis dinilai mendesak diperkuat agar bangsa tetap berdaulat memegang kendali arah perubahan masa depan.

(Rudi)