Sab, 15/08/26 · 19.02.44
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Nasional

Lambang Garuda di Pendopo Gubernur Aceh Dicopot Paksa, Publik Medsos Terbelah

Hendrawan
Hendrawan
Minggu, 16 Agustus 2026 · 00:422 menit baca
Lambang Garuda di Pendopo Gubernur Aceh Dicopot Paksa, Publik Medsos Terbelah
Aksi pencopotan lambang Garuda di Pendopo Gubernur Aceh viral di media sosial, memicu perdebatan panas netizen terkait kedaulatan dan ketimpangan daerah. (Dok. Ist)

Simbol negara berupa lambang Burung Garuda dicopot secara paksa dari kompleks Pendopo Gubernur Aceh saat aksi massa berlangsung di Kota Banda Aceh, Sabtu, (15/8/2026).

Pencopotan lambang negara tersebut terjadi di tengah eskalasi situasi di ibu kota provinsi, di mana massa aksi turut menurunkan bendera dan umbul-umbul Merah Putih di sepanjang jalur pergerakan menuju Gedung DPR Aceh, serta mengibarkan bendera Bintang Bulan di kawasan Masjid Raya Baiturrahman.

Rekaman video pencopotan lambang Burung Garuda yang beredar luas di jagat maya langsung memicu diskursus panas serta reaksi yang terbelah di kalangan warganet media sosial X dan Instagram.

Salah satu akun warganet menilai aksi penyerangan simbol negara sebagai wujud ketidakpuasan mendalam masyarakat daerah yang belum merasakan pemerataan pembangunan.

Banjir Rendam 100 Rumah Warga di Aceh Barat Daya, Air Belum Surut
Baca Juga

Banjir Rendam 100 Rumah Warga di Aceh Barat Daya, Air Belum Surut

“Kalau belum ngerasain, belum paham, belum kena sendiri, dan elunya masih hidup nikmat di lokasi prioritas nasional, keterlaluan lu kalo nyebut orang begini keterlaluan,” tulis akun Kaneki @WhutWillyYuDu.

Kritik terhadap komitmen penegakan nilai-nilai dasar konstitusi oleh pemangku kebijakan turut disuarakan oleh pengguna lainnya.

“Keterlaluan? wkwkwkw, sama aja ahhh, pemerintah, pejabat, dan para pemilik kepentingan, nganggep uud dan isi pancasila sebatas bualan dan omong kosong aja, sebatas tulisan biasa bekas peninggalan org terdahulu, dan hiasan dinding aja,” tulis akun 666 @Doelbasito.

Kekecewaan terhadap tata kelola pemerintahan yang dipisahkan dari rasa cinta terhadap tanah air juga diutarakan warganet lain.

Kemarau Picu Karhutla dan Kekeringan di Sejumlah Wilayah, BNPB Perketat Mitigasi
Baca Juga

Kemarau Picu Karhutla dan Kekeringan di Sejumlah Wilayah, BNPB Perketat Mitigasi

“Saya cinta tanah air cinta dengan alamnya di setiap daerah tapi tidak dengan pemerintahnya,” tulis akun bli dwin (@BliDwin98484).

Di sisi lain, kecaman keras terhadap tindakan vandalisme dan pelecehan lambang kedaulatan negara dilontarkan oleh warganet yang menuntut aparat menindak tegas massa aksi.

“Prilakunya rendahan begitu yah masarakatnya… Nnt di kerasin TNI mewek .. Minta merdeka.. Mending usir aja,” tulis akun saweri gading @gajahserenang.

Sementara itu, akun lain membeberkan deretan persoalan daerah mulai dari pemulihan bencana hingga korupsi sebagai pemicu amarah warga.

“Lebih keterlaluan itu orang kena musibah berbulan2 terlantar, deforestasi masif dibiarkan, perlemahan pengawasan pemerintahan yg membuat korupsi merajalela di berbagai bidang + masih sempat2nya bangun kopdes ditengah wilayah yg masih belum pulih,” tulis akun Gilang Akbar @gilangdakbar1

Amarah tak hanya keluar dari jemari satu orang, sambung menyambung menuju pendapat lainnya.

Korban Meninggal Gempa M 7,7 NTT Melonjak Jadi 47 Orang, Ratusan Rumah Hancur
Baca Juga

Korban Meninggal Gempa M 7,7 NTT Melonjak Jadi 47 Orang, Ratusan Rumah Hancur

“Jika sudah marah kata dan kelakuan semua yg keluar sampah. Maklum rakyat sedang marah!!! Merdekalah diatas tanah masing-masing dari pada di pimpinan oleh para bajingan-bajingan yg menyengsarakan rakyat nya!!!” tulis akun sayyedgrow @AddiKusman971.

Aparat keamanan yang semula terkonsentrasi di Simpang Kodim dilaporkan telah bergegas mengikuti arah konsentrasi massa guna mengantisipasi eskalasi bentrokan lebih luas di pusat kota.

(Hendrawan)