Min, 16/08/26 · 19.42.54
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Perspektif

Menemukan Manusia Indonesia di Tengah Modernitas

Editor
Editor
Minggu, 16 Agustus 2026 · 14:434 menit baca
Menemukan Manusia Indonesia di Tengah Modernitas
Kemampuan berpikir mendalam kian langka di era digital. Pendekatan etnopedagogi dan nalar lokal hadir sebagai jembatan pembentuk nalar kritis manusia modern. (Dok. Ist)

Ada sesuatu yang perlahan hilang dari manusia Indonesia modern: bukan informasi, bukan teknologi, bahkan bukan kemampuan berbicara, melainkan kemampuan berpikir secara mendalam. Kita hidup pada zaman ketika pengetahuan tersedia dalam hitungan detik, tetapi perenungan justru semakin langka. Jempol bergerak cepat, pikiran berjalan pendek. Manusia memperoleh semakin banyak informasi, tetapi belum tentu semakin mampu memahami kehidupan.

Persoalan tersebut perlu dibaca melalui tiga unsur manusia, yaitu nurani, fisik, dan pikiran. Fisik memungkinkan manusia bertindak, nurani memberikan arah moral, sedangkan pikiran menentukan bagaimana manusia memahami, mempertanyakan, dan mengambil keputusan. Ketiganya semestinya tumbuh bersama. Ketika pikiran terdegradasi, manusia tetap dapat bergerak dan berbicara, tetapi kehilangan kemampuan untuk menentukan ke mana harus berjalan.

René Descartes meletakkan salah satu fondasi penting filsafat modern melalui cogito ergo sum, “aku berpikir, maka aku ada”. Pemikiran Descartes menempatkan aktivitas berpikir sebagai dasar keberadaan manusia yang sadar. Keraguan bukan sekadar ketidakpastian, melainkan jalan untuk menemukan kepastian. Manusia tidak menerima sesuatu begitu saja, tetapi mengujinya melalui rasio.

Indonesia memiliki persoalan yang berbeda. Kita tidak kekurangan kemampuan berpikir, tetapi semakin sering kehilangan ruang untuk menggunakan pikiran secara mandiri. Pikiran mudah diserahkan kepada mesin pencari, algoritma, tren, opini mayoritas, bahkan kecerdasan buatan. Manusia akhirnya tidak lagi bertanya, “Mengapa?” sebelum bertanya, “Apa jawabannya?”

Di Rumah Tempayan dan Ingatan: Belajar Peradaban dari Yakobus Kumis
Baca Juga

Di Rumah Tempayan dan Ingatan: Belajar Peradaban dari Yakobus Kumis

Data PISA 2022 memperlihatkan persoalan yang patut direnungkan. Skor rata-rata Indonesia berada pada 366 untuk matematika, 359 untuk membaca, dan 383 untuk sains, jauh di bawah rata-rata OECD yang masing-masing mencapai 472, 476, dan 485. Hanya 18 persen siswa Indonesia mencapai tingkat kecakapan minimum matematika, 25 persen dalam membaca, dan 34 persen dalam sains. Data tersebut tidak dapat menjadi bukti tunggal bahwa nalar bangsa sedang rusak. Angka tersebut lebih tepat dibaca sebagai sinyal bahwa kemampuan memahami informasi, memecahkan persoalan, dan menggunakan pengetahuan dalam situasi baru masih menghadapi tantangan serius.

Nalar lokal dan etnopedagogi menjadi penting dalam situasi tersebut. Nalar lokal bukan sekadar kumpulan tradisi masa lalu, melainkan cara masyarakat memahami hubungan antara manusia, alam, sesama, dan nilai kehidupan. Gotong royong, musyawarah, tepa selira, memayu hayuning bawana, serta berbagai pengetahuan masyarakat adat menunjukkan bahwa proses berpikir tidak selalu berarti memisahkan manusia dari lingkungannya.

