Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Budaya

Wagub Kalbar Luncurkan Buku Hubungan Etnis Dayak dan Melayu di Rumah Melayu Pontianak

Achmad Fatoni
Achmad Fatoni
Kamis, 29 Oktober 2026 · 09:362 menit baca
Wagub Kalbar Luncurkan Buku Hubungan Etnis Dayak dan Melayu di Rumah Melayu Pontianak
Wagub Kalbar Krisantus Kurniawan luncurkan buku Dayak-Melayu: Satu Darah, Dua Dunia guna memperkuat persaudaraan dan keharmonisan daerah di Pontianak. (Dok. Adpim Kalbar)

Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, meluncurkan karya akademis kolaboratif bertajuk Dayak-Melayu: Satu Darah, Dua Dunia di Rumah Melayu Pontianak pada Rabu, (28/10/2026).

Momentum peluncuran yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda tersebut dimanfaatkan untuk menegaskan pentingnya penguatan persaudaraan lintas etnis dan pemahaman akar sejarah di Kalimantan Barat.

Apresiasi atas terbitnya buku yang melibatkan 18 penulis lintas disiplin keilmuan disampaikan oleh Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan.

“Sudah lama saya menantikan adanya buku kajian akademis, baik secara sosiologis, antropologis, maupun historis, yang menunjukkan bahwa asal-usul kita memiliki kesamaan. Perbedaan yang ada terkadang lebih disebabkan oleh persepsi dan cara kita melihat identitas masing-masing,” ujar Krisantus Kurniawan Rabu, (28/10/2026).

Gubernur Kalbar Temui Mahasiswa dan Tanggapi Sejumlah Isu Pembangunan Daerah
Baca Juga

Gubernur Kalbar Temui Mahasiswa dan Tanggapi Sejumlah Isu Pembangunan Daerah

Rekam jejak hubungan sosial serta perjalanan sejarah pembentukan identitas kebudayaan kedua suku dipaparkan lebih lanjut olehnya.

“Kalau kita pelajari sejarahnya, Dayak dan Melayu memiliki kedekatan yang sangat kuat. Dalam perjalanan sejarah, sebagian masyarakat Dayak juga kemudian mengidentifikasi diri sebagai Melayu setelah memeluk agama Islam. Karena itu, pesan ‘Satu Darah’ dalam buku ini sangat relevan untuk mengingatkan kita tentang persaudaraan,” jelas Krisantus Kurniawan.

Refleksi atas nilai-nilai kultural dan kearifan lokal Borneo ditekankan agar menjadi instrumen perajut keharmonisan masyarakat.

“Buku ini bukan hanya sekadar tulisan, melainkan cermin yang memantulkan jati diri kita bersama. Dayak dan Melayu bukanlah dua dunia yang sepenuhnya terpisah, tetapi memiliki ikatan sejarah dan persaudaraan yang kuat. Akarnya sama, ibarat daun pada satu tanaman, bentuknya bisa berbeda, tetapi tetap tumbuh dari akar yang sama,” ungkapnya.

Gubernur Kalbar Ajak Generasi Muda Aktif Bangun Daerah pada Peringatan Sumpah Pemuda Ke-98
Baca Juga

Gubernur Kalbar Ajak Generasi Muda Aktif Bangun Daerah pada Peringatan Sumpah Pemuda Ke-98

Peran strategis kalangan akademisi dalam menghasilkan riset kebudayaan yang berdampak langsung bagi kebijakan publik dan toleransi daerah turut didorong oleh pihak pemerintah provinsi.

“Saya berharap akademisi di Kalimantan Barat terus menggali akar budaya lokal, menyalakan dialog lintas etnis, dan memberikan masukan konkret bagi kebijakan daerah. Ilmu jangan hanya berhenti di ruang kelas, tetapi harus hadir sebagai solusi nyata bagi masyarakat. Mari jadikan akademisi sebagai motor pembaruan yang menanamkan nilai toleransi dan cinta tanah air kepada generasi muda,” tegas Krisantus Kurniawan.

Pesan persatuan yang selaras dengan nilai-nilai Sumpah Pemuda disampaikan sebelum menutup sambutannya.

“Sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda, ketika para pemuda berikrar untuk bertumpah darah yang satu, berbangsa yang satu, dan menjunjung bahasa persatuan, kita di Kalimantan Barat juga harus memperkuat ikrar persaudaraan. Dayak dan Melayu adalah bagian dari satu keluarga besar yang harus terus menjaga persatuan dan membangun Kalimantan Barat bersama-sama,” pungkasnya.

Kegiatan peluncuran buku tersebut dihadiri oleh Ketua Umum Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalbar Chairil Effendy, Gubernur Kalbar Periode 2018–2023 Sutarmidji, Rektor Universitas Tanjungpura Garuda Wiko, serta jajaran tokoh adat dan masyarakat.

(Tony)