Etnopedagogi dapat menjadi jembatan antara rasionalitas modern dan kebijaksanaan lokal. Pengetahuan tentang tanaman obat, pola bercocok tanam, pengelolaan air, arsitektur tradisional, ritual, permainan rakyat, hingga filosofi kesenian menyimpan proses berpikir yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat. Pengetahuan tersebut tidak semestinya diperlakukan sebagai folklor belaka. Pengetahuan lokal perlu diuji, dikritisi, dikembangkan, lalu dipertemukan dengan ilmu pengetahuan modern.

Pendidikan yang menempatkan pengetahuan lokal di pinggir berisiko melahirkan manusia yang pandai menghafal konsep global, tetapi gagap membaca persoalan di lingkungan sendiri. Kondisi tersebut semakin kompleks ketika budaya digital membentuk ruang gema. Algoritma cenderung menyajikan informasi yang sesuai dengan preferensi pengguna, bukan selalu informasi yang menantang untuk dipikirkan. Manusia akhirnya dapat hidup dalam sangkar informasi yang dibangunnya sendiri.

Tembus 186 Ribu Merchant, Pemkot Pontianak Dorong Digitalisasi UMKM Lewat QRIS
Baca Juga

Tembus 186 Ribu Merchant, Pemkot Pontianak Dorong Digitalisasi UMKM Lewat QRIS

Gagasan Descartes kembali relevan dalam kondisi tersebut. Keraguan bukan musuh pengetahuan. Keraguan merupakan mekanisme untuk membebaskan pikiran. Manusia modern perlu memiliki keberanian untuk mengatakan, “Saya belum tahu.” Dari pengakuan tersebut lahir rasa ingin tahu, pemeriksaan bukti, dialog, dan pencarian kebenaran.

Indonesia membutuhkan manusia modern yang tidak tercerabut dari akar budayanya, tetapi juga tidak terperangkap dalam romantisme masa lalu. Nurani harus menjadi kompas, fisik menjadi pelaksana, dan pikiran menjadi penjelajah. Ketiganya harus bekerja secara bersamaan. Etnopedagogi tidak sekadar memasukkan budaya lokal ke dalam buku pelajaran. Etnopedagogi merupakan usaha mengembalikan pengalaman hidup masyarakat sebagai sumber pembelajaran. Anak tidak hanya belajar ekosistem melalui gambar, tetapi juga memahami hubungan manusia dan alam melalui hutan, sawah, sungai, serta tradisi masyarakatnya sendiri.

Manusia Indonesia modern tidak seharusnya hanya cepat beradaptasi dengan teknologi. Ia harus mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir. Kecerdasan buatan boleh membantu manusia, tetapi tidak boleh menggantikan seluruh proses berpikir manusia. Ancaman terbesar bukan ketika mesin menjadi semakin cerdas, melainkan ketika manusia berhenti mempertanyakan jawaban yang diberikan mesin.

Indonesia memiliki kekayaan budaya untuk membangun manusia yang utuh. Tantangannya adalah mengubah warisan lokal dari sekadar objek kebanggaan menjadi sumber pengetahuan dan pembentukan nalar. Descartes mengingatkan bahwa manusia menemukan keberadaannya melalui aktivitas berpikir. Nalar lokal mengingatkan bahwa manusia tidak pernah berpikir sendirian; manusia tumbuh bersama masyarakat, alam, sejarah, dan nilai.

Manusia Indonesia masa depan harus mampu berdiri di antara keduanya: rasional tanpa tercerabut, modern tanpa kehilangan nurani, dan berteknologi tanpa membiarkan pikirannya tersangkar. Kemajuan bangsa pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang dimiliki, tetapi tentang seberapa merdeka manusia di dalamnya menggunakan pikirannya.

Penulis: Muhammad Zahrudin Afnan
Guru Biologi SMA Nation Star Academy Surabaya

*Artikel ini merupakan ruang opini publik. Seluruh isi materi, sudut pandang, dan kebenaran data dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak mencerminkan sikap, posisi, maupun opini resmi dari redaksi.